Kota Denpasar

Gambuh: Tari Tradisional Bali yang Kian Langka

Posted in 06 Oct 2016 by Sutiknyo

SAMSUNG CSC

Memiliki standar kualitas tersendiri, Gambuh tampil dengan koreografi yang lumayan rumit dan penampilan yang menawan.

Gamelan Pegambuhan berlaras pelog Saih Pitu mengiringi tokoh yang tampil dalam Tari Gambuh. Ada tokoh Condong, Kakan-Kakan, Putri, Arya (Kadean-Kadean), Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar, dan Prabu. Para penari berdialog dalam bahasa Kawi, selain Turas, Panasar dan Condong. Mereka berdialog menggunakan bahasa Bali halus, madya, hingga kasar. Gambuh biasa dipentaskan dalam upacara Dewa Yadnya seperti Upacara Odalan, Upacara Manusa Yadnya (perkawinan keluarga bangsawan), dan juga Upacara Pitra Yadnya atau Ngaben di Bali.

Gambuh merupakan sendratari warisan budaya Bali hasil alkulturasi budaya Jawa dan Hindu di Jawa Timur yang dikenal dengan nama Raket Lalaokaran. Raket Lalaokaran inilah yang sering disebut sebagai Gambuh Ariar, sebuah perpaduan Gambuh dan Raket yang tertulis dalam Kidung Warjban Wideya dari abad XVI. Dulunya Gambuh merupakan tarian perang Bhata Mapdtra Yuddha, yang menjadi hiburan untuk rakyat Majapahit ketika melaksanakan Upacara Shreiddha.

gambuh1-2-608x400

Gambuh biasa dipentaskan dalam upacara Dewa Yadnya seperti Upacara Odalan, Upacara Manusa Yadnya (perkawinan keluarga bangsawan), dan juga Upacara Pitra Yadnya atau Ngaben di Bali.

Gambuh telah membawa pengaruh cukup besar untuk kesenian masyarakat Bali, terutama sebagai drama tari istana yang adiluhung. Memiliki standar kualitas tersendiri, Gambuh tampil dengan koreografi yang lumayan rumit dan penampilan yang menawan. Perbendahaaran koreografinya banyak, iringan musiknya juga agak. Itulah alasannya mengapa Gambuh seringkali dianggap sebagai sumber tari klasik Bali.

SHARE TO:



Comment :