Kabupaten Sumba Barat

Perang Adat Pasola dari Tanah Sumba

Posted in 07 Oct 2016 by Sutiknyo

PASOLA Infografis telusuRI

Infografis: telusuRI

Matahari kembali keluar dari peraduannya ketika dingin masih memeluk hampir sebagian besar masyarakat Sumba. Hari ini perhelatan akbar akan digelar di Bumi Nusa Cendana ini, sebuah ritual persembahan bagi leluhur mereka yang menganut Marapu atau sejenis animisme kuno yang menjadi falsafah dasar masyarakat Sumba dalam berkehidupan. Mari ke Lamboya untuk menyaksikan Pasola.

papa Weru sang ksatria Pasola

Ratih terlihat melambaikan tangannya, memberi tanda kepada saya untuk bergegas menaiki motor dan mengikutinya. Di boncengannya terlihat seorang pria lengkap dengan pakaian adat Sumba. Dia adalah Papa Weru dari Wanokaka, seorang ksatria Sumba yang nantinya akan terjun di medan peperangan Pasola.

Sesampainya kami di tujuan, lokasi Pasola terlihat sudah cukup ramai. Kuda-kuda meringkik seolah sudah tidak sabar untuk mengantarkan para ksatria untuk “bertempur” di lapangan hijau di daerah Lamboya ini. Para ksatria terlihat sedang mendandani kuda dengan beberapa hiasan di bagian kepala. Lembing sepanjang 1,5 meter juga sudah digenggam. Para penonton pun terlihat sangat antusias dengan perhelatan ini. Tua, muda, laki-laki, perempuan, semuanya membaur dalam sebuah keriuhan.

Ksatria cilik Pasola

Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola” yang mempunyai arti lembing atau kayu. Namun maknanya menjadi sedikit lain ketika diberi imbuhan “pa” menjadi “pasola,” yang berarti sebuah permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu antardua kelompok dari atas kuda yang sedang melaju kencang. Dipercaya bahwa darah yang tercecer adalah ramuan manjur untuk kesuburan Tanah Sumba.

Awal mula Pasola sendiri mempunyai dibalut kisah romansa seorang janda cantik bernama Rabu Kaba di Kampung Waiwuang. Rabu kaba bersuamikan Umbu Dulla, salah seorang dari tiga pemimpin yang ada di Waiwuang. Hingga pada suatu saat ketiga pemimpin ini (Umbu Dulla, Ngongo Tau Masusu ,Yagi Waikaren) berpamitan untuk pergi melaut. Ternyata ketiganya pergi ke arah selatan, ke daerah Sumba Timur untuk mengambil padi.

Riuhnya Pasola

Sepeninggal para pemimpin itu rakyat Waiwuang sangat menanti kepulangan ketiganya. Namun, setelah beberapa waktu tidak ada kabar kepulangan mereka. Masyarakat desa pun menganggap ketiga pemimpin mereka itu sudah tiada, hingga mereka akhirnya menggelar upacara perkabungan. Rabu kaba bersedih ditinggal oleh Umbu Dulla. Akhirnya dia bertemu dengan Teda Gaiparno, seorang pemuda dari Kodi yang memikat hatinya. Namun keluarga mereka menentang hubungan itu, hingga akhirnya mereka kawin lari dan Teda Gaiparno memboyong Rabu kaba ke kampung halamannya.

Suasana di medan laga Pasola

Masyarakat Waiwuang lalu dihebohkan dengan kemunculan ketiga pemimpin mereka yang sudah dianggap tiada itu. Umbu Dulla mendapat laporan bahwa Rabu Kaba sang istri sudah dilarikan oleh Teda Gaiparno keluar dari Waiwuang. Akhirnya Umbu Dulla memerintahkan seluruh rakyat Waiwuang untuk mencari Rabu Kaba. Meskipun sudah ditemukan, Rabu kaba sudah dibutakan oleh cintanya kepada Teda Gaiparno sehingga ia tidak mau kembali lagi ke Waiwuang.

Akhirnya Rabu Kaba meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparno untuk menganti semua belis yang sudah diberikan oleh Umbu Dulla. Teda Gaiparno sang pujaan hati menyanggupinya hingga akhirnya mereka menggelar pesta pernikahan. Sementara itu Umbu Dulla berpesan kepada rakyatnya di Waiwuang untuk mengadakan Pesta Nyale dalam bentuk Pasola. Maksud digelarnya pesta ini adalah untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan “janda cantik” Rabu Kaba.

Saling lempar

Di lapangan terlihat semua ksatria sudah siap untuk bertanding. Selang sebentar, permainan ketangkasan ini pun dimulai. Terlihat satu orang ksatria berkuda memancing lawan dengan melemparkan lembingnya.

sering rusuh pasola di lokasi ini

Selayaknya seorang provokator, ia memprovokasi pihak lawan untuk menyerang. Dan benar, setelah lembing terlempar beberapa ksatria terlihat memacu kudanya ke tengah lapangan untuk membalas aksi provokasi tersebut. Begitulah seterusnya hingga terdengar pekikan panjang dan yel-yel seolah sedang terjadi peperangan. Saya dan Putri yang sedang asyik mengabadikan momen harus ikut penonton lain lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Keadaan kembali normal setelah seorang wakil bupati, orang yang notabene disegani oleh masyarakat, turun tangan untuk melerai.

Pertandingan di gelar kembali

Pertandingan kembali digelar. Derap kaki kuda dan lengkingan sorak-sorai penonton menjadi alunan musik alam yang menambah kesan heroiknya para ksatria Sumba yang sedang bertanding di arena Pasola. Lembing-lembing telempar ke sana kemari. Terkadang malah lolos di antara kaki penonton. Sebagai penonton saya harus berhati-hati dan waspada, sebab jika lengah lembing tersebut bisa mengenai kita, dan tidak akan ada tuntutan apapun karena ini adalah acara ritual adat.

Pekik kemenangan

Terlihat beberapa penonton malah melindungi kepalanya dengan helm. Namun selang sebentar, tepat pukul 13:00 WITA, pertandingan pun usai. Semua terlihat bergembira keluar dari arena Pasola. Darah sudah tercecer untuk kesuburan bumi Sumba. Tidak ada korban meninggal dalam acara ini, artinya para leluhur mereka di ajaran Marapu tidak marah sehingga tidak ada yang dihukum. Mendung mulai menggelayut di antara perbukitan. Tempat di mana Pasola kali ini dilaksanakan, yaitu lapangan, juga mulai ditinggalkan.

Menuju Kubur batu

 

 

SHARE TO:



Comment :