Kota Yogyakarta

Menatap Langit Puncak Becici

Posted in 07 Oct 2016 by Rivai Hidayat

Berlari dari keramaian dan keriuhan kota Jogja ketika libur panjang adalah hal yang paling tepat. Kota yang mendapat julukan Kota Pelajar ini selalu riuh dan sesak kala liburan panjang. Sepanjang jalan Malioboro dan sekitarnya tampak ramai dengan kehadiran para pelancong. Deru mesin kendaraan saling bersahutan. Para petugas kepolisian tampak sibuk mengatur arus kendaraan agar semuanya lancar. Ketika semuanya lancar, semua akan merasa nyaman dan senang. Kota ini memang istimewa, baik untuk warganya sendiri, maupun para pendatang.

Jpeg

Salah satu gardu pandang di Puncak Becici. (Foto: Lele)

Kita mulai memacu kendaraan menuju kabupaten Bantul. Tepatnya kecamatan Imogiri. Sebuah kecamatan yang terletak di selatan kota Jogja. Tujuan kita adalah sebuah hutan pinus yang tak jauh dari perbukitan Mangunan. Puncak Becici, begitu warga sekitar menyebutnya. Banyak papan petunjuk untuk menuju ke Puncak Becici. Jalanan menuju daerah Imogiri sangat bagus untuk dilewati, namun banyak tanjakan dan turunan curam. Selama perjalanan, kita bakal disuguhi pemandangan berupa persawahan, perbukitan dan birunya langit. Selain itu, kita juga bisa melihat bangunan makam Raja Keraton Yogyakarta sekaligus anak tangga yang berjumlah sekitar 1000.

Hawa sejuk perbukitan mulai menyapa. Pemandangan terasering lahan-lahan juga bisa terlihat jelas. Setelah itu, pohon-pohon pinus berjajar sepanjang perjalanan. Hijau, dan semuanya terasa sangat menyegarkan. Memasuki kawasan hutan pinus, kita akan melewati hutan pinus Mangunan yang lebih dahulu populer. Tapi tujuan kita bukan ke sana. Kita masih melanjutkan perjalanan lagi. Hutan pinus Mangunan siang itu sangat ramai oleh para pengunjung. Akhirnya setelah menempuh perjalanan 1,5 Km, gerbang menuju Puncak Becici sudah terlihat. Tak terlalu besar, terbuat dari kayu. Sederhana, namun penuh makna.

becici_4

Hutan pinus di Puncak Becici.

Setelah membayar tiket masuk Rp 5.000,- kita bisa menikmati suasana hutan pinus. Untuk menuju Puncak Becici, kita bisa trekking sekitar 15 menit. Jalanan yang kita lewati berupa tanah. Kebetulan semalam hujan deras, sehingga tanah sedikit basah. Aroma khas tanah yang bercampur dengan air hujan tercium selama perjalanan trekking kita. Tak hanya pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, kita juga bisa menemukan bangku-bangku yang terbuat dari batang kayu pinus, ayunan kayu, dan beberapa gazebo sederhana. Tak berapa lama kita juga bertemu dengan pengunjung yang camping di kawasan Puncak Becici. Puncak Becici menjadi tempat yang tepat untuk menikmati sunset.

Pemandangan di Puncak Becici

Pemandangan di Puncak Becici.

Akhirnya kita telah sampai di puncak Becici. Terlihat tiga gardu pandang untuk menikmati pemandangan dari Puncak Becici. Sebaiknya berhati-hati, karena gardu pandang tak dilengkapi dengan pengaman. Hanya sebuah kayu dan papan yang dipaku di pohon pinus. Hanya ada beberapa pengunjung. Tak terlalu ramai dan kita bisa puas menikmati hembusan angin dari gardu pandang. Ada rasa khawatir ketika tempat yang kita pijak terkena terpaan angin. Namun, kita tak ingin menyia-nyiakan waktu untuk duduk di atas gardu pandang. Menikmati setiap hembusan angin. Sejauh mata memandang tampak langit biru, awan putih di batas cakrawala. Hijaunya pohon-pohon membuat semuanya tampak lebih berwarna. Hembusan angin terasa sangat sejuk. Seolah-olah membawa pesan yang tersirat.

Perjalanan turun dari Puncak Becici

Perjalanan turun dari Puncak Becici.

Banyak hal yang aku temukan dalam perjalanan ini. Aku tersenyum ketika melihat senyumnya, senyum dan tawa teman-temanku. Berbagi keceriaan dan kebahagiaan selama perjalanan. Melepas segala penat dan rasa bosan. Rasa lelah dalam perjalanan larut dalam keceriaan kita. Menikmati alam dan segala karunia-Nya. Terima kasih untuk semuanya. Aku, kamu, dan kita telah menatap langit Puncak Becici.


Artikel ini ditulis oleh Rivai Hidayat dan sebelumnya dipublikasikan di blog pribadi Rivai.

SHARE TO:



Comment :