Kabupaten Lebak

Kearifan Lokal Masyarakat Baduy

Posted in 06 Oct 2016 by Christina Anggreani

IMG_3676

Orang Baduy Dalam tidak boleh memanfaatkan kendaraan umum dan selalu berjalan kaki kemana pun tujuannya, bahkan untuk ke Bandung sekali pun—3 hari 2 malam.

Suku Baduy adalah salah satu suku asli Indonesia yang menutup diri terhadap dunia luar, artinya mereka masih hidup di perkampungan yang berada dalam hutan dan berpegang teguh pada adat. Desa Baduy terletak di wilayah perbukitan Gunung Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.

Kepercayaan orang Baduy adalah penghormatan terhadap roh nenek moyang dan kepercayaan pada satu kuasa yang dinamakan Nu Kawasa. Keyakinan mereka sering disebut sebagai Sunda Wiwitan.

Orientasi, konsep-konsep, dan kegiatan-kegiatan keagamaan ditujukan pada pikukuh (aturan adat) agar orang hidup menurut alur itu dan menyejahterakan kehidupan Baduy dan dunia. Meskipun berakar pada animisme, pada perkembangannya Sunda Wiwitan juga mendapat pengaruh dari agama Buddha, Hindu, dan Islam.

Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari. Isi terpenting dari pikukuh Kanekes adalah konsep "tanpa perubahan apa pun" atau perubahan sesedikit mungkin.

IMG_3714

Di sini untuk mengambil isi hutan juga harus seizin kepala adat tiap kampung, demi menjaga agar alam tetap lestari.

Perjalanan ke Baduy Dalam dari Baduy Luar memakan waktu sekitar lima jam. Kami sempat singgah di sebuah danau dan beristirahat sejenak di sana. Setiba di Desa Cibeo di Baduy Dalam, kami disambut oleh rumah-rumah yang tampak rapi, sederhana, dan nyaman. Meskipun, seperti rumah-rumah di Baduy Luar, sama-sama berlantaikan bambu, rumah di Baduy Dalam tidak memakai paku dan diikat dengan rotan. Semua yang diperlukan sudah disediakan oleh alam. Di sini untuk mengambil isi hutan juga harus seizin kepala adat tiap kampung, demi menjaga agar alam tetap lestari. Masyarakat Baduy punya lumbung padi untuk menyimpan beras (leuit) dan biasanya dibangun dekat dengan perkampungan mereka.

Di Baduy Dalam dilarang menggunakan teknologi seperti ponsel, kamera, alat perekam video, dan radio. Dilarang membunuh binatang atau merusak tumbuhan sepanjang perjalanan. Orang asing dilarang untuk masuk ke Baduy Dalam, dilarang untuk memasuki hutan larangan, serta dilarang mandi di bagian sungai larangan. Tidak boleh menggunakan sabun dan sampo saat mandi di sungai. Tidak boleh melakukan hal yang mencolok dan bertingkah laku tak sopan. Ada jembatan yang dibuat dari susunan bambu dan hanya diikat dengan ijuk.

Larangan untuk memotret bertujuan agar orang luar tidak tahu banyak tentang situasi Baduy Dalam. Ketika orang luar tahu, mereka akan merasa terancam—apalagi suku Baduy juga sangat menjaga alam. Anak-anak dilarang sekolah agar budaya Baduy tetap terjaga. Mereka tidak menggunakan sabun dan sampo untuk menjaga air sungai supaya tetap bersih sehingga orang di hilir sungai tetap mendapat air yang bersih. Menjaga alam agar harmonisasi selalu terjaga adalah tujuan utama mereka.

IMG_3655

Kehidupan di Baduy Luar sedikit lebih bebas—boleh menggunakan teknologi, juga sabun serta sampo buat mandi.

Kami kembali ke Baduy Luar lewat jalur yang berbeda dari perjalanan masuk. Pemandangannya juga tak kalah menarik. Dari kejauhan tampak perkampungan lainnya yang berada di antara pepohonan di hutan.

Kehidupan di Baduy Luar sedikit lebih bebas—boleh menggunakan teknologi, juga sabun serta sampo buat mandi. Cara berpakaian masyarakat Baduy Luar pun sudah seperti orang kota. Meskipun begitu, mereka tetap tidak melupakan adat yang harus dipegang teguh. Orang Baduy Luar juga boleh menggunakan kendaraan, sementara orang Baduy Dalam tidak boleh memanfaatkan kendaraan umum dan selalu berjalan kaki ke mana pun tujuannya, bahkan untuk ke Bandung sekali pun—3 hari 2 malam.

"Panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung" adalah salah satu prinsip yang dipegang oleh masyarakat Baduy. Artinya, masalah yang panjang jangan dipotong tapi segera diselesaikan, sebaliknya masalah kecil juga jangan dibesar-besarkan. Sederhana, bukan? Namun kesederhanaan orang Baduy sangat menginspirasi diriku secara pribadi.

SHARE TO:



Comment :