Kabupaten Timor Tengah Selatan

Si Budi Kecil dari Pulau Timor

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

budi6

Memang benar tagline “sumber air su dekat.” Namun ada yang menimpali: “dekat di mata jauh di kaki.“

Dalam lamunan, saya teringat lagu “Sore di Tugu Pancoran” yang dilantunkan oleh musisi Iwan Fals: “Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu, dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal.” Lagu itu mengisahkan tentang perjuangan anak kecil yang menjajakan surat kabar untuk menyambung hidupnya. Demi itu ia rela kehilangan masa kecilnya. Apakah si Budi bahagia? Saya tak yakin. Tetapi di Timor sini saya melihat kebahagian anak-anak yang, seperti Budi, sama-sama memecahkan karang kehidupan.

Medio Oktober saya berkesemapatan mengunjungi Pulau Timor di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tepatnya Kabupaten Timor Tengah Selatan. Menjelang malam, saya menginjakkan kaki di sana setelah 2,5 jam penerbangan Jakarta-Kupang disambung jalan darat sekitar 3 jam. Menginap di sebuah guest house, hal pertama yang saya cari adalah kamar mandi karena sudah tak tahan menahan buang air—sejak dalam perjalanan tadi. Krek.. krek.. krek. Saya membuka keran yang terasa agak keras. Putaran sudah habis, tapi tak ada air yang keluar. Sesaat kemudian yang keluar hanya tetesan air saja. “Sumber air su jauh,” saya menirukan plesetan tagline sebuah iklan air minum dalam kemasan. Terpaksa hanya sisa air di bak mandi yang saya pakai.

Menjelang musim kemarau seperti ini, warga kampung harus turun gunung untuk mengambil air.

Dalam keseharian kita, kurang afdal jika mandi tanpa mendengarkan suara air yang mengucur deras. Ada rasa yang kurang jika keran air tidak mengalir. Secara kejiwaan akan berpengaruh pada sensasi kesegaran yang dirasakan jika tidak ada suara gemuruh air yang mengucur deras. Sekarang, dalam kamar mandi ini, yang saya rasakan adalah keheningan. Tengah malam begini, sesekali tetesan air membuat bulu kuduk berdiri.

“Sumber air su jauh,” saya menirukan plesetan tagline sebuah iklan air minum dalam kemasan.

Sifat manja saya langsung tertampar manakala keesokan harinya saya berjalan menuju kempung-kampung di Soe. Dengan sepeda motor trail saya melintasi jalanan tanah yang berdebu untuk melihat kampung-kampung tradisional di Pulau Timor. Ramah sapa penduduknya membuat saya merasa benar-benar diterima. Senyum merekah di bibir mereka yang berwarna merah terpulas sirih pinang yang dikunyah. Keceriaan anak-anak menjelang senja tiba adalah sesuatu yang tak bisa saya lupakan, sebab merekalah yang telah mengubah paradigma yang telah saya yakini selama ini.

Di Pulau Timor saya belajar dari anak-anak mungil ini, yang selalu bahagia dan ceria, walau terkadang seperti sengsara.

Si Budi kecil dari Timor tak mengangkat tumpukan surat kabar untuk dijajakan. Tangan-tangan mungil mereka memegang jeriken-jeriken kosong yang jika diisi dan ditimbang sepertinya sebanding dengan seperempat berat tubuh mereka. Tubuh dekil, rambut kusam, kurus, kulit hitam, namun penuh keceriaan—itulah sosok yang bisa saya gambarkan untuk anak-anak Timor. Tangan kanan dan kiri memegang jeriken tak berisi, ada juga yang tangan kiri dan kanannya memegang stang gerobak yang berisi belasan jeriken kosong.

Memang benar tagline “sumber air su dekat.” Namun ada yang menimpali: “dekat di mata jauh di kaki.“ Menjelang musim kemarau seperti ini, warga kampung harus turun gunung untuk mengambil air. Bisa saja mereka berjalan puluhan meter, ratusan meter, bahkan berkilo-kilo untuk mendapatkan air. Sebagai kebutuhan hidup, air kini menjadi barang langka akibat musim kering yang panjang.

Dengan kaki telanjang mereka berjalan sambil menenteng jeriken atau mendorong gerobak.

Begitu melihat anak-anak yang berjuang mati-matian untuk mendapatkan air, keluhan saya tadi malam rasa-rasanya sama sekali tak berasalan. Yang membuat saya tertegun adalah anak-anak ini begitu gigih untuk memanen air dari sumber yang cukup jauh dari rumah mereka. Dengan kaki telanjang mereka berjalan sambil menenteng jeriken atau mendorong gerobak. Begitulah cara anak-anak Timor mengisi waktunya. Hampir semua anak melakukan demikian. Di sini anak-anak bertahan hidup, bermain, menikmati masa kecilnya dengan cara yang kadang tak lazim bagi anak-anak kota.

Setiap anak yang tinggal di beragam tempat akan memiliki kisah hidupnya masing-masing. Sangat naif jika membandingkan anak-anak Timor ini dangan mereka yang tinggal di kota besar dengan zona nyamannya. Jangankan mengambil air di sungai, mengambil air untuk minum dari dapur saja minta tolong pembantu—demikian mungkin kisah anak yang tinggal di kota. Perjalanan ini membuat saya belajar banyak tentang kehidupan. Ternyata, sesuatu yang menurut kita sebuah penanda kesengsaraan kadangkala justru adalah sisi bahagia kehidupan mereka. Bukankah tokoh-tokoh terkenal di Republik ini dulunya anak-anak yang sengsara tetapi berbahagia menjalaninya?

Di sini anak-anak bertahan hidup, bermain, menikmati masa kecilnya dengan cara yang kadang tak lazim bagi anak-anak kota.

Saya teringat sebuat nasihat: “Janganlah kiranya merampas hak anak untuk menghadapi masalah dan mencari solusinya, karena itu adalah proses belajar tentang kehidupan buat bekal mereka.“ Di Pulau Timor saya belajar dari anak-anak mungil ini, yang selalu bahagia dan ceria, walau terkadang seperti sengsara. Alam yang keras sudah mendidik anak-anak ini dengan kerasnya kehidupan untuk bertahan hidup. Dan mereka bahagia. Lalu bagaimana dengan kita?


Artikel ini ditulis oleh Dhave Dhanang dan sebelumnya dimuat di sini.

SHARE TO:



Comment :