Kabupaten Sumbawa

Pesona Sisi Selatan Sumbawa

Posted in 06 Oct 2016 by Dhave Dhanang

g5

Sinar kuning semburat bekilauan nampak kontras dengan mega mendung berwarna kelabu yang hampir memupus harapan sore ini.

Saya baru sadar bahwa remahan cangkang kerang yang saya injak ini dahulunya adalah dasar laut. Oleh aktivitas tektonik, dasar laut ini terdesak hinggga akhirnya menyembul ke permukaan. Namun, kekuatan vulkanik juga berperan manakala pulau yang saya pijak ini pernah menggemparkan dunia pada tahun 1815, yakni meletusnya Gunung Tambora. Bagi yang belum tahu, saya sedang melayangkan padangangan ke hamparan samudra biru yang mengelilingi Tanah Sumbawa.

Dari kejauhan samar-samar tampak papan selancar terhempas ombak laut selatan. Tak berapa lama kemudian seseorang menyembul ke permukaan. Pantai Tropika sisi timur adalah favorit para penikmat ombak. Di sisi barat ini, tempat saya berdiri, para nelayan masih sibuk merapikan jaring-jaring ikan yang akan ditebar sesaat lagi.

1423042128674697767

Dari sela-sela ombak di pantai muncul seseorang yang membawa speargun di tangan kanan.

Dari sela-sela ombak di pantai muncul seseorang yang membawa speargun di tangan kanan. Di tangan kirinya ikan bergelantungan. Dari wetsuit dan kacamata selam yang ia kenakan, jelas sekali ia baru saja kembali dari berburu ikan di dasar laut selatan. Tiga hal yang kontras di Pantai Tropika ini: peselancar, pemanah ikan, dan nelayan-nelayan yang sedang bersiap-siap angkat sauh.

Beberapa orang asing tampak santai menikmati senja sambil bersandar di sebuah gazebo. Mereka adalah para peselancar yang baru saja berjibaku dengan ombak dan berusaha untuk menaklukkannya dengan cara meliuk-liuk di atas papan. Menjelang petang kami sama-sama menikmati pemandangan alam. Namun sayang kabut hitam keburu datang bersama malam. Sembari bangkit dari pasir, saya berdoa semoga diberi kesempatan lain untuk mengunjungi Pantai Tropika.

14230422301286839927

Peselancar yang sedang berjibaku dengan ombak dan berusaha untuk menaklukkannya dengan cara meliuk-liuk di atas papan.

Daun spinifek yang mulai menguning menunggu giliran untu lepas dari tangkainya, sebelum memohon pada sang bayu untuk menggelidingkannya ke atas hamparan pasir putih. Senja ini saya di Pantai Rantung, Sumbawa Barat sisi selatan. Seekor anjing tampak bermalas-malasan, seperti sudah bosan dengan keindahan yang ada di depan matanya. Saya sendiri masih antusias menunggu detik-detik terbenamnya sang surya yang hendak merangkak menuju peraduannya.

1423042285609951283

Di bibir pantai dengan ombak yang deras, seorang nelayan yang dibantu anaknya sedang menarik-narik tali pancing.

Di bibir pantai dengan ombak yang deras, seorang nelayan yang dibantu anaknya sedang menarik-narik tali pancing. Usahanya berjalan dari ujung ke ujung pantai sambil menarik pelan kenur yang sudah dipasangi mata kail model rawai dengan umpan udang dari karet membuahkan hasil. Seekor ikan berhasil dia daratkan. Dengan girang ia menyambut ikan pertamannya senja ini. Kembali kenur digulung, lalu bagian ujungnya yang sudah diikat dengan pelampung dilemparkan ke laut agar ombak menyeretnya ke tengah. Salah satu teknik memancing di pantai berombak besar.

Juntaian sulur Ipomoea pescaprai menjulur ke sana kemari bahkan ada yang hendak melilit batang pandan laut. Saya berdiri di pematang pasir yang bibirnya sudah terabrasi untuk melepas semua pandangan ke samudra luas. Bukit-bukit karang yang sudah tegerus ombak mengirimkan sinyal-sinyal imajiner berupa bayangan kepala hiu yang nongol dari batuan. “Itu mulut hiunya. Dekatkan kamera di sana, tepat orang yang sedang berjalan,” kata pak Budi yang menemani saya berburu matahari terbenam. “Mulut hiu” menjadi bingkai subjek yang hendak saya bidik. “Saat-saat tertentu matahari bisa dimakan hiu saat sunset,” kembali pak Budi bercerita.

1423042424907898161

“Saat-saat tertentu matahari bisa dimakan hiu saat sunset,” kembali pak Budi bercerita.

Nama Pantai Rantung diambil dari nama sebuah kafe. Di timur ada Pantai Yoyo, juga diambil dari nama kafe yang berdiri di tepi pantai tersebut. “Mungkin untuk menemakan sebuah pantai perlu didirikan kafe atau kedai makanan dulu ya?” kelakar saya pada pak Budi yang masih gusar mencari sudut tembak yang menarik. Akhirnya kami berjalan sendiri-sendiri mencari lekuk-lekuk Pantai Rantung.

Sumbawa adalah pulau yang dianugerahi pesisir yang indah. Sisi selatan berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, sisi utara dengan Laut Bali sedangkan barat dan timur berupa selat. Akhirnya setelah hampir satu minggu di Sumbawa saya mendapatkan matahari terbenam yang begitu memukau. Sinar kuning semburat bekilauan nampak kontras dengan mega mendung berwarna kelabu yang hampir memupus harapan sore ini. Perlahan sang surya tenggelam menuju kaki langit di belahan bumi barat.

1423042840483071720

Salah satu pantai yang populer adalah Pantai Maluk.

Salah satu pantai yang populer adalah Pantai Maluk. Pantai ini ramai karena memiliki sarana dan prasarana yang memadai—akses jalan yang bagus, pertokoan, dan beberapa rumah makan. Pantai yang sudah dipasangi penghalau ombak ini biasanya digunakan untuk bersantai. Pantai yang ombaknya yang tidak sebesar gelombang Pantai Tropika atau Rantung menjadi tempat yang pas untuk berenang. Bagi yang mau berolahraga, di pantai ini ada lapangan voli pantai. Sambil menunggu matahari kamu bisa menghabiskan waktu dengan mengeluarkan keringat.

Bagi penikmat kuliner, Pantai Maluk adalah pilihan yang tepat. Beberapa kedai makanan menyediakan makanan laut. Namun yang mesti kamu coba adalah makanan khas Sumbawa, yakni Rarit, dendeng sapi yang dibumbui dan dipotong-potong. Jika di Sumbawa diberi nama Rarit, maka jika di Sumba dinamakan Sei. Berwisata kuliner sambil menikmati pesona lanskap adalah kombo yang akan kamu dapat ketika berkunjung ke Sumbawa Barat.

1423042904458661232

Bagi yang mau berolahraga, di pantai ini ada lapangan voli pantai.

Meskipun malam telah datang, perjalanan hari itu ternyata belum usai. “Mari kita memotret Pelabuhan Benete. Sepertinya Newmont sedang bongkar konsentrat,” kata Pak Budi. Langsung saya iyakan. Dari Pantai Rantung di Sekongkang kami berkendara menuju Maluk selama sekitar 45 menit. Tepat pukul 10 malam kami sudah berada di pelabuhan rakyat di Benete. Baru saja meletakkan penyangga kaki tiga untuk kamera, petugas keamanan mengusir kami sebab pelabuhan hendak ditutup.

14230429461766889803

Walaupun terhalangi bangunan pelabuhan, malam ini kami ingin melukis nyala lampu-lampu pelabuhan milik PT NNT dan kapal besar pemuat konsentrat.

Akhirnya Pantai Benete yang tak jauh dari pelabuhan menjadi pilihan kami. Walaupun terhalangi bangunan pelabuhan, malam ini kami ingin melukis nyala lampu-lampu pelabuhan milik PT NNT dan kapal besar pemuat konsentrat. Lampu-lampu berpijar menerangi sudut-sudut pelabuhan sekaligus memandu belalai-sabuk roda-berjalan memuntahkan konsentrat dari gudang menuju lambung kapal. Malam ini saya rela membakar sensor hampir tiga menit untuk merekam pemandangan pelabuhan, meskipun kadang harus berjibaku melawan nyamuk.

 

SHARE TO:



Comment :