Loading Posts...

Hening terasa sekali ketika saya membuka kelambu yang sudah semalaman melindungi tubuh ini dari gigitan nyamuk yang berkeliaran di hutan Kalimantan ini. Cecuitan dari suara-suara aneh membuat saya penasaran. Setelah mengamati sekitar sungai, akhirnya saya tahu bahwa suara aneh yang saya dengar tadi berasal dari serombongan bekantan, sang monyet ekor panjang dan berhidung mancung asal Kalimantan. Sementara di depan kapal klotok yang saya tiduri semalaman ini terhampar hutan Kalimantan yang indah dan damai.

Kalau saja tidak ada kapal yang lewat, yang membuat klotok yang saya naiki agak goyang, mungkin saya lupa kalau sedang berada di atas klotok yang sedang membawa saya mengarungi sungai, untuk masuk semakin dalam di hutan Kalimantan ini. Secangkir kopi hitam masih mengepulkan asap serta aroma harum yang membuat indra penciumam saya bekerja keras untuk mentransfernya ke otak guna memacu keluarnya ide-ide kreatif.

Trekking ditemani pemandu di Tanjung Puting/Sutiknyo

Rini Mariani, seorang wanita muda asal Kalimantan, terus saja mengoceh tentang banyak hal. Dari yang berhubungan dengan seluk beluk Taman Nasional Tanjung Puting hingga curhatan tentang keinginannya untuk belajar menulis.

“Saya itu pengen menulis kayak Mas gitu, biar orang makin banyak tahu tentang orang utan. Kalau mereka tahu pasti mereka akan sayang dan menjaganya,” ungkapnya di sebuah petang yang damai.

Rini menjadi guide saya selama perjalanan di Taman Nasional Tanjung Puting ini. Sistertour adalah usaha yang dirintisnya di Tanjung Puting. Selain kami berdua juga ada March, Raphael, dan Ian. Mereka adalah para blogger, fotografer, dan videografer yang diundang oleh kementerian pariwisata untuk meng-explore beberapa tempat yang ada di nusantara ini.

BACA JUGA  Menelusuri Nadi Kali Pancur

Ian sangat antusias dengan beragam jenis burung yang ia temui selama perjalanan. Sementara Raphael, travel blogger asal Mexico, membuat perut saya tak pernah istirahat karena lelucon-lelucon yang ia buat. Sementara March, pemuda asal Jerman, sibuk dengan GoPro-nya, karena dia adalah salah satu GoPro ambassador. March lebih kalem. Tapi ternyata ia kalem karena sedang menahan demam yang menyerang.

Pada saat makan siang, kami dibuat kebingungan karena dia minum obat flu dengan cola kalengan. Saya dan Reni, yang dari kecil dikasih tahu bahwa meminum obat itu hendaklah dengan air putih atau pisang, kelimpungan takut dia kenapa-kenapa setelah meminum obatnya dengan cola. Tapi dia malah terkekeh melihat muka kami yang khawatir.

Bercengkerama di meja makan perahu klotok/Sutiknyo

Petang menjelang. Jejeran meja ditata rapi di dermaga untuk makan malam kami. Bersama saya ada 25 travel blogger dan influencer dari Amerika, Eropa, dan Afrika Selatan yang bersama-sama menjelajahi keindahan dan keanekaragaman budaya yang ada di beberapa tempat di negeri ini. Sementara itu untuk menemani mereka ada empat travel blogger dari Indonesia, salah satunya adalah saya.

Setelah acara makan malam selesai, klotok yang saya tumpangi menjauh dari klotok-klotok lain dalam rombongan karena kami ingin mencari tempat yang lebih sepi untuk bermalam. Dan kami juga sudah sepakat untuk berangkat masuk ke dalam hutan jauh lebih pagi karena satu klotok ini memang tergila-gila fotografi semua.

Suasana lokasi “feeding” ketika orang utan yang ditunggu-tunggu belum datang/Sutiknyo

Bunyi mesin klotok memecah keheningan malam hutan Taman Nasional Tanjung Puting ini. Setelah menemukan tempat yang tenang untuk bermalam, kami pun memilih untuk beristirahat. Jam di pergelangan saya baru menunjukkan pukul 20.00, tapi kantuk membuat saya ingin merebahkan diri di kasur plus kelambu yang sudah disiapkan untuk saya tiduri.

BACA JUGA  Terjebak di Poso

Dalam perjalanan masuk ke Taman Nasional Tanjung Puting ini, saya singgah ke tiga lokasi rehabilitasi orang utan. Binatang yang memiliki gen hampir mirip dengan manusia ini sudah hampir punah, sebab hutan tempat mereka mencari makan dan hidup berkembang biak sudah hampir habis.

Hati saya tersayat ketika Reni bercerita tentang kebakaran hutan yang menimpa Taman Nasional Tanjung Puting beberapa tahun silam. Hektaran hutan terbakar. Beberapa orang utan juga terpanggang di bara api yang berkobar itu. Semoga hal-hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.

Saya dibawa trekking masuk ke dalam hutan, ke tempat biasanya para ranger menyiapkan makanan buat para orang utan. Namun ingatlah untuk tetap menjaga jarak sejauh lima meter dari mereka untuk melindungi mereka dari penyakit-penyakit menular yang dibawa oleh manusia.

Orang utan yang turun malu-malu karena diamati oleh kerumunan orang/Sutiknyo

Sebuah pekikan khas terdengar dari mulut sang ranger. Itu adalah pekikan khusus untuk memanggil orang utan ke lokasi makan. Tak butuh waktu lama untuk memanggil mereka. Satu per satu datang dengan muka lugu. Nah, biasanya di masing-masing camp ini ada seekor raja orang utan yang berkuasa.

“Namanya Doyok, Mas. Dia adalah raja di camp ini,” Reni menjelaskan kepada saya ketika si Doyok datang dan langsung menguasai feeding area itu. Sungguh lucu tingkah polah mereka ketika makan. Tak beda jauh dengan manusia. Ada juga yang serakah mengambil banyak sekali pisang sambil sembunyi-sembunyi dari penglihatan sang raja.

Malam belum begitu larut. Adzan Isya dari ponsel saya baru saja berkumandang. Namun semua klotok sudah berjajar rapi di Pelabuhan Wisata Kumai. Dan acara Explore Taman Nasional Tanjung Puting selesai sudah. Sebuah pelajaran berharga kembali saya dapatkan tentang bagaimana selayaknya manusia bersikap terhadap alam, agar semua mahluk yang ada di muka bumi ini hidup berdampingan dan keberlangsungan semuanya tetap terjaga. Dan malam itu saya bersyukur sebab akhirnya bisa melihat langsung keberadaan orang utan di habitat aslinya, bukan di kebun binatang.

BACA JUGA  Memancing Ikan Makarel di Amed

Artikel ini ditulis oleh Sutiknyo, dan sebelumnya dipublikasikan di blog Lostpacker.com.

1
Belum KesanaBelum Kesana
Ingin KesanaIngin Kesana
Sudah Kesana!Sudah Kesana!
Voted Thanks!
Sutiknyo

Sutiknyo

lostpacker.com

Leave a Comment

Loading Posts...