Kabupaten Sikka

16 Jam di Kapal Bukit Siguntang

Posted in 07 Mar 2017 by Fuji Adriza

Anak-anak pantai mengayuh sampan di atas perairan Pelabuhan Maumere yang sejernih kristal. (dok. Fuji Adriza)

Saya tiba di Maumere sehari sebelum jadwal keberangkatan kapal Bukit Siguntang. Dari terminal saya langsung naik ojek ke loket pembelian tiket yang terletak tak jauh dari pelabuhan. Di luar dugaan saya, antrenya tidak seberapa. Dalam beberapa menit saya sudah mengantongi tiket kelas wisata, kelas yang harga tiketnya paling murah. Namun, jangan tertipu dengan namanya (“wisata”). Membaca kata “wisata” pasti dalam bayangan kamu saya akan mendapatkan fasilitas yang enak, seperti kamar tidur pribadi lengkap dengan kasur empuk, kamar mandi, dan wastafel. Sama sekali tidak. Pemilik tiket wisata hanya mendapatkan fasilitas “menumpang kapal.” Terserah mau tidur di mana.

Saya diantarkan ojek sampai portal pengecekan tiket. Setelah tiket saya diperiksa, saya bergegas berjalan ke ruang tunggu penumpang. Di dermaga sebuah kapal bersandar—namun itu bukan kapal Bukit Siguntang yang akan saya tumpangi. Ruang tunggu sudah penuh oleh orang-orang yang menghampar berkelompok di lantai, di atas koran atau karpet-karpet sederhana. Sebagian tampak bosan. Namun sebagian lagi tampak riang menghabiskan waktu mengobrol bersama rekan-rekan seperjalanan, atau sibuk menyantap nasi bungkus yang dijajakan oleh penjual yang lalu lalang menyemarakkan suasana ruang tunggu. Keriuhan itu semakin hidup oleh suara anak-anak yang entah sedang bermain apa.

Melakoni perjalanan laut di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian tengah dan timur, memang cukup tricky. Jadwal kedatangan kapal tidak menentu, begitu pula dengan jadwal keberangkatan. Maka jika tidak ingin ketinggalan, kamu harus sering-sering mengecek jadwal keberangkatan di website Pelni atau menelpon kantor Pelni setempat. Jika jadwal sudah “pasti,” kamu juga harus tiba selambat-lambatnya sehari sebelum jadwal keberangkatan. Apalagi transportasi darat di Pulau Flores tidak selancar di Pulau Jawa. Itulah sebabnya ruang tunggu di Pelabuhan Maumere begitu padat.

Calon penumpang menunggu kapal di Pelabuhan Maumere. (dok. Fuji Adriza)

Memanggul ransel 45 liter yang menemani perjalanan saya selama dua minggu, saya bergerak ke beranda belakang yang juga tidak kalah ramai. Begitu mendudukkan pantat di keramik yang dingin, beberapa orang anak kecil yang menjajakan kardus untuk alas duduk langsung mengerumuni saya. Supaya mereka tidak lama-lama merubungi, saya beli saja dua. Seusai transaksi, mereka pergi meninggalkan saya untuk mencari pembeli potensial lain. Tinggallah saya sendiri menatap fragmen kehidupan yang tengah berlangsung di areal pelabuhan.

Kapal Dharma Kencana VIII yang tengah sandar itu tengah memuat barang. Sembari barang-barang dimasukkan ke lambung kapal, sekelompok pemuda-pemudi berpotongan militer tampak berjalan di dermaga membawa alat-alat kebersihan. Ada yang bawa sapu, sapu lidi, alat pel, dan ember. Barangkali mereka adalah siswa-siswi sekolah pelayaran yang sedang dapat giliran piket membersihkan kapal. Seusai melaksanakan tugas, mereka mulai bermain-main: satu per satu menggelantungkan diri meniti tali tambat kapal. Mereka berteriak-teriak hebat ketika tali itu digoyang-goyangkan oleh beberapa kawan yang iseng. Satu per satu dari mereka pun tercebur ke laut. Perhatian para penumpang tertuju ke mereka. Lumayan, hiburan gratis untuk menghilangkan kejemuan.

Mustahil berada di tempat ramai di Indonesia tanpa mengobrol. Sebentar saja saya sudah bertukar cerita dengan seorang kawan baru asal Malang yang “terdampar” di Maumere karena menemani “ebes” alias bapaknya pulang kampung ke Lembata. Yang sedang kami lihat di dermaga adalah kapal yang akan membawanya pulang ke Jawa.

Menunggu Bukit Siguntang di atas jembatan kayu. (dok. Fuji Adriza)

“Sampai bosan aku minum moke,” ia berkisah. Jika di Malang ia harus bersembunyi untuk menenggak minuman keras, di kampung ayahnya di Lembata minuman keras bernama moke adalah minuman adat. Ketika sedang berkumpul, moke akan diputar mengelilingi majelis. Saya jadi berpikir: ketika manusia akhirnya masuk surga, apakah manusia juga akan bosan dengan kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan? Ah, entahlah. Pastinya, kawan baru saya itu juga bilang bahwa dia sampai bosan tiap malam melihat taburan bintang di angkasa yang tak terhitung jumlahnya, yang muncul di desanya yang belum dikotori oleh polusi cahaya. “Sinyal hp juga susah pula,” imbuhnya.

Kami mengobrol sampai malam. Sampai para penumpang kapal Dharma Kencana VIII menuju Surabaya itu dipersilakan naik. Kawan baru saya itu pun larut ke dalam arus manusia yang berbondong-bondong mencari tempat paling nyaman di kapal. Beberapa saat dermaga itu riuh sampai semua penumpang naik ke dalam bahtera besi itu.

Malam itu saya membentangkan hammock di sebuah menara suar kecil di ujung pelabuhan. Ransel 45 liter saya ikut berayun-ayung semalaman bersama saya di bawah langit Maumere yang, seperti bisa kamu duga, bersih dan bertabur bintang.

Kapal Bukit Siguntang sesaat sebelum sandar di Pelabuhan Maumere. (dok. Fuji Adriza)

Keesokan paginya ketika saya bangun, kapal menuju Surabaya itu masih di sana. Memang lebih baik datang duluan daripada ketinggalan. Tak terbayang jika sehari saja saya telat tiba di Maumere. Entah saya harus menunggu berapa lama sampai kapal berikutnya menuju Makassar sandar. (Kalau tidak salah, Bukit Siguntang sandar di Maumere setiap dua minggu sekali!) Bah! Pasti perencanaan budget saya yang ketat ini akan berantakan.

Menjelang pukul 9 pagi kapal menuju Surabaya itu pun berangkat. Dan tersibaklah pemandangan yang dari kemarin disembunyikan kapal raksasa tersebut: laut biru, langit yang juga biru, lalu pulau-pulau yang mengambang menghiasi cakrawala perairan Nusa Bunga. Ayunan saya bereskan dan saya berjalan ke jembatan kayu di sebelah barat yang dari sini tampak berujung di samudra raya. Orang-orang sudah berkumpul di sana. Orang-orang yang bosan menunggu kapal yang tak kunjung tiba itu melempar-lemparkan koin ke laut. Mereka bukan melemparkan drachma ke Poseidon, melainkan melemparkan koin ke anak-anak pantai yang bersemangat menyelam di antara karang untuk mengambilnya sekadar untuk tambahan jajan.

Mendadak terdengar suara klakson dari horizon. Bukit Siguntang telah datang. Suaranya lebih dulu terdengar. Lalu perlahan-lahan kapal besar itu muncul. Kecil, lalu perlahan membesar, sampai akhirnya sandar di dermaga untuk kembali menutupi pemandangan. Massa bereaksi. Orang-orang mulai membereskan tikar masing-masing, bersiap-siap menyongsong perjalanan panjang melintasi lautan.

Saya mendapat tempat di dek. Di tempat semacam teras itu saya menggelar matras di samping sebuah lapak yang menjual aneka makanan, minuman, dan rokok. Jauh di atas sana bergelantungan deretan sekoci. Setelah semalaman berada dalam posisi fetal di atas hammock, sungguh nyaman rasanya bisa meluruskan kaki di tempat datar. Ukuran kapal yang raksasa membuat riak ombak tak kuasa menggoyangkan badannya. Jika tak melihat ke arah laut, saya tak akan merasa seperti sedang naik kapal.

Suasana dek Bukit Siguntang. (dok. Fuji Adriza)

Kapal Bukit Siguntang tak ubahnya seperti sebuah kampung terapung, seperti Howl’s moving castle dalam salah satu film kartun gubahan Studio Ghibli. Ada kamar-kamar “kelas” yang tak ubahnya seperti kamar hotel, kamar mandi yang tersebar di berbagai sisi, bioskop yang tak henti-hentinya memutar film dari DVD bajakan, dan diskotik.

Ketika sedang asyik berbaring di lantai dek, terdengar pengumuman bahwa sebentar lagi akan diputarkan film Jepang di bioskop. “Khusus dewasa,” ujar suara yang mengumumkan. Penasaran bagaimana wujud bioskop itu, setelah menitipkan tas pada penumpang yang menggelar tikar di samping saya, saya langsung menuju ke bioskop, mengikuti arah sesuai dengan pengumuman yang diberikan. Di loket bioskop, yang sebenarnya tidak bisa dibilang loket itu, berjaga seorang petugas yang menggenggam sebundel tiket kecil. Setelah menebus tiket seharga Rp 15ribu, saya masuk lorong yang mengantarkan saya ke pintu bioskop.

Dari pintu bioskop yang sedikit terbuka itu terdengar suara—sepertinya film sudah dimulai. Benar saja. Begitu saya masuk, di dalam sudah berkumpul para penumpang yang tampak khusyuk menyimak film yang sedang ditayangkan. Alih-alih film Jepang, ternyata itu adalah film Korea semi porno. Bioskop itu kecil saja, tidak sampai 10x10 m. Layarnya adalah sebuah viewer proyektor seperti yang biasanya dipakai orang untuk presentasi. Tempat duduknya disusun di undakan-undakan—sama seperti bioskop biasanya. Bedanya yang digunakan sebagai kursi adalah kursi lipat yang biasa dipakai saat perhelatan perkawinan. Sekitar satu setengah jam saya di sana, bergelap-gelap di depan layar proyektor seperti sedang menyaksikan presentasi dari pemakalah seminar. Bedanya hanya kali ini “materi” seminarnya adalah film esek-esek made in Korea. Ketika film berakhir setiap orang keluar membawa imajinasinya masing-masing.

Selepas dari bioskop saya kembali ke dek untuk kembali menghampar di matras. Barang-barang yang saya titipkan pada sebuah keluarga yang menggelar tikar di samping saya masih pada tempatnya. Beginilah di transportasi umum Indonesia; semua yang senasib menjadi saudara. Semua percaya-percaya saja dengan orang lain, dengan rekan-rekan seperjalanan—meskipun akan tetap ada satu, dua orang pencari kesempatan.

Tidak mendapatkan tempat di dalam, penumpang kelas "wisata" menghampar di koridor dek. (dok. Fuji Adriza)

Cuaca lumayan cerah. Laut menyatu dengan langit dalam biru. Awan berarak di angkasa dihembus angin semilir yang juga mengelus-elus pipi saya. Di kejauhan saya melihat sebuah perahu kecil mengambang di tengah samudra. Berani sekali nelayan itu melaut hingga ke sini, batin saya. Saya terlena dan sempat tertidur sebentar. Begitu bangun saya dilanda bosan. Saya lalu melarikan diri ke Dek 7. Dari atas sini pandangan saya lebih luas. Dari ujung ke ujung manusia duduk di atas alas, yang entah tikar entah koran bekas. Sebagian sedang sibuk mengobrol, sebagian lagi tidur dibuai goyangan kapal, namun banyak juga yang sibuk di depan gawai. (Bahkan ada yang sedang menonton film lewat laptop.)

Menjelang matahari terbenam saya memanjat lebih ke atas lagi, ke dek pamungkas tempat sekoci-sekoci digantungkan. Dari dek itu saya bisa melihat ke segala penjuru. Beberapa orang sibuk berfoto-foto dengan latar belakang langit yang mulai jingga. Saya meniti rangka besi menuju sebuah sekoci. Ada perasaan gamang ketika sekoci itu diayun lembut oleh gerak kapal. Ketika menengok ke bawah, mendadak diafragma saya dipenuhi oleh kupu-kupu yang berterbangan. Langit merona di atas sana diarsir oleh sebuah garis lurus—pesawat jet. Barangkali beberapa menit lagi pesawat itu sudah berada di langit Sulawesi atau Kalimantan. Sementara kapal ini, Bukit Siguntang yang raksasa ini, baru akan tiba di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar esok pagi. Perjalanan masih panjang.

SHARE TO:



Comment :