Kabupaten Sumbawa

Perpas, Pesona Belantara Sumbawa

Posted in 06 Oct 2016 by Dhave Dhanang

DCIM116GOPRO

Hutan yang masih alami dengan aliran sungai yang jernih membuat perjalanan menembus hutan untuk menuju salah satu tempat indah di Tanah Sumbawa ini begitu menyenangkan.

Seekor Iulus tampak bergeming di tempat berjemurnya meskipun derap langkah kaki menggetarkan tanah sekelilingnya. Hewan diplopoda yang pada tiap ruas tubuhnya terdapat dua pasang kaki itu adalah penghuni hutan Sumbawa yang berperan ekologis sebagai detrivor. Ditambah dengan suara garengpong (Cicada sp.) yang mengeluarkan bunyi nyaring karena gesekan sayapnya, keberadaan organisme tersebut adalah sebuah indikator bahwa sebuah lingkungan masih alami. Juntaian tumbuhan menjalar dan membelit menghiasi pepohonan besar dengan kanopi yang rapat. Hawa lembap dan sejuk begitu terasa. Inilah hutan Pulau Sumbawa yang masih terjaga.

Dari sebuah sungai kecil, kami menyusuri jalanan tanah yang menjadi akses menuju Air Terjun Perpas. Entah mengapa air terjun itu dinamakan begitu, yang pasti alirannya bermuara di Pantai Rantung, Sekongkang. Hutan yang masih alami dengan aliran sungai yang jernih membuat perjalanan menembus hutan untuk menuju salah satu tempat indah di Tanah Sumbawa ini begitu menyenangkan. Tak henti-hentinya saya mengagumi pepohonannya yang masih rapat dan spesiesnya yang beragam.

Sebuah benda yang diikatkan pada batang pohon menghentikan langkah saya. Benda yang mirip sebuah obor yang terbuat dari dedaunan kering itu membuat saya penasaran. Pak Ari yang mendampingi saya menjelaskan bahwa benda itu adalah obor untuk mengambil madu. Kepulan asap dari obor inilah yang digunakan untuk menguhalau lebah hutan. Setelah lebah pergi dari sarangnya, para pemburu tinggal memanen madunya saja. Namun setelah madu diambil lebah akan kembali ke sarangnya. Tidak salah jika Sumbawa termasyhur juga dengan madu hutannya, selain susu kuda liar tentunya.

Sumbawa1

Salah satu sarana untuk mengambil madu hutan Sumbawa yang terkenal itu. Piranti ini akan mengeluarkan asap yang mampu menghalau lebah-lebah hutan.

Sebuah bangunan berdiri di tengah hutan. Terdengar suara air mengalir deras. Ternyata itu adalah bak-bak untuk menampung aliran air sungai yang kemudian didistribusikan ke penduduk di Sekongkang. PT NNT yang membangun sarana prasarana dan perawatannya, sementara tugas PDAM lah untuk menyalurkan air ke permukiman penduduk beserta urusan manajerialnya. Sebuah pipa HDPE menjalar di permukaan tanah yang salah satu ujungnya akan menghadang air di sungai dekat air terjun.

Setelah 30 menit berjalan, dengan jarak hampir dua kilometer, akhirnya kami sampai juga di Air Terjun Perpas. “Ini bukan air terjun, tapi air melorot,” kata Pak Budi yang sibuk mengambil gambar sambil menunjukkan aliran sungai yang merayap lewat permukaan bebatuan. Lanskap air terjun memang menjadi salah satu primadona saya, sebab masing-masing tempat memiliki karakteristik tersendiri. Di Perpas, airnya mengalir begitu liar di lekuk-lekuk bebatuan. Bli Komang, yang sudah beberapa kali ke tempat ini, bahkan pernah melihatnya seperti Niagara saat musim hujan tiba. Aliran air akan tumpah ke seluruh permukaan batuan dan membentuk pola-pola aliran yang unik. Jika melihat struktur permukaan batuan, saya bisa membayangkan bahwa ada Niagara kecil di sini.

Sumbawa3

Air Terjun Perpas, yang kata Pak Budi adalah air melorot.

Saya seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Jengkal demi jengkal bebatuan di sini saya telusuri untuk melihat sudut-sudut keindahan. Entah mengapa saya begitu betah berada di tempat ini, melihat air yang jernih dan ikan-ikan berkeliaran. Sayang jika tangan kotor saya ini harus menyentuh permukaan air yang benar-benar jernih itu. Bebatuan yang menghiasi sudut-sudut cekungan air membuat komposisi menjadi menarik. Ditambah dedaunan beringin yang menguning berguguran manakala diterpa angin, tempat ini menjadi sureal.

Akan rugi sekali rasanya kalau saya tidak menyentuh puncak air terjun. Suara aliran yang deras membuat saya kepincut untuk segera sampai di singgasana tempat sang tirta mulai menghepaskan dirinya. Di kaki air terjun, sebuah kolam alami menjadi penampung. Air yang tenang memang menghanyutkan dan dalam. Lihatlah Fajri, rekan saya itu, yang melompat dari ketinggian lebih dari lima meter lalu terjun bebas ke dasar kolam. Sesaat ia menghilang dan tenggelam, kemudian menyembul dengan teriakan histeris seperti sedang mencari adrenalin yang tertumpah. Hari ini saya baru tahu bahwa di pedalaman Sumbawa ada tempat rupawan yang bernama Perpas.

 

SHARE TO:



Comment :