Sagu Lempeng: Murah Bisa Jadi Mewah

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

Ada satu olahan sagu yang unik yang kebetulan sedang ada di depan mata ini, yakni sagu berbentuk lempeng.

“Kletak” batangan berwarna merah itu saya gigit. Keras dan rasanya ada serpihan pasir yang menyebar di lidah. Tingkah laku saya yang asli Jawa langsung disambut tawa oleh para mace dan pace Papua dan jong Ambon. Itulah pengalaman pertama saya dikerjai teman-teman dari Papua dan Ambon yang menyuguhkan sagu batangan. Benda persegi berwarna merah mirip tahu ini memang kerasnya bukan main jika digigit. Ternyata ada caranya menikmati sagu batangan ini. Tidak asal gigit dan telan mirip buaya seperti apa yang telah saya lakukan.

Sagu merupakan makanan pokok dan khas bagi penduduk Papua dan Maluku. Bahan makanan berbahan batang rumbia atau sagu (Metroxylon sago) yang sudah dipangkur tak jauh beda dengan gandum atau tapioka. Banyak ragam makanan yang dibuat dari sagu, seperti papeda, sinoli, ongol-ongol, sagu lempeng, sagu gula, sagu tumbuh, bubur ne, dan bubur mutiara. Ada satu olahan sagu yang unik yang kebetulan sedang ada di depan mata ini, yakni sagu berbentuk lempeng. Biasanya sagu yang beredar sudah dalam bentuk tepung atau butiran bulat warna-warni.

Penasaran dengan makanan satu ini, saya lantas ngobrol dengan teman-teman dari Papua dan Ambon yang sore itu sedang menikmati sagu lempeng. Sambil mendengarkan lagu Edo Kondologit berjudul Pangkur Sagu, kami menikmati sagu lempeng sambil ditemani teh panas.

Layak jadi makanan mewah

Sagu lempeng seharusnya menjadi keanekaragaman pangan dan tidak hanya dikonsumsi di Indonesia bagian timur saja, melainkan seluruh penjuru tanah air.

Sagu lempeng adalah tepung sagu yang dimasukkan dalam cetakan besi lalu dipanaskan dengan cara dipanggang. Warna merah yang muncul dari tepung sagu yang dipanaskan dalam cetakan disebut porna, demikian kawan saya dari Ambon menjelaskan. Pengolahan sagu lempeng ini sangat menarik sekali. Nilai tambah dari pengolahan ini adalah sebuah teknologi pangan untuk pengawetan. Pengawetan dengan pemanasan, yakni dengan mengurangi kadar air, mampu menghambat pertumbuhan mikroba dan jamur sehingga sagu bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Beberapa modifikasi dalam pemembuatan sagu lempeng ini juga dilakukan. Penambahan bahan-bahan seperti kacang dan gula sebagai komposisi sagu lempeng adalah modifikasi untuk memberi nilai tambah.

Soal kandungan nutrisi, sagu tak kalah dengan sumber pangan yang lain seperti padi, gandum, jagung, dan singkong. Sagu memiliki kandungan gizi karbohidrat 84,7 persen, protein 0,7 persen, dan lemak 0,2 persen. Tak salah jika masyarakat Papua dan Maluku memanfaatkannya sebagai bahan pangan. Kandungan kalori sebesar 353 kal/100 gr menjadikan sagu sumber energi yang tak kalah dengan bahan pangan lain.

colo (celup) saja sudah... kata Jong Saparua

Ternyata ada caranya menikmati sagu batangan ini. Tidak asal gigit dan telan mirip buaya seperti apa yang telah saya lakukan.

Anggapan sebagian besar masyarakat bahwa “belum makan nasi berarti belum makan” acapakali memarjinalkan makanan unik ini. Sagu lempeng seharusnya menjadi keanekaragaman pangan dan tidak hanya dikonsumsi di Indonesia bagian timur saja, melainkan seluruh penjuru tanah air. Setelah memakan sagu saya merasa kenyang walaupun rasanya asing di mulut. Tapi, enak juga, sih. Kesan aneh yang muncul pertama kali lebih karena tidak tahu. Begitu paham bagaimana mengonsumsinya saya malah menjadi ketagihan. Pagi hari sarapan barangkali cukup teh manis dan sagu lempeng. Selamat tinggal nasi untuk beberapa waktu.

 

SHARE TO:



Comment :