Kabupaten Minahasa Tenggara

Secercah Harapan di Teluk Buyat

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

IMG_5678

Tiga orang ibu-ibu tampak tergopoh-gopoh mengambil ujung jaring untuk ditarik ke pinggir pantai. Ujung jaring satunya ditarik oleh dua pria berbadan kekar.

Mata yang masih terkantuk-kantuk saya paksakan untuk memandang angkasa. Bulan yang tak utuh masih memantulkan cahaya matahari yang masih terlelap di kaki langit sebelah timur. Sebuah salib raksasa berdiri tegak berdampingan dengan tugu yang puncaknya dihiasi ornamen bulan dan bintang. Langit yang masih temaram pelan-pelan disinari sang surya yang menggeliat dari ufuk timur. Pagi ini bukit harapan terasa hangat oleh cahaya mentari pagi, dan di balik bukit ini melengkung Teluk Buyat yang satu dekade silam mengguncang dunia dengan minamata.

Masih terbersit dalam ingatan saya pada pertengahan 2004 Teluk Buyat menjadi perbicangan hangat dunia, terlebih kalangan aktivis lingkungan. Sebuah LSM menggugat PT Newmont Minahasa Raya (NMR) karena menyebabkan pencemaran di Teluk Buyat, yang ditunjukkan dengan adanya paparan arsenik dan merkuri pada perairan laut, biota laut, dan warga lokal. Dimulai pada 5 agustus 2005, persidangan kasus Buyat berakhir pada 24 april 2007. Akhir persidangan di Mahkamah Agung memutuskan untuk membebaskan segala tuduhan terhadap kasus Buyat. Itulah sekelumit tentang naik daunnya Teluk Buyat di panggung dunia—bukan karena pesona keindahan alamnya atau kekayaan lautnya namun karena tuduhan cemaran bahan kimia.

Sesaat saya melupakan kisruh masa lalu antara perusahaan tambang dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Pagi buta saya dibangunkan alarm untuk segera bersiap menjemput matahari. Semalam saya beruntung bisa menginap di mess karyawan PT NMR di Pantai Lakban. Dalam remang cahaya bulan saya berjalan pelan menyusuri aspal yang menghubungkan Pantai Buyat dan Lakban. Kedua pantai ini dibatasi oleh sebuah bukit setinggi sekitar 40 meter dan menjorok panjang ke laut sehingga seolah-olah menjadi pembatas antara kedua pantai tersebut.

14290820831909926486

Langit yang masih temaram pelan-pelan disinari sang surya yang perlahan menggeliat dari ufuk timur.

Sebuah gerbang betuliskan “Bukit Harapan” menjadi pintu masuk. Ratusan anak tangga dari semen yang dicat merah menuntun langkah kaki saya menuju puncak Bukit Harapan. Untuk mencapai puncak, saya harus melewati ratusan anak tangga dan dua pos peristirahatan yang tak mampu mengajak saya untuk sejenak mengambil nafas. Di sisi timur cahaya kekuningan mulai membuncah dan memecah kegelapan fajar.

Saya tertegun melihat sebuah prasati bertulisakan: “Jadikanlah bukit ini sebagai pelita yang memancarkan inspirasi kedamaian yang menyatukan persaudaraan serta harapan yang menguatkan rasa syukur kepada Tuhan sehingga membuat kita merasakan tidak adanya perbedaan di antara sesama manusia sebagai wujud keindahan panorama yang memancarkan pesona ragam budaya dan agama.” Prasasti ini ditandatangani oleh Camat Ratatotok, Forum Komunikasi Masyarakat Ratatotok, Kapolsek Ratatotok, dan PT Newmont Minahasa Raya.

1429082142272862484

Masyarakat di sini paham benar apa itu perbedaan budaya dan agama—ada ikatan kuat di antara mereka yang tinggal di belahan utara Celebes ini.

Sejenak saya termenung mengartikan tulisan itu dalam benak. Sebelum ada tulisan tesebut apakah ada gesekan budaya dan agama sehingga harus didirikan monumen di atas bukit? Entahlah. Yang pasti saya menemukan sebuah bangunan yang dalam satu halaman dan satu pagar ada gereja dan masjid yang berdiri berdampingan. Masyarakat di sini paham benar apa itu perbedaan budaya dan agama—ada ikatan kuat di antara mereka yang tinggal di belahan utara Celebes ini.

Akhirnya kaki ini menginjak tanah di bawah salib dan tugu bulan bintang. Inilah puncak Bukit Harapan Damai di Pantai Lakban Ratatotok. Cahaya yang sedari tadi remang berubah terang dan mentari pagi menampakkan wajahnya yang berkilauan. Dari sini terlihat Pantai Lakban yang berupa teluk, dan di ujung sana adalah Laut Ambon. Di samping kanan bukit tampak Teluk Buyat yang pernah menjadi pembicaraan dunia akibat tuduhan adanya cemaran arsenik dan merkuri. Sejenak saya berhenti untuk sekadar menikmati keindahan Bukit Harapan ini. Saya arahkan pandang ke segala penjuru.

14290822361775670887

Para nelayan bisa memperoleh lebih dari 40 kg sekali menangkap, dan sehari mereka bisa menebar jaring beberapa kali.

Tiga orang ibu-ibu tampak tergopoh-gopoh mengambil ujung jaring untuk ditarik ke pinggir pantai. Ujung jaring satunya ditarik oleh dua pria berbadan kekar. Terbersit keinginan untuk membantu. Namun apa daya; tenaga saya tak sebanding dengan kekuatan mereka. Bukannya membantu, bisa-bisa saya malah menyusahkan. Setidaknya saya mendapat ilmu bagaimana nelayan di Teluk Buyat menangkap ikan. Hampir 30 menit para nelayan itu berjibaku dengan jaring sepanjang ratusan meter yang harus mereka tarik menuju pantai.

Akhirnya kedua ujung jaring bertemu dan setengah lingkaran jaring semakin mengecil membentuk lingkaran. Setelah bagian bawah jaring disatukan, kini saatnya meringkus hasil tangkapan. Ratusan ikan berontak di tengah jaring, hendak meloloskan diri. Namun sebuah serok menerungku mereka kembali untuk masuk ke dalam kotak-kotak penyimpanan ikan. Para nelayan bisa memperoleh lebih dari 40 kg sekali menangkap, dan sehari mereka bisa menebar jaring beberapa kali. Hasil tangkapan ini mereka bagi rata dengan sesama nelayan, juragan perahu, pemilik jaring—dan ongkos minyak.

1429082281655222072

Kondisinya berbeda sekali dibanding saat tambang masih beroperasi. Teluk Buyat adalah pantai yang bersih dan tertata rapi dengan segala fasilitas yang ada.

Pada raut wajah para nelayan tersebut sepertinya tidak terbersit kenangan tentang masa lalu teluk ini. Sejak tahun ‘70-an mereka sudah tinggal dan menangkap ikan di sini. Tidak ada yang berubah dari teluk ini kecuali beberapa sarana dan prasarana yang dibangun perusahaan tambang. Sembilan tahun setelah tambang ditutup sarana dan prasarana yang sudah dibangun tampak mangkrak dan tidak terawat, dan sekarang justru menjadi keluhan. Kondisinya berbeda sekali dibanding saat tambang masih beroperasi. Teluk Buyat adalah pantai yang bersih dan tertata rapi dengan segala fasilitas yang ada. Waktu pun berubah, kejadian pun silih berganti, dan kini masih ada sebukit harapan untuk Teluk Buyat.

 

SHARE TO:



Comment :