Kabupaten Ende

Berkunjung ke Danau Kelimutu

Posted in 05 Oct 2016 by telusuRI

kelimuttu

Masyarakat setempat, suku Lio, meyakini bahwa kawah-kawah Gunung Kelimutu merupakan tempat berdiamnya arwah-arwah mereka yang telah tiada. (dok. Afriandi Syahfril)

Berkunjung ke nusa bunga, Flores, rasanya tak akan lengkap kalau belum menjejakkan kaki di puncak Gunung Kelimutu. Dari titik tertinggi Gunung Kelimutu kamu bisa menikmati keindahan Danau Kelimutu, danau tiga warna yang pernah diabadikan dalam pecahan lima ribuan. Terletak di Desa Moni, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, danau ini berada di kawasan Taman Nasional Kelimutu. Letaknya cukup tinggi, sekitar 1,777 mdpl. Dingin? Jelas. Jadi pastikan kamu tidak mengunjungi danau ini dengan balutan busana musim panas.

Juli tahun lalu, saya beruntung mendapatkan kesempatan mengintip indahnya panorama unik yang kental dengan unsur mistis tersebut. Bertolak dari Kota Ende, kami menempuh perjalanan darat selama hampir dua jam. Memasuki kawasan gunung vulkanik Kelimutu, hamparan awan putih menyertai perjalanan kami.

Setelah mobil diparkir, kami segera mendaki jalan setapak yang berakhir di puncak, yang dari sana kami dapat melihat Danau Kelimutu menampakkan pesona tiga warnanya. Sebenarnya danau itu bukanlah satu danau yang memiliki tiga warna, namun terdiri dari tiga kawah dengan warna-warna yang berbeda. Kawah-kawah tersebut berbatasan langsung dengan biru langit, putih awan, coklat tebing, dan hijau tetumbuhan. Sungguh mengesankan.

Masyarakat setempat, suku Lio, meyakini bahwa kawah-kawah Gunung Kelimutu merupakan tempat berdiamnya arwah-arwah mereka yang telah tiada. Setelah bertemu dengan sang penguasa, Konde Ratu, di gerbang Perekonde, para arwah memasuki salah satu danau, tergantung usia dan perbuatannya selama di dunia. Tiga danau (tiwu) tersebut adalah Tiwu Nuamuri Ko’ofai (danau arwah muda-mudi) dan Tiwu Ata Mbupu (danau arwah orangtua yang bijaksana) yang bersisian, serta Tiwu Ata Polo (danau arwah orang jahat) di sisi lainnya.

Pada uang kertas lima ribuan edisi lama, Danau Kelimutu berwarna merah, biru, dan putih. Setelahnya, warna ketiga danau tersebut terus berubah, dipengaruhi oleh aktivitas vulkanis gunung, suhu, pembiasan cahaya matahari, mikrobiota air, zat kimia terlarut, juga pantulan warna dinding dan dasar danau. Pernah pula ketiga danau ini berwarna seragam. Saat saya berkunjung kemarin, Tiwu Nuamuri Ko’ofai tampak berwarna hijau zamrud, sementara Tiwu Ata Mbupu indah dengan warna hijau toskanya, dan Tiwu Ata Polo dengan warnanya yang hitam pekat.

Masyarakat setempat percaya bahwa perubahan warna ketiga danau tersebut menunjukkan gejala alam yang akan timbul, entah gunung meletus, longsor, gempa bumi, atau fenomena-fenomena alam lainnya. Konon gempa besar yang meluluhlantakkan Flores pada tahun 1992 silam pun sudah diramalkan oleh perubahan warna ketiga danau ini.

Pesona tiga warna kawah hasil letusan Gunung Kelimutu tak akan saya lupa. Menjelang petang hari itu, dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan Tuhan menyibak selimut kabut Kelimutu, menampakkan pada saya ciptaan-Nya yang luar biasa dan tiada duanya di dunia. Di tempat yang disakralkan tersebut, saya berdoa agar pariwisata Indonesia mendunia. Bukan hanya ke belahan bumi lain, namun juga “mendunia” di kalangan rakyatnya sendiri.

SHARE TO:



Comment :