Inilah Para Perempuan Petualang Tangguh yang Kamu Perlu Tahu

Posted in 14 Mar 2017 by telusuRI

Selamat Hari Perempuan Sedunia, teman-teman telusuRI! Untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada beberapa hari yang lalu, telusuRI akan menceritakan kisah beberapa perempuan yang melakukan petualangan gila. Perjalanan mereka begitu dramatis sampai-sampai beberapa di antaranya sudah diangkat menjadi film. Siapa saja mereka dan bagaimana petualangannya?

Amelia Earhart, Pilot

Foto: www.theodysseyonline.com

Meskipun pilot perempuan sudah lumayan banyak akhir-akhir ini, tetap saja angkanya belum cukup banyak untuk menandingi jumlah pilot laki-laki. Apalagi di masa lalu. Nah, di masa-masa pahit, tahun 1932, Amelia Earhart menjadi perempuan pertama yang terbang solo melintasi Samudra Atlantik. Lepas landas di Newfoundland, Amerika Serikat, dan mendarat di sebuah padang rumput di Culmore, Irlandia Utara, Amelia Earhart terbang sendirian selama 14 jam 56 menit.

Tentu saja Amelia Earhart tidak serta merta jadi pilot perempuan pertama yang melintasi Samudra Atlantik sendirian. Ada proses yang panjang sebelum pencapaiannya itu. Ia pernah bekerja di industri penerbangan sebagai sales representative. Selain itu ia juga pernah mengisi sebuah rubrik penerbangan di surat kabar lokal. Namun sayang sekali, Amelia Earhart hilang di Samudra Pasifik saat ia mencoba mengelilingi dunia menggunakan pesawat. Sampai sekarang pun masih banyak yang bertanya-tanya tentang keberadaan petualang perempuan legendaris ini.

Maureen Wheeler, Co-Founder Lonely Planet

Foto: www.outsideonline.com

Maureen Wheeler sama gilanya dengan suaminya, Tony Wheeler. Ia mau-mau saja diajak melakukan perjalanan “overland and sea” dari Inggris sampai Australia. Semula mereka ingin naik mobil sampai ke tujuan. Namun pada akhirnya mereka harus rela menjual mobilnya di sebuah titik sebab mustahil untuk membawanya melintasi wilayah tersebut, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi umum.

Tiba di Bali, mereka duduk termenung di sebuah bar sambil memikirkan cara untuk menuju Australia—masalahnya uang mereka sudah hampir habis. Lalu mereka seperti mendapat cahaya terang sebab seorang kapten yacht asal Selandia Baru yang sedang mencari kru "untuk berlayar ke selatan" menghampiri mereka. Mereka pun senang sebab dapat tumpangan gratis. Akhirnya setelah perjalanan panjang mereka mendarat di pesisir barat Australia dengan uang hanya beberapa sen. Namun pendaratan mereka di Benua Kanguru itu menandai dimulainya sejarah buku panduan perjalanan legendaris, Lonely Planet.

Robyn Davidson, Naik Onta Sepanjang Australia

Foto: www.scotsman.com

Road-trip dengan van, mobil, sepeda motor, atau sepeda sudah lazim dilakukan para petualang. Namun tidak banyak petualang yang bepergian dengan binatang. Robyn Davidson, entah apa yang ada dalam kepalanya saat memulai petualangannya pada tahun 1977, traveling bersama seekor anjing dan empat onta. Ya, kamu tidak salah baca; travelmate-nya onta.

Jarak yang ditempuhnya tidak main-main, sekitar 1.700 mil (sekitar 2735 km) dari Alice Springs ke pesisir barat Australia yang ditempuhnya selama sekitar sembilan bulan.

Semula Robyn Davidson tidak berniat untuk menuliskan kisah perjalanannya. Namun setelah kisahnya terbit di National Geographic, ia menjadi tertarik untuk menuliskan kisahnya secara utuh dalam sebuah buku berjudul Tracks yang terbit pada 1980 silam. Lalu pada 2013 lalu film tentang perjalanannya pun dirilis dan dan bahkan sempat diputar di Venice Film Festival.

Tim Ekspedisi Puncak Annapurna, A Woman’s Place is On Top

Foto: www.arleneblum.com

Agustus tahun 1978, dipimpin oleh Arlene Blum, 13 orang perempuan tangguh berangkat dari Amerika Serikat ke Nepal untuk mendaki Puncak Annapurna I. Mereka berasal dari latar belakang beragam—usia, asal, pekerjaan—namun disatukan oleh mimpi untuk mencapai salah satu puncak yang jarang dijamah manusia. Untuk mengumpulkan dana, mereka memakai cara yang sekarang banyak dipakai oleh organisasi-organisasi: jual kaos. Tapi tidak main-main, mereka berhasil menjual sekitar 15.000 kaos bertuliskan kalimat ambigu: “A Woman’s Place is On Top.”

Dalam perjalanan mereka harus berhadapan dengan masalah-masalah yang lazim dihadapi oleh tim ekspedisi lainnya, seperti porter yang mogok kerja, perselisihan antaranggota tim, sampai ancaman avalanche alias longsoran salju. Namun ketabahan mereka menghadapi segala permasalahan itu menuai hasil sebab pada 15 Oktober 1978 dua anggota tim plus dua sherpa berhasil mencapai Puncak Annapurna I, meskipun harus dibayar dengan hilangnya nyawa dua anggota tim.

Cheryl Strayed, Jalan Kaki Menelusuri Pacific Crest Trail

Foto: www.cherystayed.com

Pada tahun 1995 di usia 26 tahun Cheryl Strayed berusaha untuk melupakan kesedihan dan penyesalan atas kematian sang ibu dengan jalan kaki menelusuri Pacific Crest Trail (PCT), Amerika Serikat bagian barat, sendirian. Dalam perjalanannya Cheryl berjumpa dengan banyak orang dan kejadian yang pada akhirnya akan mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Uniknya, setiap kali melintasi pos PCT, Cheryl mengisi buku registrasi dengan kutipan-kutipan menarik, entah buatannya sendiri maupun yang diambilnya dari buku-buku yang telah ia baca.

Ia berhasil menyelesaikan sekitar 1.100 mil (sekitar 1770 km) dari total 2.659 mil (sekitar 4279 km) trek PCT. Perjalanannya itu diabadikan dalam memoar berjudul Wild: From Lost to Found on the Pacific Crest Trail dan adaptasinya dalam bentuk film dirilis pada bulan Desember 2014.

SHARE TO:



Comment :