Kota Jakarta Pusat

Museum Taman Prasasti dan Seribu Cerita dari Masa Lalu

Posted in 06 Oct 2016 by Dhave Dhanang

Museum Taman Prasasti, Seribu Cerita Yang Membisu 1

Dulunya, tempat ini merupakan lokasi pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober.

Di Jalan Tanah Abang No. 1, patung malaikat kecil yang membisu seolah ingin terus menyuarakan kebenaran dari alam seberang sana. Museum Taman Prasasti yang kini membisu sesungguhnya memiliki suara yang merdu tentang masa lalu. Kerkhoflaan atau biasa diucapkan Kerkop adalah Kompleks Pemakaman Belanda. Berbeda dari pemakaman yang terkesan angker Kerkop malah tampak seperti areal yang penuh sentuhan seni dan filosofi.

Kompleks pemakaman ini diberi nama Museum Taman Prasasti. Dulunya, tempat ini merupakan lokasi pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober. Didirikan pada tahun 1795 di lahan luas 5,5 hektare, pemakaman ini sebenarnya menggantikan lokasi pemakaman sebelumnya yang terletak di samping Gereja Nieuw Hollandsche Kerk yang saat ini dijadikan Museum Wayang.

Museum Taman Prasasti menyimpan berbagai macam koleksi nisan dari pemakaman Nieuw Hollandse Kerk pada awal abad 19. Batu-batu nisan berasal dari Nieuw Hollandse Kerk ini kemudian diberi tanda dengan inisial HK, dari Hollandsche Kerk. Ketika DKI Jakarta dipimpin oleh Ali Sadikin, kompleks pemakaman ini ditutup dan jasad jenazah-jenazah yang dikubur dipindahkan ke Pemakaman Menteng Pulo. Ada pula yang jasadnya dipindahkan oleh keluarganya ke Belanda, ada pula yang diperabukan.

Pemerintah kemudian menjadikan kompleks Pemakaman Kebon Jahe Kober ini sebagai museum dan resmi dibuka untuk umum pada 9 Juli 1977. Beragam koleksi prasasti, nisan, dan makam (sekitar 1.372) memenuhi museum ini. Bahan pembuatan nisannya pun bervariasi, ada yang terbuat dari batu alam, perunggu, ada juga yang dari marmer. Luas museum saat ini hanya 1,3 hektare saja. Pembangunan Kota Jakarta mengikis sedikit demi sedikit luas museum ini.

Di bawah rumpun Plumeria alba terdapat prasasti Soe Hok Gie. Siapa yang tak tahu aktivis pergerakan mahasiswa ‘60-an dan pencinta alam ini? Meski jasad Soe Hok Gie tak dimakamkan di Museum Taman Prasasti, aura dan bara semangatnya begitu kental di sana.

Walau hanya sebuah prasasti untuk nisan orang mati, patung-patung karya para maestro tanpa nama ini seperti mewakili mereka yang telah pergi mendahului kita. Karakter-karakter yang mereka pahat begitu mempesona, terlebih jika kamu memiliki daya imajinasi yang kuat. Walau tak mengenal siapa mereka, karakter mereka seakan sudah terwakili oleh sosok-sosok yang dipahat oleh para perupa. Sentuhan tangan dingin mereka bisa memunculkan aura luar biasa.

Di Museum Taman Prasasti ada patung perempuan dengan kepala tertelungkup yang disebut “Si Cantik Menangis.” Konon perempuan ini menangisi suaminya yang mati bunuh diri karena tidak sanggup menahan penderitaan sakit malaria. Ternyata setiap prasasti punya kisahnya sendiri, ya?

Di tengah ingar-bingar ibukota, Museum Taman Prasasti menjadi tempat yang penuh kedamaian. Di balik nisan-nisan itu tersimpan seribu cerita dan kisah yang ingin disampaikan entah kepada sesiapa. Datanglah dan sapalah mereka dan dengarkan ceritanya!

SHARE TO:



Comment :