Kabupaten Poso

Renjana Rindu di Lembah Napu

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

napu lore5

Di Sulawesi Tengah, dari ketinggian 1200 mdpl terhampar megah lembah bak kuali raksasa.

Cokelat warna rumput yang terbakar sinar matahari. Udara dingin, meskipun sang surya bersinar terik. Kulit saya bersisik akibat hembusan udara yang kering. Berhulu di Tawaelia dan berhilir di Selat Makassar, Sungai Lariang yang konon terpanjang di bumi Celebes mengalir deras tak terbendung. Di Sulawesi Tengah, dari ketinggian 1200 mdpl terhampar megah lembah bak kuali raksasa—Lembah Napu. Demikian nama yang diberikan pada lanskap indah yang saya kunjungi pada perjalanan dari Palu menuju Poso.

Lembah Napu didominasi oleh padang rumput dan hutan lebat khas dataran tinggi. Jika di Jawa ada Lembah Bromo, di NTT ada padang rumput Gunung Mutis, di Papua ada Lembah Baliem, maka Sulawesi punya Lembah Napu.

Hampir satu setengah jam melintasi lebatnya hutan, tak seorang pelintas pun saya temukan.

Setelah melewati jembatan lengkung berwarna kuning di Kota Palu, kendaraan bertolak menuju Kabupaten Sigi. Perlu waktu dua jam untuk bisa menyentuh Lembah Napu. Perjalanan yang sangat menyenangkan sebab mata akan dimanjakan oleh pesona hutan lebat Taman Nasional Lore Lindu. Jalan beraspal mulus meskipun di beberapa ruas ada yang sudah terkelupas.

Hutan semakin lebat namun tiang-tiang listrik masih saja berbaris di pinggir jalan. Sebuah indikator bahwa di sana ada kehidupan. Semula saya kira sudah tak ada lagi peradaban di balik Taman Nasional Lore Lindu. Hampir satu setengah jam melintasi lebatnya hutan, tak seorang pelintas pun saya temukan. Rasa sepi tak tertahankan lagi. Untungnya saya ditemani empat sisir pisang seharga Rp 10.000. “Satu sisir tiga ribu, jika empat sisir sepuluh ribu,” kata penjual pisang di tepi jalan tadi.

Jalanan tiba-tiba berubah menjadi bebatuan dan menurun tajam. Sejenak saya meminta supir untuk menginjak rem dan berhenti. Mata saya yang mengantuk tak terkira karena kemarin lebih dari enam jam berkendara, mendadak terbelalak—di depan saya terhampar sebuah peradaban. Saya sulit percaya bahwa usai melintasi Hutan Lore Lindu selama hampir dua jam kami menjumpai perkampungan.

Saya sulit percaya bahwa usai melintasi Hutan Lore Lindu selama hampir dua jam kami menjumpai perkampungan.

Mobil putih ini berdiri di ujung mangkuk raksasa di tengah Sulawesi. Saatnya menuruni bibir mangkuk menuju tengah telaga raksasa berwarna kuning kecokelatan itu. Seperti mimpi, saya melihat sebuah keajaiban bentang alam. Suatu keberuntungan bisa menginjakkan kaki di sini. Lembah Napu yang sebelumnya bagi saya hanya sebuah fiksi kini menjadi realitas.

Hutan semakin lebat namun tiang-tiang listrik masih saja berbaris di pinggir jalan.

Saya berlari seperti anak kecil yang ingin memeluk ibunya yang melambaikan tangan dari jauh. Bukit-bukit mungil bermunculan dan berkarpetkan rerumputan yang menguning. Semilir angin menggoyangkan bunga-bunga graminae bak tarian massal. Saya berdiri sendiri di tengah sabana. Emosi saya membuncah tak terkira melihat imaji nyata di depan mata.

Pada 3.000-4.000 SM peradaban sudah muncul di Napu.

Dahulu kala tempat ini adalah danau raksasa hasil bentukan peristiwa geologi. Kini ia menjadi tanah yang subur. Sayur-mayur untuk Pulau Sulawesi sebagian besar dipasok dari sini. Tanaman produksi seperti kopi dan cokelat melimpah ruah dan menjadi andalan warga Napu yang sebagian besar adalah petani. Pada 3.000-4.000 SM peradaban sudah muncul di Napu, dibuktikan dengan ditemukannya situs-situs megalitikum yang tersebar di penjuru sabana.

Dari sisi utara Lembah Napu ternyata jauh lebih indah.

Hawa dingin menyeruak sebab kini saya sudah di atas 1600 mdpl. Mendaki bibir mangkuk, saya memperoleh perspektif baru. Dari sisi utara Lembah Napu ternyata jauh lebih indah. Inilah sudut yang tepat utuk melihat lembah secara menyeluruh. Pinus merkusii dan rerumputan berdaun jarum mendominasi. Sungguh perpaduan yang harmoni. Inilah renjana. Ingin rasanya berlama-lama di sini sambil bersenandika: “Lembah penuh romansa di belantara Sulawesi, suatu saat aku pasti kembali.”


Artikel ini ditulis oleh Dhave Dhanang dan sebelumnya dimuat di sini.

SHARE TO:



Comment :