Kabupaten Banyuwangi

Kawah Bulan Sabit, Tetangga Kawah Ijen

Posted in 05 Oct 2016 by Erferdik Mustika

AnkaranaRenva_KawahBulanSabit_KawahIjen

Beginilah penampakan Kawah Bulan Sabit Ijen.

Pasti kamu sudah tahu objek wisata yang satu ini? Benar sekali. Ini adalah Kawah Ijen, kawah gunung berapi yang tergenangi air warna toska. Kawah Ijen terletak di perbatasan Bondowoso dan Banyuwangi. Berada pada ketinggian 2300 mdpl, kawasan ini memiliki udara yang sangat sejuk. Kawah Ijen adalah maskot wisata Banyuwangi, salah satu dari Segitiga Berlian Banyuwangi selain Pantai Plengkung dan Pantai Konservasi Penyu Sukamade. Jadi tak heran jika fasilitas wisata di Kawah Ijen lumayan lengkap.

Fasilitas yang disediakan di sini antara lain bumi perkemahan yang luas, cottage, kamar mandi umum, lapangan parkir yang luas, serta warung-warung makan yang harga makanannya lumayan ramah di kantung. Nah, kalau urusan perut, salah satu yang bikin kangen itu adalah warung paling ujung milik Bu Im. Tempatnya asyik buat nongkrong, apalagi harganya juga terjangkau, makanannya enak, dan pemilik warungnya sangat ramah.

Namun kali ini bukan cerita soal Kawah Ijen yang akan saya sampaikan. Sudah terlalu mainstream. Ada yang lain yang lebih menarik, yang lebih ciamik dibanding danau toska Kawah Ijen. Cerita ini adalah tentang kawah yang bagian tengahnya berbentuk bulan sabit. Rasa penasaran saya sebenarnya mulai muncul ketika mengamati citra Kawah Ijen via Google Earth beberapa waktu yang lalu. Mata saya tertarik pada sesuatu yang unik di sebelah utara Kawah Ijen. Ada dua kawah di sana, yang satu kosong sementara yang lainnya mirip bulan sabit. Kemudian nama tempat itu saya googling. Hasil pencarian saya tidak mengecewakan. Kawah unik itu ternyata adalah kawah dari Gunung Merapi Banyuwangi yang berada tepat di utara Kawah Ijen. Informasi itu dikuatkan oleh sebuah blog yang menceritakan pendakian Gunung Merapi Banyuwangi dari Situbondo, atau via sisi utara Gunung Merapi.

Warung Bu Im

Sebelum mulai trekking, makan dulu di Warung Bu Im.

Camping Ground Kawah Ijen

Pemandangan di bumi perkemahan Kawah Ijen.

Akhirnya saya berkesempatan main ke Ijen untuk menuntaskan rasa penasaran. Di sana saya mencoba bertanya kepada penambang belerang dan masyarakat setempat tentang keberadaan kawah tersebut. Jawaban positif saya dapatkan. Ternyata kawah tersebut bisa diakses dari Kawah Ijen langsung. Kata mereka, dari bibir Kawah Ijen ke Puncak Merapi perlu waktu sekitar dua jam perjalanan. Wah, rasa-rasanya saya semakin bersemangat. Akhirnya saya tekadkan hati untuk mengunjungi kawah tersebut.

Perjalanan dimulai dengan mendaki Kawah Ijen. Menurut informasi yang saya dapat, dari bibir kawah kita harus berjalan menyusur ke kanan sekitar 300 meter. Dari sana akan terlihat gunung yang memiliki tebing—itulah Gunung Merapi. Setelah itu kita mesti melambung ke bukit lain. Dari bibir Kawah Ijen kita akan turun ke bekas aliran sungai di sisi utara, kemudian menanjak lagi ke punggungan Gunung Merapi. Di sini tidak ada jalur, yang ada hanyalah main kira-kira. (Perjalanan ini sangat tidak disarankan bagi teman-teman yang belum kenal dengan medan di sana.) Baru setelah kita berada di punggungan Gunung Merapi akan tampak bekas jalur pendakian. Yang sangat disayangkan, jalur tersebut sangat labil dan tertutup oleh semak. Jadi, saya hanya berpatokan pada lintasan antarbukit yang telah dijelaskan beberapa orang penambang belerang tadi. Dari bekas sungai, kita akan melewati jalur yang sangat curam penuh rintangan berupa semak dan pohon tumbang yang melintang. Akhirnya setelah tiga jam menyibak jalur yang 80 persen di antaranya tertutup, kami sampai juga di puncak Gunung Merapi.
 

Jalur Pendakian

Jalur pendakian menuju Kawah Bulan Sabit.

Kawah Ijen di ambil saat di tengah pendakian

Foto Kawah Ijen yang diambil ketika pendakian.

Dari puncak Gunung Merapi, panorama luar biasa. Benar-benar luar biasa, deh, pokoknya! Jika cuaca cerah, kamu bisa melihat Gunung Raung. Dari sana Kawah Ijen juga akan tampak dari sudut yang berbeda—sangat menawan sekali. Dan, tentu saja, Kawah Bulan Sabit yang juga kelihatan dari puncak.

Puncak Gunung Merapi punya dua kawah yang berdampingan, yang satu tengahnya kosong dan hanya berisi air jika musim hujan tiba, sementara yang kedua memiliki gundukan bukit yang bentuknya mirip bulan sabit. Kata orang, di sana ada sebuah lokasi yang menarik yang disebut “Pintu Angin.” Letaknya di bibir Kawah Bulan Sabit bagian timur. Konon katanya dari sana, dari 2800 mdpl, kamu bisa melihat panorama Kota Banyuwangi dan siluet Pulau Bali. Sayangnya waktu ke sana saya belum sempat membuktikan omongan penduduk mengenai Pintu Angin, sebab untuk menuju ke sana kita harus kembali mencari jalur yang pasti disembunyikan semak. Lagipula saat itu saya tidak punya banyak waktu. Jadi begitu sampai Puncak Merapi saya cuma keliling sebentar untuk ambil dokumentasi setelah itu langsung turun.

Pengalaman yang tak terlupakan memang. Hanya diawali oleh iseng-iseng mengintip gambarnya via Google Earth, saya akhirnya bisa mengambil gambar asli Kawah Bulan Sabit. Tapi teman-teman yang mau pergi ke sana barangkali perlu tahu bahwa, walaupun cuma makan waktu tiga jam perjalanan, jalur Kawah Bulan Sabit tidak pernah dibuka untuk umum. Barangkali dengan alasan bahwa jalurnya sangat rawan, menyesatkan, curam, dan mudah longsor. Jadi, bijak-bijaklah merencanakan untuk pergi ke sana. Pertama, cari informasi yang jelas dari warga sekitar—kalau bisa pergilah bersama orang yang sudah sering ke sana yang bisa menjadi penunjuk jalur. Kedua, jangan lupa bawa peralatan dan bekal yang cukup, sebab jalurnya sangat menguras energi.

SHARE TO:



Comment :