Kota Jakarta Utara

Segarnya Es Selendang Mayang!

Posted in 07 Oct 2016 by Alan Nobita

Minuman ini disebut selendang mayang karena dahulu warna cerah yang ada di lapisan atas itu disebut “selendang” sementara warna putih di bawahnya disebut “mayang.”

Nasib jajanan tradisional es selendang mayang sekarang tak seindah namanya. Banyak yang tidak tahu atau mungkin telah lupa mengenai jajanan khas Betawi ini. Barangkali salah satu penyebabnya adalah sekarang sudah lumayan susah menemukan penjual es selendang mayang. Bahkan saya sendiri hampir lupa.

Es selendang mayang dihidangkan bukan di selendang atau kerudung, melainkan di atas mangkuk kecil berukuran hampir sama besar dengan mangkuk yang biasanya digunakan untuk menyajikan soto kudus. Salah satu komposisinya adalah adonan kenyal—lebih kenyal dari cendol—dengan tiga lapis warna. Jika diurutkan dari atas, warnanya adalah merah, putih, dan hijau.

Adonan dengan tiga lapis warna itulah yang disebut selendang mayang. Minuman ini disebut selendang mayang karena dahulu warna cerah yang ada di lapisan atas itu disebut “selendang” sementara warna putih di bawahnya disebut “mayang.” Kuliner khas Jakarta yang juga dikenal sebagai es cendol parek ini dahulunya dipercaya dapat menghilangkan panas dalam.

Sambil memikul gerobak pikulnya, ia membunyikan mangkuk kecil secara berirama sembari menengok kesana kemari seolah-olah mencari calon pelanggan.

Suatu hari saya tak sengaja berpapasan dengan penjual es selendang mayang di sebuah gang kecil. Sambil memikul gerobak pikulnya, ia membunyikan mangkuk kecil secara berirama sembari menengok ke sana kemari seolah-olah mencari calon pelanggan. Untuk menghilangkan dahaga, saya pun menyetopnya—sekaligus mendokumentasikan kuliner langka ini. Sambil menyantap es selendang mayang, saya mengajaknya mengobrol ringan. Belakangan saya tahu bahwa namanya Ade. Bang Ade sudah menjadi penjual es selendang mayang selama sepuluh tahun. Sehari-hari ia berjualan di sekitar daerah Cipayung.

Menurutnya berjualan es ini zaman sekarang berbeda dengan dahulu. Dulu banyak tanah lapang atau lapangan bola tempat banyak orang berkumpul, dari mulai anak-anak sampai yang sudah dewasa. Jika melihat ada sekelompok anak yang bermain, atau orang-orang yang sekadar bersantai, Bang Ade biasanya mangkal di sana. Kehadiran es selendang mayang pasti menarik perhatian mereka, khususnya anak-anak yang kecapaian setelah bermain. Namun seiring berlalunya waktu, tanah lapang mulai digantikan perumahan. Lalu banyak pula bermunculan kuliner minuman dingin modern yang mampu mengalahkan popularitas si es selendang mayang. Akibatnya, penjual es selendang mayang makin berkurang. Alhasil kuliner ini menjadi susah untuk ditemukan.

Belakangan ini di Kawasan Kota Tua Jakarta, muncul beberapa orang penjual es selendang mayang.

Belakangan ini di Kawasan Kota Tua Jakarta, muncul beberapa orang penjual es selendang mayang. Biasanya mereka berada di areal Museum Fatahillah pada Sabtu dan Minggu atau hari libur. Kalau mau mencicipi, coba deh datang di waktu-waktu itu. Soal rasa, nggak kalau jauh dengan minuman yang sedang nge-trend di kafe-kafe!

SHARE TO:



Comment :