Kabupaten Pohuwato

Torosiaje, Venezia Kecil dari Sulawesi

Posted in 06 Oct 2016 by Ervina Talalu

IMG_23813631225587

Desa ini dihuni oleh suku Bajo yang dikenal sebagai pelaut ulung.

Rumah-rumah yang dibangun tanpa fondasi tersebut dari kejauhan terlihat hampir sama—memanjang, beratap seng, lantai dan dindingnya terbuat dari papan, dan disatukan dengan tonggak kayu yang saling berhubungan. Antara satu rumah dan lainnya dihubungkan oleh jembatan menyerupai koridor memanjang. Jembatan itu pula yang berfungsi sebagai jalan utama yang memisahkan kedua blok permukiman terapung tersebut. Uniknya, setiap koridor atau gang memiliki nama jalan layaknya jalan di darat.

Hanya perlu waktu lima menit untuk mencapai pintu gerbang utama desa terapung ini. Masyarakat Bajo menamakan angkutan perahu dayung yang melayani transportasi dari dan ke perkampungan terapung itu sebagai ojek perahu. “Ojek” itulah yang membawa kami ke rumah pemilik penginapan yang akan kami tempati.

Desa terapung ini bernama Torosiaje. Terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, desa unik ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar delapan jam dari Kota Gorontalo. Desa ini dihuni oleh suku Bajo yang dikenal sebagai pelaut ulung. Suku Bajo tidak hanya bermukim di pesisir laut Gorontalo seperti Torosiaje saja, namun juga tersebar di seluruh nusantara, seperti di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Togean (Sulawesi Tengah), Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Papua.

Sebelumnya, saya pernah bertemu dengan orang Bajo Togean, Sulawesi Tengah. Kehidupan mereka di sana sangat berbeda dengan suku Bajo di Torosiaje. Masyarakat Bajo di Kepulauan Togean belum tersentuh modernisasi. Sebaliknya, di Kampung Torosiaje, sarana dan prasarana umum seperti sekolah, lapangan tenis, kantor desa, fasilitas MCK, dan rumah adat sudah tersedia dan tertata rapi.

IMG_23919491638185

Uniknya, setiap koridor atau gang di Torosiaje memiliki nama jalan layaknya jalan di darat.

Rumah makan, penginapan, sampai jajanan khas kaki lima seperti siomay, bakso, dan nasi goreng yang biasanya kita jumpai di darat juga bisa ditemukan di sini. Kebutuhan sehari-hari seperti sayuran, rempah-rempah, dan bumbu dapur, dijual di pasar dadakan yang digelar secara terbuka di gang-gang yang biasa dilalui orang. Setiap rumah pun sudah dialiri listrik. Rasa khawatir yang sempat muncul dalam benak saya apabila tidak menemukan penginapan atau penjual makanan perlahan menghilang. Fasilitas di desa ini sudah memadai. Masyarakat Bajo bahkan sudah mengenal alat komunikasi seperti telepon seluler. Modernisasi bukanlah alien bagi mereka.

Salah satu yang menjadi masalah bagi mereka adalah ketersediaan air bersih. Untuk kebutuhan air minum, mencuci, dan memasak, para penduduk harus mengangkut air bersih dari kampung sebelah menggunakan perahu. Fasilitas PDAM belum berfungsi sebagaimana mestinya. Namun aktivitas nelayan yang mengangkut air di pagi hari justru menjadi pemandangan unik di sela-sela hiruk-pikuk desa terapung Torosiaje.

Laut adalah sumber kehidupan bagi masyarakat Bajo. Oleh karena itu kehidupan mereka tidak pernah lepas dari aktivitas yang berhubungan dengan laut. Meskipun suku Bajo sekarang hidup seperti manusia “biasa” yang tinggal di darat, nenek moyang mereka dikenal sebagai gipsi laut yang lahir dan beranak pinak di laut.

Walapun sudah tersentuh dunia luar atau modernisasi, suku Bajo Torosiaje tetap memegang nilai-nilai luhur budaya yang mereka anut. Mereka tetap menjaga kelangsungan habitat atau lingkungan tempat tinggal dengan tidak melakukan tindakan illegal atau merusak lingkungan. Tidak ada sampah berserakan. Semua serba teratur dan tertata rapi dan bersih. Laut sebagai sumber rezeki tetap mereka jaga untuk keberlangsungan hidup anak cucu mereka.

SHARE TO:



Comment :