Kabupaten Tana Toraja

Rambu Solo: Tradisi Pemakaman Khas Toraja

Posted in 06 Oct 2016 by Hari Suseno

971449_3240068656132_783155624_n (2)

Masyarakat Tana Toraja percaya bahwa kematian seseorang belum sempurna jika yang ditinggalkan belum menggelar upacara pemakaman Rambu Solo.

Ke Toraja tidak lengkap rasanya kalau tidak menyaksikan sebuah tradisi yang masih melekat kuat di masyarakatnya, yaitu upacara adat Rambu Solo. Tana Toraja yang terpaut sekitar 300 km dari Makassar ini bisa ditempuh sekitar 8 jam perjalanan menggunakan mobil. Akan lebih efektif kalau berangkat malam hari dan sampai pagi hari. Pagi hari pastinya sudah sampai di Kete Kesu, yaitu salah satu desa wisata dengan deretan tongkonan alias rumah tradisional Toraja.

Pagi itu, meskipun acara Rambu Solo belum dimulai masyarakat sudah riuh berkumpul dalam keramaian. Beberapa turis asing juga ikut serta menikmati acara. Rambu Solo adalah suatu prosesi pemakaman masyarakat Tana Toraja. Prosesi ini tidak seperti prosesi pemakaman pada umumnya.

Masyarakat Tana Toraja percaya bahwa kematian seseorang belum sempurna jika yang ditinggalkan belum menggelar upacara pemakaman Rambu Solo. Menurut mereka kematian adalah proses menuju puya atau dunia akhirat. Melalui upacara Rambu Solo inilah masyarakat Tana Toraja menunjukkan rasa hormat mereka pada leluhur.

Secara garis besar upacara pemakaman terbagi menjadi dua prosesi, yaitu prosesi pemakaman (rante) dan pertunjukan kesenian. Melalui kedua acara tersebut kita bisa menyaksikan nilai-nilai kebudayaan yang sampai sekarang masih dipertahankan oleh masyarakat Tana Toraja.

Prosesi-prosesi tersebut tidak dilangsungkan secara terpisah melainkan saling melengkapi dalam menjadi satu dalam keseluruhan upacara pemakaman. Pertunjukan kesenian dilaksanakan tidak hanya untuk memeriahkan acara tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi orang yang sudah meninggal. Kebetulan waktu itu ada pertunjukan beberapa musik daerah dan adu kerbau, sebelum kerbau-kerbau tersebut dikurbankan.

SHARE TO:



Comment :