Kabupaten Kotawaringin Barat

Astana Alnusari, Cuplikan Sejarah Kalimantan Tengah

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

astana alnusari

Sebuah bangunan yang menjadi saksi sejarah kejayaan sebuah kerajaan kini masih kokoh berdiri. Dari tepi jalan raya terlihat bangunan istana dengan halaman yang sangat luas.

Setelah 50 menit mengudara, akhirnya burung besi mendarat mulus di Lanud Iskandar Pangkalan Bun. Dari jendela pesawat, semua serba putih. Semula saya mengira udara masih berkabut. Namun begitu keluar dari pintu pesawat napas langsung terasa sesak. Aroma sangit dan mata berair menyambut kedatangan saya di bumi Kalimantan.

Kalimantan dan Sumatera sedang afeksia sebab oksigen yang tersedia dilalap si jago merah untuk dijadikan bahan bakar untuk menghanguskan lahan. Sisa napas dari si agni hanyalah asap putih yang membuat mata pedih dan paru-paru yang merintih. Sebuah tragedi yang disebabkan oleh oknum-oknum yang sengaja membuka lahan untuk pertanian—atau mungkin muara dari sebuah kekecewaan.

Borneo memang sedang bertabirkan asap, tetapi di baliknya tetap ada cerita menarik untuk dikulik. Selepas aspal dari Pangkalan Bun, sepeda motor yang saya tumpangi mengarah ke Kotawaringin Lama. Jalan berupa tanah merah yang bergelombang adalah tantangan, selain jarak pandang yang pendek. Meskipun diperlukan waktu satu jam perjalanan untuk jarak tempuh 30 km, saya tidak ambil pusing. Justru inilah tantangan untuk melihat keindahan Kalimantan.

Kalimantan dan Sumatera sedang afeksia sebab oksigen yang tersedia dilalap si jago merah untuk dijadikan bahan bakar untuk menghanguskan lahan.

Selepas menyeberangi Sungai Lamandau, akhirnya saya menapakkan kaki di salah satu kota tertua di Borneo, Kotawaringan Lama. Dahulunya wilayah ini adalah salah satu pusat kerajaan sekaligus pemerintahan di Kalimantan Tengah sebelum dialihkan ke Pangkalan Bun. Sebuah bangunan yang menjadi saksi sejarah kejayaan sebuah kerajaan kini masih kokoh berdiri. Dari tepi jalan raya terlihat bangunan istana dengan halaman yang sangat luas.

Astana Alnusari, demikan nama bangunan ini. Memang tidak banyak yang mengenal sejarah Kalimantan Tengah, tetapi di dalam astana ini bisa didapatkan cerita tentang kehidupan masa lalu. Astana merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan atau bangsawan. Hanya keturunan penguasa atau pejabatlah yang tinggal di astana. Kerajaan Kutaringin, nama lain Kotawaringin, memiliki astana yang diberi nama Alnusari.

Sebagian besar bangunan Astana terbuat dari kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang terkenal kuat dan tahan segala perubahan cuaca. Begitu kaki menginjak satu demi satu anak tangga, terasa sekali aura kebangsawanan pada masa itu. Udara kalimantan yang panas surut menjadi sejuk karena konstruksi bangunan membebaskan angin masuk dari segala penjuru arah.

Astana Alnusari saat ini menjadi kediaman salah satu pewarisnya, Gusti Samudra yang tinggal bersama istri dan kedua anaknya.

Astana Alnusari saat ini menjadi kediaman salah satu pewarisnya, Gusti Samudra yang tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Selain sebagai tempat tinggal, Astana Alnusari juga dijadikan museum untuk memamerkan benda-benda milik kerajaan dan keluarga. Tidak salah jika pemerintah menetapkan Astana Alnusari sebagai benda cagar budaya yang harus tetap dijaga, dirawat, dan dilestarikan.

Di samping Astana Alnusari ada sebuah bangunan yang disebut Rumah Meriam Beranak.

Deretan gerabah dan tembikar tersusun rapi dalam sebuah almari kaca. Walau beberapa mangkuk sudah tidak lagi utuh, saya bisa membayangkan betapa berharga dan bersejarahnya benda-benda ini. Gentong besar ditunjukkan oleh Gusti Samudra. Katanya, inilah ponsel pada masa lalu. Untuk memanggil seseorang atau kerabat cukup dengan memanggil namanya di mulut gentong. “Tetapi sekarang cukup dengan HP saja, pulsanya lebih murah daripada dengan gentong,” kata Gusti Samudra menjelaskan. Ada ritual khusus dan mahal untuk memanggil orang menggunakan gentong ini.

Dereten pusaka juga dipamerkan, tetapi masih banyak yang disimpan dengan alasan tertentu yakni keamanan. Benda-benda pusaka masih memiliki kekuatan magis yang tidak boleh sembarang diperlakukan sehingga tidak dipamerkan. Benda-benda pusaka memiliki nilai yang tinggi, tak hanya sejarahnya tetapi nilai intrinsiknya karena ada yang terbuat dari emas. Di samping Astana Alnusari ada sebuah bangunan yang disebut Rumah Meriam Beranak. Sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka kerajaan.

Dereten pusaka juga dipamerkan, tetapi masih banyak yang disimpan dengan alasan tertentu yakni keamanan.

Astana Alnusari saat ini menjadi satu-satunya warisan sejarah yang masih kokoh berdiri. Cerita panjang tentang astana yang sangat megah pada masa lalu sebab tepat berdiri di tepi Sungai Lamandau ini akan mengisahkan bagaimana perjalanan kerajaan Kutaringin di Kalimantan Tengah. Saya hanya bisa terkesima mengetahui bahwa di pedalaman Kalimantan sudah ada pusat pemerintahan dan tempat tinggal yang megah. Walau Kalimantan sedang jengah karena asap, ada sudut yang indah jika berkaca pada sejarah. Coba saja ke Astana Alnusari.


Artikel ini ditulis oleh Dhave Dhanang dan sebelumnya dipublikasikan di sini.

SHARE TO:



Comment :