Kabupaten Semarang

Fort Willem I, Benteng Belanda di Ambarawa

Posted in 06 Oct 2016 by Dhave Dhanang

benteng williem i

Di ujung jalan tampak bangunan yang sekilas menyeramkan, potret klasik bangunan peninggalan masa lalu yang terbengkalai karena tidak dirawat.

Lembap, senyap, suram, dan nyaris tanpa kehidupan. Itulah kesan pertama saya terhadap bangunan tua yang hampir terbenam di tengah-tengah sawah itu. Namanya Benteng Willem I. Namun masyarakat setempat lebih suka menyebutnya Benteng Pendem.

Ambarawa adalah kota yang penuh sejarah mengenai perjuangan bangsa ini untuk merebut kemerdekaan. Ambarawa adalah tempat yang strategis untuk membangun basis militer. Di Ungaran terdapat Barak Bantir sebagai markas kaveleri. Di pinggir Rawa Pening berdiri kokoh benteng pertahanan. Peninggalan-peninggalan kolonial Belanda saat ini masih banyak tersisa walaupun tidak semuanya yang masih tegak karena tergerus zaman.

Tulisan “Beteng Ambarawa” terbaca ketika saya memasuki benteng dari arah belakang dekat RSUD Ambarawa. Sisi kanan adalah sawah. Di ujung jalan tampak bangunan yang sekilas menyeramkan, potret klasik bangunan peninggalan masa lalu yang terbengkalai karena tidak dirawat.

Memasuki pelataran benteng, beberapa orang anak dengan riang bermain sepeda. Mereka anak-anak para petugas lapas yang tinggal di sekitar areal benteng. Benteng dengan seluas sekitar delapan hektare ini dibagi menjadi beberapa blok. Sisi selatan digunakan sebagai Lapas Kelas II A dan sisi utara sebagai barak militer atau perumahan pegawai lapas. Memang menyeramkan begitu memasuki lokasi ini. Namun penghuninya merespon dengan sangat ramah ketika saya bertanya-tanya tentang benteng ini. Meskipun begitu saya harus ikut aturan dalam birokrasi militer, yaitu “tamu harap lapor.”

benteng williem 2

Memang menyeramkan begitu memasuki lokasi ini. Namun penghuninya merespon dengan sangat ramah ketika saya bertanya-tanya tentang benteng ini.

Sejarah panjang tertoreh pada benteng ini. Selain sebagai basis pertahanan, benteng ini juga pernah digunakan sebagai penjara bagi para tawanan. Beteng atau penjara pendem—banyak yang bergidik mendengar nama lapas ini. Konon banyak perlakuan yang mengerikan diterima tawanan di penjara ini.

Bangunan benteng bujur sangkar simetris. Di tiap arah mata angin ada bangunan yang katanya garasi kendaraan tempur—tank dan truk pengangkut. Di sudut benteng ada bangunan yang berfungsi sebagai dapur, rumah, dan penjara wanita. Bangunan utama benteng konon digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik perang, kantor, barak, dan penjara. Sekilas tampak teralis-teralis besi di jendela-jendela yang tak lain adalah sisa-sisa penjara yang kokoh pada masanya dahulu.

Berbeda dari Lawang Sewu di tengah Kota Semarang yang saat ini sudah dipugar dan menjadi jujugan pelancong, benteng ini belum mendapatkan sentuhan. Barangkali jika dikelola dengan lebih serius benteng ini akan menjadi jauh lebih menarik karena tempatnya yang jauh dari keramaian. Terima kasih pada masalah pendanaan dan birokrasi yang rumit. Namun peninggalan bersejarah seperti ini mesti tetap kita jaga, seperti para sipir yang selalu menjaga napi dalam penjaranya.

SHARE TO:



Comment :