Kabupaten Timor Tengah Selatan

Menempa Generasi Timor dengan Neno Boha

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

neno5

Berangkat sekolah membawa jeriken kosong, mereka pulang membawa air.

Kaki-kaki mungil melangkah tanpa alas menyusuri ilalang, jalan berbatu, dan aspal yang sudah terkoyak. Raut wajah tegas mereka tersirat pada alis yang tebal dan bulu mata yang lentik. Guratan otot-otot yang terbentuk secara alami jelas terlihat di tubuh mereka. Wajah-wajah ceria ini seperti tak menampakkan keirian pada kawan-kawan seumuran mereka yang tinggal di kota. Berangkat sekolah membawa jeriken kosong, mereka pulang membawa air. Itulah potret anak-anak di sisi Indonesia paling selatan, Pulau Timor.

Pulau ini terbentuk akibat aktivitas tektonik. Dasar laut yang terkena tumbukan lantas terangkat dan menyembul menjadi sebuah pulau—Pulau Timor. Dasar lautan yang terangkat itu kemudian menjadi hunian manusia Austronesia. Begitu dilahirkan anak-anak sudah mendapat tempaan dari alam yang kejam. Untunglah para nenek moyang membekali keturunannya dengan sebuah tradisi yang akan menggembleng bayi mungil agar siap menghadapi ganasnya alam.

Setiap hari ibu dan bayi harus tinggal di rumah bulat, dan hanya boleh dijenguk oleh kerabat terdekatnya saja.

Neno Boha, salah satu budaya suku Timor yang peruntukkan bagi para ibu selama empat puluh hari pascamelahirkan, cukup mengerikan jika dibandingkan dengan perkembangan dunia medis modern saat ini. Selama masa nifas (empat puluh hari) seorang ibu dilarang keluar dari rumah bulat, rumah adat Timor, begitu juga dengan bayinya.

Setiap hari ibu dan bayi harus tinggal di rumah bulat, dan hanya boleh dijenguk oleh kerabat terdekatnya saja. Ibu tidak hanya tinggal di rumah bulat saja, tetapi harus menjalani ritual yang sangat tidak lazim menurut standar medis modern. Ibu setiap hari akan dikompres dengan air panas yang diletakkan pada kain Timor. Tujuan pengompresan ini adalah untuk memperlancar peredaran darah. Proses ini disebut tatobi.

Pascamelahirkan ibu juga harus menjalani ritual peanggan atau mengasapi tubuh ibu dan bayi. Perapian dibuat tepat di bawah tempat tidur, dan ibu serta bayinya berada di atas dipan tersebut. Tujuan dari peanggan adalah untuk mengeringkan luka-luka pascamelahirkan. Peanggan dilakukan hampir setiap hari dan harus dijalani selama empat puluh hari.

Tradisi yang ketiga adalah sang ibu hanya boleh mengonsumsi jagung bose, jagung lokal yang tumbuh di Pulau Timor.

Tradisi yang ketiga adalah sang ibu hanya boleh mengonsumsi jagung bose, jagung lokal yang tumbuh di Pulau Timor. Jagung ini menjadi satu-satunya asupan makanan bagi ibu dan diberikan pada bayinya lewat air susu ibu. Selama mengonsumsi jagung bose, pangan itu tidak boleh dicampur dengan jenis makanan lain untuk mengantisipasi agar tidak terjadi apa-apa pada ibu dan bayinya. Contohnya, jika sang ibu mengonsumsi ikan dan mengalami gatal-gatal, bayinya juga akan merasakan demikian. Jika mengonsumsi kacang-kacangan dan sang ibu kembung, begitu juga bayinya. Sebuah ketakutan yang bagi kita memang tidak beralasan, tetapi benar-benar ditaati karena sudah menjadi adat turun-temurun.

Maria, salah seorang ibu yang baru saja melahirkan, menceritakan kisah selama empat puluh hari di rumah bulat. Tiga kali sudah ia melahirkan, dan tiga kali pula mendapat perlakuan yang sama. Acapkali ia menangis saat tinggal di rumah bulat. Setiap hari rasa bosan melanda. Tidak hanya jemu akan suasana, tetapi ia juga bosan dengan diet yang monoton—jagung. Setiap hari ia dikompres. Kadang hingga melepuh. Belum lagi ia juga harus diasapi.

Maria, salah seorang ibu yang baru saja melahirkan, menceritakan kisah selama empat puluh hari di rumah bulat.

Sebuah budaya yang kini sudah mulai ditinggalkan. Pemerintah setempat lewat Dinas Kesehatan sudah melarang tradisi tersebut dengan alasan kesehatan ibu dan anak. Paling menarik adalah sebuah Perdes (Peraturan Desa) di Desa Binaus, Kab. Timor Tengah Selatan. Kepala Desa yang bernama Nahor Tasekeb dengan tegas melarang budaya Neno Boha. Ia bahkan mengancam akan mendenda siapa saja yang melakukan ritual tersebut. Ia menyarankan agar persalinan tidak lagi dilakukan di rumah bulat, tetapi di Puskesmas atau Rumah Sakit. Selama pascamelahirkan harus tinggal di rumah kotak (rumah sehat) dan makan seperti yang dianjurkan oleh Dinas Kesehatan.

Aturan kadang hanya menjadi ancaman semata. Nyatanya masih ada saja yang terus menjalani tradisi Neno Boha. Namun, setidaknya pemerintah sudah tanggap terhadap tradisi ini mengingat dampak buruk terhadap kesehatan ibu dan bayi. Lantas saya melihat anak-anak ini, yang barusan berangkat sekolah membawa jeriken, dan menanyakan di mana letak rumahnya. Kepada para orangtua, Iseng-iseng saya menanyakan bagaimana anak-anak ini dulu saat usia kurang dari empat puluh hari. Sebagian besar anak-anak ini, menurut tururan orangtua mereka, menjalani ritual Neno Boha.

Sebagian besar anak-anak ini, menurut tururan orangtua mereka, menjalani ritual Neno Boha.

Saya terkesima dengan ketangguhan anak-anak ini. Semenjak lahir mereka sudah mendapat tempaan alam dan tradisi yang keras. Secara genetis tubuh-tubuh kecil mereka adalah struktur yang kuat dan mampu bertahan, sekeras batu karang yang menerobos permukaan laut dan menjadi pulau. Walaupun menghadapi kenyataan ketika budaya kini perlahan dicoba untuk dikikis dan disesuaikan dengan zaman, anak-anak ini tetap berkembang menjadi insan-insan seteguh batuan dasar lautan. Mau tak mau saya teringat akan sebuah kidung berjudul “Batu Karang yang Teguh.”


Artikel ini ditulis oleh Dhave Dhanang dan sebelumnya dimuat di sini.

SHARE TO:



Comment :