Laut TPA Abadi?

Posted in 11 Feb 2016 by Dhave Dhanang

IMG_2572

Air yang jernih dan ombak yang bersahabat sangat mendukung untuk menyaksikan eden bawah air.

Kacamata kedap air dan pipa pernapasan ini memang benar-benar membantu saya. Kali ini saya menikmati indahnya taman laut di Taman Nasional Karimunjawa. Air yang jernih dan ombak yang bersahabat sangat mendukung untuk menyaksikan eden bawah air. Beraneka fauna laut menyambut kecipak kaki katak yang saya kenakan. Tangan saya pun mulai mendayung layaknya pinna pectoralis pada ikan. Sesekali saya menyelam ke kedalaman sekitar 1-2 meter untuk bisa bercengkerama lebih dekat dengan penghuninya.

Bunga laut atau yang biasa kita sebut dengan anemon tampak indah warna-warni dengan rumbai-rumbai lembutnya. Ikan “Nemo” (Amphiprion ocellaris) seperti digelitik perutnya oleh anemon sehingga selalu bergoyang ke sana kemari. Inilah salah satu dari sekian banyak taman laut yang pernah saya nikmati.

136193647953422389

Ikan “Nemo” (Amphiprion ocellaris) seperti digelitik perutnya oleh anemon sehingga selalu bergoyang ke sana kemari. (dok.pri)

Beberapa waktu yang lalu Ibukota Jakata sempat lumpuh gara-gara luapan air yang tak bisa dikendalikan. Atas banjir yang menyerbu ibukota tersebut, orang-orang lantas bergegas mencari kambing hitam. Akhirnya sampahlah yang menjadi salah satu tersangka. Sampah dianggap sebagai biang keladi terhambatnya aliran air menuju tempat yang lebih rendah. Hampir semuanya sepakat bahwa sampah adalah pangkal masalah.

Sampah secara harafiah bisa diartikan sebagai sisa yang harus dibuang. Pengertian yang sangat sederhana. Berarti, yang kita keluarkan seperti nafas berupa gas asam arang atau kentut juga bisa dikategorikan sebagai sampah. Begitu juga dengan plastik sisa makanan, kasur yang tak layak pakai, sofa rusak—semua juga termasuk sampah. Namun, dampak dari sofa, kasur, kulkas yang dibuang ke sungai pasti akan sangat berbeda dibanding udara yang dibuang dari mulut.

1361936546372105816

Sampah mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut. (dok.pri)

"Air mengalir sampai jauh," adalah salah satu petikan lirik lagu Bengawan Solo mahakarya Gesang. Laut adalah pelabuhan terakhir dari semua aliran sungai. Bisa dibayangkan jika semua sampah itu terbawa arus mengikuti aliran sungai. Pasti laut akan menjadi TPA alias Tempat Pembuangan Abadi. Laut berbeda dari daratan. Di sana tidak ada pemulung atau Dinas Kebersihan, tetapi mekanisme alamlah yang akan memperlakukan sampah-sampah yang terbawa gelombang tersebut.

Sampah yang berat akan segera mengendap di area muara atau estuaria, sementara sampah yang melayang akan berterbangan di perairan, sedangkan sampah ringan akan melanjutkan pengarungannya menjelajah samudra. Barangkali sebenarnya mekanisme alam adalah salah satu indikator penolakan laut terhadap sampah manusia. Laut sekadar tidak sudi dikotori dan dicemari oleh apapun juga. Apa yang berasal dari darat akan dikembalikan ke darat, atau akan dibenamkan untuk kemudian menjadi daratan.

Arus permukaan atau ombak akan mengembalikan sampah-sampah ke daratan. Arus bawah akan mengaduk-aduk material dan memilahnya, mana yang akan dikubur mana yang harus dikembalikan. Laut seolah-olah tak sudi jika sampah-sampah diperlakukan tidak sabagaimana mestinya. Laut kadang bijak juga, sebab sekali-sekali ia memberi pelajaran pada hampir semua pantai.

13619366191527216038

Sampah yang berat akan segera mengendap di area muara atau estuaria, sementara sampah yang melayang akan berterbangan di perairan. (dok.pri)

Pantai yang berpasir putih tiba-tiba bisa kotor dan penuh sampah. Pantai yang kotor juga bisa seketika disapu oleh ombak dan menjadi bersih. Inilah hebatnya laut. Sebuah pantai bisa saja dikotori oleh sampah yang dibuang orang ribuan kilometer dari sana.

Usai dari Karimunjawa, sejenak saya melepas pandang ke pantai di Teluk Awur Jepara. Yang ada di depan mata saya kini tak seperti apa yang saya lihat di eden atawa Karimunjawa. Saya menemukan seekor Nemo tergeletak tak berdaya di antara sampah-sampah yang memenuhi pantai. Ikan yang biasanya berenang menggemaskan di antara jemari anemon itu kini tak lagi indah akibat sampah. Ternyata nemo yang saya temui juga sampah—dan semua sampah. Tiba-tiba saya merasa berterima kasih pada mereka yang memanfaatkan sampah sebagai sumber kehidupan. Kayu-kayu yang berserakan menjadi sumber kayu bakar. Botol dan gelas air mineral dihargai untuk didaur ulang. Beberapa jenis plastik juga masih bisa ditukar dengan rupiah. Sisanya biarkan alam yang kembali memilahnya.


Artikel ini ditulis oleh Dhave Dhanang, dan sebelumnya dipublikasikan di sini.

SHARE TO:



Comment :