Kabupaten Sigi

Raego, Tari Warisan Leluhur yang Tak Luntur

Posted in 18 Jan 2017 by Nisa Syahidah

IMG_7603 - Copy

Raego yang ditampilkan pada acara Pompede Lobo Ngata Toro (peresmian rumah adat lobo Desa Toro).

Bunyi toki alat musik bambu kakula terdengar di desa ini, Porelea; permukiman Kulawi subetnis Uma yang merupakan bagian dari Kecamatan Pipikoro, ujung selatan Kabupaten Sigi. Kakula berhenti berbunyi, terdengar sorak sementara sekelompok orang tua paruh baya berkumpul membentuk lingkaran. Mereka mengenakan pakaian adat: laki-laki dengan siga di kepala dan guma (parang adat) di pinggang, sementara wanitanya anggun dengan setelan topi (rok susun tiga) dan halili (baju adat), lengkap dengan aksesori manik-manik.

Di tengah lingkaran, terlebih dahulu totua ngata (tetua desa) meraih guma dan menempelkannya di atas kepala satu di antara mereka. Mulutnya mengucap kalimat-kalimat dalam bahasa Uma. Tangan mereka kemudian saling bertaut: tangan kiri laki-laki memegang pundak kanan sesamanya, tangan kiri perempuan saling menyentuh lengan kanan atas. Kaki-kakinya mulai maju mundur dan menghentak. Syair Kulawi kuno sambil terdengar, mereka lantunkan sementara bergerak.

Itulah raego, tarian warisan leluhur suku Kulawi yang terdiri atas tiga subetnis: Moma yang bermukim di Kecamatan Kulawi, Tado di Kecamatan Lindu, dan Uma di Kecamatan Pipikoro. Ketiganya dahulu bernaung di bawah satu kecamatan, Kulawi induk, yang kemudian dimekarkan sejak enam tahun belakangan. Terdapat sedikit perbedaan dalam pembawaan raego oleh ketiga subetnis ini, baik dari gestur maupun dialek bahasa yang digunakan. Namun esensi asalnya tetap sama, sebuah penghormatan terhadap Dzat yang kuasa-Nya di atas mereka.

Adapun raego Pipikoro yang dibawakan oleh Porelea telah sukses mewakili Kabupaten Sigi pada ajang tari nasional di Bali dan Yogyakarta beberapa waktu silam. Tak hanya itu, sejarah di Porelea juga mencatat adanya Vatu Poraelea, situs batu peninggalan masa kepercayaan animisme-dinamisme yang dahulu tingginya mencapai dua meter. Karena timbunan longsor, ia kini hanya berupa batu lebar yang tak lebih tinggi dari mata kaki. Di sanalah pada awalnya para wanita Uma zaman dahulu menaruh saji, bernyanyi (mporelea), dan menarikan raego sebagai doa untuk suami-suami mereka, para tadulako (panglima perang) yang turun dalam perang suku dengan Seko di Sulawesi Selatan.

Berumur ratusan tahun, raego telah muncul jauh sebelum masa penjajahan Belanda, bahkan sebelum masyarakat mengenal agama. Ia merupakan seni gerak yang syair-syairnya banyak bertutur mengenai kehidupan manusia pada umumnya. Mulai dari tata cara berkeluarga, persahabatan, hubungan antar desa, perencanaan berkebun sejak pembukaan lahan, cara memaras, menebang, menanam, sampai pada acara panen.

Raego ditampilkan secara berkelompok dan dipertontonkan dalam upacara-upacara adat Kulawi, misalnya seperti Vunja (ucapan syukur panen) atau Halia Todea (upacara pernikahan). Tarian ini juga dapat ditampilkan secara berpasangan. Dalam sebuah selebrasi budaya bertajuk Pompede Lobo (peresmian lobo, rumah adat suku Kulawi) di Wilayah Adat Ngata Toro, Kecamatan Kulawi, raego ditampilkan oleh muda-mudi yang melingkar berpasangan. Posisi laki-laki berdiri di sebelah kanan perempuan, dengan tangan kiri yang merangkul pundak pasangannya.

Tari raego bukan tergolong pop-culture. Gerakannya yang sederhana tanpa diiringi alat musik, dan bahasanya yang merupakan karya sastra Kulawi kuno; sejatinya menjadikan raego sebuah produk high-culture yang eksistensinya rentan luntur. Popularitasnya, terutama di kalangan generasi muda, kalah dengan dero, tari komunal khas muda-mudi, asimilasi musik tradisional dan modern yang merupakan serapan budaya Poso.

Dari tiga belas desa yang dihuni subetnis Uma di Kecamatan Pipikoro pun, hanya desa Porelea yang masih mempraktekkan raego. Di Kecamatan Kulawi, Toro sebagai desa wisata budaya dapat diacungi jempol karena memelihara regenerasi raego dengan menampilkan penari-penari muda. Sementara di Kecamatan Lindu, raego memang masih ditampilkan di acara tahunan Festival Danau Lindu, sebagai daya tarik wisata kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

Bagaimanapun juga, dibutuhkan usaha ekstra agar raego tetap menjadi aset budaya yang berharga. Yang terjaga sampai hari tua, yang bisa terus dibanggakan; dari Sigi untuk Indonesia.

SHARE TO:



Comment :