Sungai Bersih: Manusia Sehat, Bumi Selamat

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

Berawal dari belakang pabrik tekstil kami mencoba melihat kondis perairan sungai dari hulu hingga hilir (dok.pri).

Berawal dari belakang pabrik tekstil, kami mencoba melihat kondisi perairan sungai dari hulu hingga hilir. (dok.pri)

Sekitar 70 persen tubuh manusia terdiri dari air. Tiga per empat permukaan bumi ditutupi oleh air. Rasa-rasanya dua fakta tersebut menjelaskan mengapa air begitu penting bagi manusia dan bumi. Pertanyaannya sekarang: seberapa besar rasa peduli manusia terhadap air?

Saya teringat masa ketika sedang mengambil master di bidang biologi lingkungan. Dosen saya waktu itu menyuruh saya dan teman-teman untuk menyusuri keluaran air limbah tekstil dari pabrik hingga muara sungai, dari Salatiga, Semarang, Grobogan, dan berakhir di laut utara Jawa di Demak. Saat itu saya berpikir bahwa itu adalah tugas yang tidak masuk akal. Namun, demi mendapatkan nilai, mau tidak mau harus kami kerjakan. Selang beberapa setelah perjalanan panjang penelitian tersebut usai, saya dan kawan-kawan baru sadar betapa berharganya air.

Air kuning pekat berbau belerang mengucur deras dari pipa limbah tekstil. Dengan cekatan teman-teman yang sudah terbiasa melakukan penelitian segera mengambil sampel air dan mencari biota-biota yang hidup di sekitar buangan limbah. Kami berjalan menyusuri aliran sungai untuk melihat dan mencatat apa saja yang terjadi. Di setiap pertemuan sungai kami berhenti untuk mencatat faktor fisik, kimia, dan biologis. Lucunya, di salah satu bendungan kami malah sempat dihadang seseorang yang—sambil mengacung-acungkan sabit tajamnya—mengaku sebagai penjaga bendungan.

Entah berapa kilometer jalan yang kami lalui menyusuri sungai ketika itu. Seingat saya, GPS pun lebih sering berkedip karena kehilangan sinyal. Benar-benar itu adalah studi terberat yang pernah saya alami. Saking beratnya, tiga orang dari kawan-kawan saya akhirnya jatuh sakit. Ada yang kena tifus dan diare—gatal-gatal sudah pasti. Hasil penelitian kami pun mencengangkan dan sampai sekarang masih menjadi kontroversi.

Setiap ada pertemuan aliran sungai kami mengambil sampel air dan mencatat biota yang ada (dok.pri).

Setiap ada pertemuan aliran sungai kami mengambil sampel air dan mencatat biota yang ada. (dok.pri)

Saya menyaksikan fenomena yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sepanjang aliran sungai, banyak belik atau kamar mandi di pinggir sungai. Penduduk setempat memanfaatkan aliran sungai sebagai sarana MCK. Bisa kamu perkirakan sendiri berapa banyak kamar mandi dan toilet alami dari hulu hingga hilir sungai. Mungkin yang paling kenyang menerima akumulasinya adalah mereka yang tinggal di Grobogan dan Demak yang berada di wilayah muara sungai.

Aliran sungai yang ketika di hulu bersih seharusnya setiba di muara juga bersih—itu idealnya. Namun fakta berkata lain. Sungai menjadi tempat sampah raksasa yang paling panjang. Sampah organik, anorganik, bahkan limbah B3, juga ikut masuk dalam sungai. Banyak yang berpikir bahwa setelah masuk sungai masalah akan berakhir. Jawaban tersebut mungkin saja benar; maksudnya berakhir bagi yang membuang sampah atau limbah. Namun itu akan menjadi awal malapetaka bagi lingkungan dan orang-orang yang hidup sepanjang aliran sungai.

Saat ini sungai-sungai di Jawa, khususnya yang melewati perkotaan, permukiman, dan industri, statusnya sudah gawat darurat. Konon dahulu Ciliwung adalah sungai terindah di Jawa dan memiliki ikan yang melimpah. Namun seiring berkembangnya permukiman dan tumbuhnya industri, Ciliwung kini menjadi sungai beracun. Entah harus dimulai dari mana upaya penyelamatan sungai-sungai yang sudah terlanjur tercemar ini.

Dengan sepeda kami menyisir aliran sungai untuk mencatat beberapa parameter penelitian. (dok.pri)

Intinya, saat ini kita harus bisa memutus mata rantai anggapan bahwa semua masalah akan selesai di sungai—sekaligus mata rantai kebiasaan buang sampah sembarangan ke dalam sungai. Generasi muda harus disadarkan sejak dini sebab merekalah yang kelak akan menjadi tumbal dari sungai yang tercemar. Peraturan pemerintah mengenai industri yang tak ramah lingkungan harus benar-benar tegas, begitu juga mengenai tindakan warga yang kadang tidak bertanggung jawab. Sungai bukanlah tempat menyelesaikan masalah, tetapi sebaliknya bisa menjadi sumber masalah jika kita berbuat salah padanya. Dengan menyelamatkan sungai, 70 persen bagian tubuh kita akan selamat, begitu juga dengan tiga perempat bagian dari permukaan bumi. Jika air selamat, maka akan selamat pula umat manusia dan bumi beserta segenap isinya.

 

 

SHARE TO:



Comment :