Kabupaten Timor Tengah Selatan

Tak Mungkin Nyasar di Pulau Timor

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

t3

“Mas, itu ke arah Pika. Berlawanan dengan arah tujuan Mas,” kata seorang ibu berkebaya tais saat saya bertanya arah jalan. Sial memang hari itu. Gara-gara di pertigaan jalan ada yang berjualan pakaian di mobil pikap dan menutup jalan, saya berbelok ke arah yang salah. “Nanti setelah tiga bukit dan dua sungai, Mas lurus saja terus lalu belok kanan,” kata sang ibu membetulkan arah perjalanan saya. Saya melirik miris ke garis bensin yang menipis di dashboard sepeda motor—sebuah kenangan di Pulau Timor.

t7

Pagi buta, saat semua masih terlelap, kuda besi dengan pelan saya tuntun keluar garasi. Hanya gonggongan anjing kampung yang menjadi penanda aktivitas saya pagi itu. Pulau Timor masih gelap gulita walaupun di sisi timur temaram mulai berubah terang. Motor yang dirancang untuk medan off-road ini pelan-pelan saya panasi sebelum nanti saya ajak lari pagi. Agak susah memang menyalakan motor yang semalaman meringkuk kedinginan disalut angin selatan yang beku.

t5

Pulau Timor saya jelajahi pagi-pagi. Kuda besi berlari lincah meliak-liuk di tanah putih berbatu. Sisi kanan-kiri adalah sabana dan pohon ampupu (Eucalyptus urophylla) khas tanah Timor. Udara yang dingin tak menghalangi saya menjelajahi Kabupaten Timor Tengah Selatan yang beribukota di Soe, salah satu kota terdingin di Pulau Timor yang berada pada ketinggian sekitar 900 mdpl.

t1

Hal yang paling menyenangkan adalah menjelajah daerah-daerah yang jarang dijamah. GPS selalu menjadi penuntun yang sabar walau kadang-kadang menjengkelkan saat tidak mendapat sinyal dari satelit atau baterai habis. Penduduklah yang menjadi petunjuk yang sangat ramah, meskipun terkadang membuat hati kecil. “Ah, dekat, Mas. Hanya lewat beberapa bukit. Nanti setelah jembatan keempat belok kanan lurus dan rumah terakhir. Itu sudah,” begitu jawab mereka saat ditanya di mana rumah Kepala Desa. Jawaban yang ringan, namun secara misterius malah membuat sangat berat bagi kaki untuk melangkah.

t2

Sembari melibas jalanan berbatu, anak-anak yang masih berseragam merah-putih berjalan bergerombol beradu dengan debu dan waktu. Mereka meretas masa depan dengan cara yang keras. Jika kedapatan oleh para pembawa acara talkshow, pastilah mereka bakal masuk TV karena kegigihan mereka bersekolah. Namun di sini itu adalah hal yang lumrah—saya yakin semangat mereka akan membuat Pak Menteri Pendidikan akan tersenyum bangga.

Baca: Pantai Kolbano, Timor Tengah Selatan

Ketika dinikmati jengkal demi jengkal, Pulau Timor benar-benar membuat jatuh hati. Menjelang siang, matahari bersinar begitu terik seolah tak memberikan kesempatan kepada gemawan untuk menjadi tabir surya melainkan hanya numpang lewat saja.

Kembali kuda besi merengek meminta minyak. Saya buru-buru menembus perkampungan berharap ada yang menjual bensin eceran. Di ujung desa, tepat usai tanjakan curam, katanya ada yang jual bensin. Itu pun jika tidak kehabisan. Kali ini saya beruntung. Tangki kuda besi terisi penuh, bonus satu botol air mineral berisi bensin cadangan. Baru kali ini saya mengendarai sepeda motor sambil menggendong sebotol bensin dalam tas.

t4

Sore menjelang. Langit semakin sayu. Sang bayu mulai meniupkan nafas dari Australia. Alhasil, udara dingin mulai menyeruak. Inilah kekhasan Pulau Timor. Sementara siang begitu panas, malam hari sebaiknya jangan kemana-mana—dingin sekali. Mendongaklah ke cakrawala. Kilo 12, begitu orang menyebutnya. Sebuah bukit dengan panorama indah. Di ujung barat puncak bukit ini terlihat Gunung Molo dan Mutis yang merupakan puncak tertinggi Pulau Timor.

Baca: Kilo 12, Eropa Kecil di Nusa Tenggara Timur

Cahaya temaram sang surya mulai melemah, digantikan oleh gemintang yang kerlap-kerlip menghias langit malam. Sekarang langit berhiaskan lengan galaksi Bimasakti dikelilingi klaster konsetelasi. Sabana yang luas beralaskan rumput yang mulai menguning adalah ranjang raksasa yang empuk untuk sesaat merabahkan badan. Mata nanar menatap kaki cakrawala hingga zenith tanpa dihalangi segaris pun awan. Langit begitu bersih. Tak salah jika isunya observatorium mau dipindahkan ke sini. Bintang terlihat sangat indah, komet-komet berseliweran tidak memikir akan saling bersenggolan, cahaya-cahaya semu kerlap-kerlip dari jarak jutaan tahun cahaya.


t6

Tubuh yang lelah ini pun terlelap. Balutan kantung tidur akan menjadi selimut yang hangat hingga fajar tiba—akan saya cari tahu sendiri apakah gemeletuk gigi akan terdengar gegara kedinginan. Tuhan kembali memutar hari. Malam pertama di Pulau Timor terlewati. Sekilas saya melihat kalender saku—masih tiga minggu lagi!


Artikel ini ditulis oleh Dhave Dhanang dan sebelumnya dipublikasikan di sini.

SHARE TO:



Comment :