Kabupaten Minahasa

Pa'dior: Pusat Kebudayaan Minahasa, Sulawesi Utara

Posted in 06 Oct 2016 by Wiranurmansyah

WIR45639-600x450

Instrumen-instrumen yang digunakan dalam orkestra itu tampak seperti yang dipakai pada musik klasik. Hanya saja, yang ini memiliki sudut-sudut yang lebih lancip.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam ke arah Tompasso, berhentilah saya di Pa’dior, sebuah pusat kebudayaan di Minahasa, Sulawesi Utara. Sebuah orkestra dengan suara unik menyambut kedatangan saya di Pa’dior. Instrumen-instrumen yang digunakan dalam orkestra itu tampak seperti yang dipakai pada musik klasik. Hanya saja, yang ini memiliki sudut-sudut yang lebih lancip. Suaranya juga lebih bernada tradisonal ketimbang klasik. Lebih tajam dan jarang memiliki midrange-tones.

Alat musik khas Minahasa kini jarang menggunakan bambu sebagai bahan, meskipun beberapa instrumen kecil seperti suling masih tetap dari bambu. Alat musik besar dari bambu bisa kamu temui di museum. Alat musik tradisional Minahasa kini lebih banyak terbuat dari kuningan.

Yang menarik dari Pa’dior adalah sebuah contrabass raksasa yang terletak di tengah-tengah pusat kebudayaan. Dengan tinggi 8 meter, panjang 32 meter, dan diameter lubang tiup sebesar muka orang dewasa, tak heran terompet ini bisa masuk ke dalam daftar the guinness book of world records!

Contrabass ini bisa kamu bunyikan dengan cara ditiup. Namun, sekencang apapun kamu tiup rasa-rasanya tidak akan bunyi. Ternyata untuk membunyikan terompet ini perlu bantuan kompresor bertekanan tinggi. Ada sebuah tombol rahasia di dekat lubang tiup yang bisa kamu tekan agar terompet raksasa ini bisa berbunyi.

Pusat Kebudayaan Minahasa cukup saya rekomendasikan jika kamu peminat seni musik dan sedang berkunjung ke Manado. Selain alat musik bambu, di Pusat Kebudayaan Minahasa ini juga ada Museum Wale Anti Narkoba dan pusat tenun. Jika ingin menginap di areal yang sejuk ini, juga ada resor yang bisa diinapi.

SHARE TO:



Comment :