Kota Jakarta Utara

Mengenang Masa Lalu di Museum Bahari

Posted in 06 Oct 2016 by Dhave Dhanang

Lansekap dari menara syanbandar. Nampak pelataran dari menara, nampak di sisi kiri adalah Museum Bahara dan di ditengah nampak kapal kayu bersandar di pelabuhan Sunda Kelapa (dok.pri).

Dari lantai atas menara syahbandar ini mata saya menerawang ke seluruh penjuru mata angin.

Kaki saya melangkah pelan menapaki anak tangga dari lembaran papan yang dicat merah. Bangunan tiga lantai plus atap ini barangkali pernah menjadi bangunan tertinggi di masanya. Dari jendela lantai dua, kepala saya melongok ke luar. Tampaklah dua bilah meriam dengan moncong menghadap ke arah laut dan barat. Penasaran ada apa di atas sana, kaki saya melangkah semakin ke atas.

Dari lantai atas menara syahbandar ini mata saya menerawang ke seluruh penjuru mata angin. Saya berkhayal menjadi seorang pengawas menara sebuah perahu layar. Dengan teropong 55-250 mm saya memicingkan mata untuk mendapatkan fokus. Di utara tampak jajaran kapal-kapal kayu yang akan mengarungi laut utara Jawa. Di sisi timur, selatan, dan barat gedung-gedung pencakar langit yang meraja. Sebuah pemandangan yang kontras. Tetapi barangkali memang tempat inilah yang menjadi batas antara batas masa lalu dan masa kini.

Cagar budaya ini diberi nama Museum Bahari. Terletak di Penjaringan, Jakarta Utara, museum ini tepat berada di Pelabuhan Sunda Kelapa. Sepintas dari atas sini bangunan museum tidak tampak seperti museum. Lebih mirip sekolahan—bangunan panjang dan bersekat-sekat. Kaki saya pun perlahan menuruni tangga merah untuk menuju bangunan Museum Bahari yang terletak di sebelah utara menara.

1385628927767980554

Bangunan tiga lantai plus atap ini barangkali pernah menjadi bangunan tertinggi di masanya.

Memasuki gerbang museum, mata saya terperangkap oleh sebuah jebakan perspektif berupa jajaran jendela berukuran raksasa dengan ketebalan yang tidak seperti biasanya. Untuk mulai mengarungi Museum Bahari, saya diarahkan menuju arah kanan. Pintu dari kayu jati tebal harus saya geser. Suara derit engsel tua terdengar menyeramkan. Pegangan pintu dan pengait kancingnya yang berukuran raksasa sepertinya ini bukan diperuntukkan bagi tangan pribumi.

Baru saja masuk, mata saya sudah dipermainkan pilar-pilar tiang penopang. Ketika iseng mengukur, saya kaget mendapati bahwa pilar-pilar itu tebalnya dua jengkal lebih. Saya coba ketok, ternyata kayu utuuh. Tak terbayangkan ukuran kayu mentah yang ditebang untuk mendirikan bangunan ini. Pastinya kayu ukuran sebesar itu sekarang sudah sangat jarang ditemukan.

Pelan-pelan kaki ini melangkah menikmati satu per satu koleksi lantai satu museum. Kapal-kapal kuno beserta miniaturnya dipajang di sini. Potret petinggi-petinggi “Jalesveva Jayamahe” dipajang di salah satu ruangan. Lantai bawah mengawali sejarah dunia kemaritiman di Indonesia, dari zaman dulu sampai masa kini.

1385628987467171862

Memasuki gerbang museum, mata saya terperangkap oleh sebuah jebakan perspektif berupa jajaran jendela berukuran raksasa dengan ketebalan yang tidak seperti biasanya.

Di sebuah sudut ruangan dekat foto Komodor Yosafat Sudarso, saya mendengar sayup-sayup suara orang sedang berbicang, dengan aksen tinggi dan nada serak sengau. Begitu mata ini melirik, saya seolah terbawa pada masa lalu. Dia adalah seorang pelancong asal Belanda yang sedang dibawa berkeliling oleh seorang pemandu. Entah mengapa saya seperti sedang melihat pasukan kumpeni.

Menapaki anak tangga dari kayu jati, saya naik ke lantai dua. Entah kenapa suasana terasa menyeramkan saat memasuki ruangan ini. Di sini dipamerkan benda-benda kemaritiman. Lampu suar seolah melambai agar saya mendekat, lalu berkata bahwa dia lah piranti navigasi pada masa lalu. Selain lampu suar, terdapat juga kemudi kapal, model-model menara suar, bagan, pelampung laut, hingga pernak-pernik di dalam kapal. Inilah ruang pamer teknologi kemaritiman.

13856291741332538967

Awalnya para pendatang tiba dengan misi perdagangan. Namun begitu melihat kekayaan Nusantara berupa rempah-rempah dan bahan tambang, tergiurlah mereka untuk menguasai.

Dar lantai dua, saya diarahkan menuju ruang yang semula saya lewati ketika masuk. Petugas museum kemudian mengarahkan saya untuk naik ke lantai dua dari tangga penjagaan. Sebuah kantrol dengan peti-peti bertuliskan “VOC” tertumpuk di situ. Ternyata ruangan ini dulunya adalah tempat bongkar muat barang. Dulu sebelah timur bangunan ini adalah kanal dan kapal barang bisa masuk dan merapat. Di sini barang-barang ditaruh sementara sebelum dipindahkan ke gudang.

Saya masuk ke sebuah ruangan yang tertata apik dan artistik. Ruangan ini adalah etalase diorama para penjelajah lautan. Manekin Vasco da Gama, Ibnu Batuta, hingga Fatahilah dipamerkan di sini. Di ruangan ini ditampilkan pula catatan sejarah penjelajahan lautan hingga kapal-kapal dari negeri jauh berlabuh di Indonesia beserta barang-barang yang diangkutanya.

13856292481630587115

Ruangan ini dahulunya adalah tempat bongkar muat barang, tempat barang-barang ditaruh sementara sebelum dipindahkan ke gudang.

Awalnya para pendatang tiba dengan misi perdagangan. Namun begitu melihat kekayaan Nusantara berupa rempah-rempah dan bahan tambang, tergiurlah mereka untuk menguasai. Seiring berjalannya waktu, tidak lagi misi perdagangan, melainkan misi mencari daerah koloni dan menguasainya. Semakin dalam saya menjelajahi Museum Bahari, semakin banyak pula infromasi yang saya peroleh seputura dunia kemaritiman.

“Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra,” begitu sebuah petikan lagu anak-anak. Namun sayang, museum berisi peninggalan para ksatria laut tersebut sepi pengunjung yang nyata-nyata adalah keturunan mereka, para pelaut handal tersebut. Barangkali kenyataan bahwa nenek moyang kita adalah pelaut sudah tenggelam oleh modernisasi. Museum bahari adalah saksi bisu Jalesveva Jayamahe dari zaman ke zaman.

SHARE TO:



Comment :