Kabupaten Magelang

Penghijauan Gunung Andong: Dari Gunung Andong untuk Indonesia

Posted in 07 Oct 2016 by Ahimsa Afrizal

"The best time to plant a tree is twenty years ago. The second best time is now."—Anonymous

andong4

Dunia wisata memang penuh dengan paradoks. Dan paradoks ini adalah sebuah keniscayaan. Kita semua tahu, potensi wisata Indonesia yang kebanyakan adalah wisata alam ini luar biasa besar. Banyak orang menjulukinya surga yang jatuh ke bumi, zamrud khatulistiwa, atau apalah julukan lainnya yang tidak kalah indah. Kita semua juga tahu, tempat yang indah ini nantinya akan penuh pengunjung yang bercampur jadi satu dari berbagai latar belakang, berbagai karakter, dan berbagai macam pemahaman etika. Berkaca dari pengalaman selama ini, pengunjung yang banyak ini justru akan menjadi sel kanker bagi alam kita, perlahan-lahan merusak, dan pada akhirnya membunuh keindahannya.

Itulah yang terjadi dengan gunung, pantai, spot snorkeling dan diving, kebun-kebun serta taman, yang nge-hits di dunia maya menjadi ajang para traveler melepas penat. Tempat-tempat ini awalnya begitu alami, indah, tidak terjamah, dan masih perawan. Namun lama-kelamaan sampah mulai berceceran, pohon mulai tumbang, dan terumbu karang mulai mati.

Akan selalu ada tarik-menarik kepentingan antara kelestarian lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi. Di satu sisi, datangnya pengunjung akan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekitar, namun pengunjung yang banyak juga memiliki potensi merusak, yang lajunya seperti tumbuh secara eksponensial.

Hal yang sama juga terjadi di Gunung Andong, Magelang, Jawa Tengah. Gunung yang nge-hits di Instagram, yang banyak didaki pendaki-pendaki gemes karena relatif mudah dicapai puncaknya (hanya sekitar 2 jam) ini merana sejak awal mula ketenarannya di 2010. Sampah pendaki berserakan, vandalisme para traveler yang titip salam atau mempromosikan diri sebagai jomblo berkualitas (mungkin akun media sosial mereka sepi peminat), serta pepohonan banyak yang rusak. Parahnya lagi, pada 2015, beberapa titik mengalami kebakaran hutan. Gunung kecil di antara Merbabu-Merapi dan Sindoro-Sumbing yang berada di bawah pengelolaan warga dan Perhutani ini semakin tidak berbentuk.

Sebenarnya kerusakan ini juga terjadi di gunung-gunung lain. Beberapa pengelola Taman Nasional, seperti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, mengambil tindakan ekstrim dengan menutup total kawasan Gunung Semeru pada awal 2016 karena kerusakan ekosistem sudah sedemikian parah. Hal ini memang perlu dilakukan karena selama ini sistem pembatasan pengunjung dan sanksi buang sampah belum berjalan dengan baik di lapangan.

Langkah yang berbeda diambil Basecamp Taruna Jaya Giri dan Perhutani sebagai pengelola. Bukan menutup gunung, namun mereka membuat event aksi tanam pohon untuk menghijaukan kembali Gunung Andong.

Photo: Jejakku
Photo by Jejakku

Event ini dilaksanakan 23-24 Januari 2016 lalu dan direncanakan akan dilanjutkan dengan aksi perawatan bibit yang telah ditanam. Ide aksi ini patut diapresiasi dan dapat ditiru pengelola tempat wisata, pemerintah, ataupun trip organizer di Indonesia. Banyaknya traveler tetap bisa dikontrol, bahkan justru dapat digerakkan pula untuk melakukan kontribusi pada lingkungan.

Menurut Sutikno Aji, Ketua Panitia dari Basecamp Taruna Jaya Giri, sekitar 2500 bibit pohon disediakan dan 2000 pendaki terdaftar. Setiap pendaki membawa naik satu bibit pohon untuk ditanam. Banyak pendaki yang datang ke Gunung Andong khusus untuk mengikuti kegiatan tanam pohon ini. Mereka sudah pernah beberapa kali ke Gunung Andong dan hadir khusus untuk membantu menghijaukan kembali Gunung Andong. Selain pendaki dari berbagai daerah, warga sekitar, mulai dari anak-anak sampai orang tua, juga ikut naik mendistribusikan bibit pohon di titik-titik kebakaran.

Berupa lereng bekas kebakaran dengan kemiringan sekitar 30-45 derajat, area penanaman di Gunung Andong terhitung cukup sulit dijangkau. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah untuk ikut berkontribusi, untuk menanam satu pohon kecil yang nantinya akan berperan sebagai peresap air dan menjadi sumber air bagi pertanian warga di lembah. Satu pohon kecil ini nantinya juga akan berperan dalam memberikan suplai oksigen bagi sekurang-kurangnya dua manusia di Bumi. Menakjubkan, bukan?

andong1
Photo by Jejakku

Kegiatan seperti ini memperlihatkan bahwa sebenarnya masih banyak traveler di Indonesia yang peduli terhadap tempat wisata dan masyarakat. Mereka peduli dan mau membantu. Hanya saja, mereka tidak tahu caranya, atau tidak terorganisir, sehingga mereka saling menunggu untuk bergerak. Sebagian besar orang memang masih enggan mengambil inisiatif, mereka masih dalam tahap menunggu untuk digerakkan.

Penghijauan Gunung Andong kemarin merupakan contoh kombinasi bagus antara peningkatan ekonomi warga—melalui wisata alam—dan kegiatan pelestarian alam yang memberikan makna lebih bagi traveler. Jika kegiatan ini dilakukan di semua tempat wisata, setidaknya keseimbangan akan terjadi. Warga sekitar mendapatkan faedah dari datangnya traveler, sementara lingkungan sekitar tetap terjaga. Lebih dari itu traveler mendapatkan pengalaman berharga dan lebih bermakna.

Untuk itulah Jejakku sebagai marketplace trip organizer dengan challenge dan reward bagi para traveler mendukung langkah yang diambil oleh Basecamp Taruna Jaya Giri dalam aksi penghijauan gunung Andong. Jejakku juga mengajak dan bekerjasama dengan trip organizer di seluruh Indonesia untuk merancang trip atau tour yang di dalamnya terdapat kegiatan sosial yang berguna bagi masyarakat sekitar tempat wisata. Pada akhirnya, jawaban dari pertanyaan apakah alam kita akan hancur karena kerusakan atau justru akan tetap lestari dan senantiasa memberi manfaat bagi anak cucu kita, berada di tangan kita sendiri.

Kamu bisa cek keseruan Aksi Tanam Pohon di Gunung Andong dalam video dokumentasi berikut:

The world is full of good travelers. If you can’t find one, be one! #IniJejakku

SHARE TO:



Comment :