Kota Semarang

Nongkrong bareng Itong Hiu: Semarang Sayang Hiu

Posted in 07 Oct 2016 by Mauren Fitri

???????????????????????????????

"Diperkirakan sekitar seratus juta hiu mati setiap tahunnya karena manusia, salah satunya mati untuk diambil siripnya."Riyanni Djangkaru, Campaign Director Save Sharks Indonesia.

Akhir pekan lalu, telusuRI menyempatkan hadir di rangkaian roadshow #SaveSharks “Nongkrong bareng @itong_hiu: Semarang Sayang Hiu” yang diadakan oleh Save Sharks Indonesia dan dukungan dari Greenpeace Indonesia, Marine Diving Club Kelautan UNDIP, serta Kaldera. Dari meetup ini, banyak sekali diberikan informasi soal hiu yang tak banyak diketahui oleh publik.

Tahukah kamu bahwa sebenarnya hiu bukanlah jenis ikan yang berbahaya? Bahkan, dari sekitar 500 jenis spesies ikan hiu, hanya 0,02 persen hiu yang berbahaya. Hiu Paus dan Hiu Basking yang termasuk dalam jenis hiu besar saja hanya memakan plankton dan ikan-ikan kecil. Beberapa jenis hiu menyerang manusia—terutama para peselancar—karena top predator ini menyangka manusia sebagai ‘makanan’ sebab sosok manusia jika dilihat dari bawah menyerupai mangsa.

Sebagai predator teratas, hiu mengontrol populasi hewan laut dalam rantai makanan. Namun sayangnya hiu mulai diburu oleh manusia untuk diperjualbelikan daging dan siripnya. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengungkapan setidaknya ada 1.145.087 ton produk hiu diperdagangkan secara global setiap tahun, meskipun hiu termasuk spesies yang populasinya terancam punah dan lambat reproduksinya. Saya pun baru tahu kalau siklus reproduksi hiu mencapai 8-15 tahun.

???????????????????????????????

Dengan adanya pembantaian hiu dewasa untuk diambil siripnya dan penangkapan bayi hiu, populasi spesies yang mendapat julukan sebagai dokter laut ini makin terancam. Berdasarkan data FAO pada tahun 2012, Indonesia menjadi peringkat teratas dari 20 negara penangkap hiu terbesar di dunia, sebab belum adan regulasi yang mengatur tentang penangkapan hiu. Kondisi ini diperparah oleh semakin maraknya penjualan bayi hiu di supermarket.

“Bukan hanya pemerintah sebagai pembuat regulasi dan nelayan sebagai penyedia produk, kalangan konsumen juga menjadi sasaran kami, karena selama ini hal tersebut menjadi sektor yang luput dari perhatian,” kata Riyanni. Masih banyak orang yang belum paham kalau sebenarnya hiu mengandung merkuri 42 kali lebih banyak dari batas aman yang bisa dikonsumsi tubuh manusia. Hal ini semestinya juga menjadi perhatian khusus, karena bisa berakibat datangnya berbagai macam penyakit—salah satunya Minamata.

Jadi ketika ikan hiu ditangkap dan berpindah ke piring kita, bagaimana nasib ekosistem rantai makanan di laut sana? Selain itu coba bayangkan bagaimana rasanya tubuhmu digerogoti merkuri berkadar puluhan kali di atas ambang batas aman konsumsi?

Tanpa edukasi seperti ini, menurut Riyanni, masyarakat tidak akan menjadi konsumen yang bijak dalam memilih produk laut. Yuk, jadi konsumen yang bijak. Dengan memilih untuk tidak makan daging hiu, permintaan terhadap ikan ini akan menurun. Sebagai imbasnya penangkapan ikan hiu juga pasti akan berkurang.

???????????????????????????????

Selain di Semarang, Save Sharks Indonesia juga akan mengadakan meetup serupa di beberapa kota lain seperti Jakarta, Bandung dan Purwokerto. Sebelumnya Save Sharks Indonesia sudah melakukan kampanye di sepanjang pantura Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Yogyakarta.

SHARE TO:



Comment :