Kota Semarang

Wayang Potehi, Peninggalan Sejarah yang Hampir Terlupa

Posted in 19 Jan 2017 by telusuRI

wayang potehi

Wayang potehi berasal dari daratan Cina Selatan dan mulai dikenal sejak zaman Dinasti Tsang Tian.

Tetabuhan dimulai. Gembreng, simbal, cheh dan puah, seruling, rebab hingga tambur menghadirkan harmonisasi khas yang pecah khas pengiring pertunjukan barongsai. Sebuah boneka kaisar berbaju hitam muncul dari jendela panggung berwarna merah yang berbentuk rumah berhiaskan gambar naga.

Ini adalah pertunjukan wayang potehi. Berasal dari daratan Cina Selatan, kesenian ini mulai dikenal sejak zaman Dinasti Tsang Tian. “Potehi” berasal dari akar kata poo (kain), tay (kantong), dan hie (wayang). Makanya banyak juga yang mengenal wayang potehi sebagai "wayang kantong."

Wayang potehi dimainkan dengan tangan. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain (baju wayang) lalu ibu jari dan kelingking mengendalikan tangan si wayang. Sedangkan tiga jari tengah mengendalikan kepala. Di setiap pertunjukan wayang potehi, seorang dalang akan dibantu oleh seorang asisten. Biasanya masing-masing dari mereka akan memainkan dua buah wayang.

Wayang potehi juga ikut unjuk gigi pada Festival Loenpia Jazz 2014 yang digelar beberapa waktu lalu. Pertunjukan wayang potehi ini cukup menyita perhatian dari penonton yang memenuhi panggung Klenteng Ling Hok Bio sore itu. Ceritanya tentang peperangan seorang jendral bernama Pang Juan dan para tentaranya melawan pasukan Korea untuk menyelamatkan empat kota di Tiongkok.

Dalam pertunjukan-pertujukannya, cerita yang diangkat wayang potehi bervariasi. Dulunya para dalang hanya menampilkan lakon yang berasal dari kisah-kisah Tiongkok. Namun, belakangan wayang potehi juga mengambil beberapa cerita dari novel seperti Se Yu dengan lakon kera sakti.

Awal mula masuk Indonesia, wayang potehi masih dimainkan dalam dialek Hokkian. Sekarang, orang kebanyakan pun bisa menikmati wayang potehi dalam bahasa Indonesia. Bagaimana? Berminat nonton wayang potehi?

 

SHARE TO:



Comment :