Nyalung Laron: Mendulang Protein dari Dalam Tanah

Posted in 06 Oct 2016 by Dhave Dhanang

laron

Menjelang usia matang laron akan keluar dari sarang dan mendatangi sumber cahaya. Mereka terbang bukan tanpa alasan, yaitu untuk mencari pasangan.

Siapa tak kenal serangga bernama laron. Laron adalah rayap yang bersayap, yang sudah berusia matang dan siap untuk mencari pasangan dan reproduksi. Laron atau anai-anai biasanya keluar pada sore hari atau petang. Perilaku laron kadang membuat kita jengkel, sebab jika malam tiba mereka biasanya akan ramai-ramai mengerubuti sumber cahaya atau lampu. Pada pagi hari, areal lampu yang ditutupi jaring laba-laba akan dipenuhi laron yang terjebak, begitu juga dengan lantai.

Laron adalah fase reproduksi bagi rayap kasta prajurit dan pekerja. Menjelang usia matang laron akan keluar dari sarang dan mendatangi sumber cahaya. Mereka terbang bukan tanpa alasan melainkan untuk mencari pasangan. Jika sudah mendapatkan pasangan maka mereka akan kawin. Sayapnya akan tanggal kemudian mereka akan mencari tempat dan membuat koloni baru. Laron-laron yang tak mendapat pasangan akan mati.

Keluarnya laron dari sarang menjadi penanda datangnya musim penghujan atau pergantian musim. Sebagian besar orang pasti akan menutup pintu dan mematikan lampu ketika laron mulai berdatangan. Namun sebagian orang justru menjadikan laron-laron yang keluar ini sebagai sumber rezeki.

Nyelung laron (huruf e dibaca seperti nyenggol) atau nyalung laron adalah kegiatan mencari laron. Nyelung berasal dari bahasa Jawa Kawi yang artinya mencari. Aktivitas nyelung laron diawali dengan mencari lubang-lubang laron yang biasanya ada di kebun-kebun. Satu petak lahan bisa memiliki puluhan lubang yang dijadikan pintu keluar bagi laron. Biasanya kebun yang dijadikan sarang oleh laron adalah kebun kosong atau yang tidak pernah dicangkul.

laron 2

Biasanya laron akan digoreng atau dijadikan rempeyek.

Begitu menemukan pintu keluar laron, tepat di depannya akan digali lubang sedalam 30 cm dengan diameter 20 cm. Lubang ini kemudian dialasi dengan daun pisang berbentuk kerucut untuk menampung laron yang keluar. Di mulut pintu diberi daun pisang yang dipasang dalam posisi miring agar begitu keluar laron akan terpeleset dan masuk lubang. Bagian atas ditutup rapat dengan daun pisang. Sesekali asap rokok dihembuskan ke mulut sarang untuk memaksa laron keluar.

Laron yang didapatkan biasanya ditampung dalam kantong plastik. Setelah memastikan bahwa lubang sudah kosong, barulah para pencari laron tersebut pulang. Maka laron pun siap diolah di rumah. Laron-laron tersebut akan diuyek atau diremas pelan agar sayap-sayapnya tanggal, kemudian baru ditapis menggunakan tampah. Sayap laron yang ringan akan terpisah dari tubuh laron. Barulah kemudian laron bisa dijadikan santapan yang lezat.

Biasanya laron akan digoreng atau dijadikan rempeyek. Rasa yang gurih dan lezat adalah ciri khas laron. Bagi yang alergi terhadap protein asing, maka siap-siaplah biduran, gatal, atau tubuh menjadi bengkak. Kejadian ini wajar, sebab tubuh merespon protein laron sebagai protein asing. Cara paling sederhana, minum antihistamin atau tidak usah makan laron sekalian. Bagi yang kebal terhadap protein laron, maka ini adalah makanan unik yang tak boleh dilewatkan sebab hanya tersedia di awal musim penghujan. Laron memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Harganya bisa mahal saat dijadikan pakan burung. Laron bisa setara dengan kroto (anak semut rangrang).

Serangga dari famili isoptera ini memang unik. Ada yang menjauhinya, ada juga yang malah mencari. Ada yang alergi namun ada juga yang begitu menikmatinya. Di balik itu semua, ada sebuah siklus biologis, perjuangan hidup-mati para laron untuk mencari pasangan, kawin, lalu mencari tempat yang baru.

SHARE TO:



Comment :