Kabupaten Jepara

6 Hal Menarik dari Jepara selain Kartini

Posted in 23 Apr 2017 by telusuRI

Selain Blitar, mungkin tak ada kota yang memiliki asosiasi lebih erat dengan tokoh sejarah daripada Jepara. Begitu kata “Jepara” masuk ke dalam telingamu, pasti pikiranmu akan langsung menuju pada tokoh emansipasi wanita Indonesia, R.A. Kartini, yang terkenal dengan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang berisi kumpulan surat-suratnya pada kawan-kawannya di Eropa. Tapi tahukah kamu kalau Jepara tidak cuma punya Kartini?

RM Panji Sosrokartono

Foto: RM Panji Sosrokartono/merdeka.com

Kakak laki-laki Kartini ini disebut-sebut sebagai yang menginspirasi Kartini untuk mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan emansipasi wanita. Ia adalah salah seorang poliglot mula Indonesia yang konon menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa nusantara. Kecerdasannya membuatnya menjadi pemuda Indonesia pertama yang kuliah di Negeri Belanda. Tak main-main, ia sekolah di Leiden. Selepas kuliah, Sosrokartono menjadi wartawan The New York Herald Tribune. Ia ditugaskan untuk meliput Perang Dunia I dan demi memudahkan pekerjaannya, ia diberikan pangkat Mayor oleh Panglima Perang Amerika Serikat.

Ukiran

Foto: Ukiran Jepara/berdesa.com

Jepara dan ukiran ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Alkisah orang pertama yang memperkenalkan ukiran di Jepara adalah Sunan Kudus, salah seorang dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Menurut ceritanya, ketika Sunan Kudus tiba di Jepara, sebuah benda pusakanya yang disebut tata terjatuh. Tata inilah yang kemudian menjadi alat untuk mengukir bagi seniman-seniman Jepara. Ukiran Jepara bisa kamu temukan di berbagai perabot kayu, dari mulai kursi, meja, almari, pintu, dan lain-lain. Deretan showroom ukiran dan mebel Jepara bisa kamu temukan di sekitar Kecamatan Tahunan.

Pindang Serani

Foto: Pindang Serani/sajiansedap.grid.id

Makanan seperti sop kepala ikan, dengan kuahnya yang bening ini, adalah kuliner khas Jepara yang mesti kamu cicipi ketika berkunjung ke sana. Kamu tak akan kesulitan menemukannya sebab restoran yang menjajakan pindang serani bertebaran di Jepara. Harganya pun tidak terlalu mahal untuk ukuran makanan yang berbahan dasar ikan bandeng atau ikan kembung.

Durian

Foto: Pasar Durian Ngabul/merdeka.com

Tugu Durian di Pasar Ngabul didirikan bukan tanpa alasan. Selain ukiran, Jepara juga termasyhur dengan duriannya. Datanglah ke Pasar Ngabul antara November hingga Desember dan kamu akan menemukan banyak penjual durian—siang ataupun malam. Kalau beruntung kamu juga bisa mencicipi durian petruk (dinamakan seperti itu karena bentuknya mirip hidung tokoh pewayangan, yakni Petruk) yang sekarang sudah lumayan langka.

Pantai Bandengan

Foto: Pantai Bandengan/lostpacker.com

Beberapa puluh menit dari pusat kota, Pantai Bandengan punya banyak atraksi yang bisa kamu nikmati. Di sana kamu bisa sekadar duduk-duduk menikmati suasana pantai, menyewa kano untuk didayung sekitar Pantai Bandengan, atau pergi dengan kapal sewaan ke Pulau Panjang yang terletak tak seberapa jauh dari pantai. Sekilas, garis Pantai Bandengan terlihat seperti Pantai Kuta, dengan beberapa resort dan payung-payung besar tempat orang-orang bisa duduk berjemur.

Karimunjawa

Foto: Karimunjawa/Rendy Cipta Muliawan

Sekitar 6 jam dengan ferry atau 1.5 jam dengan kapal cepat, kamu bisa mencapai Karimunjawa dari Pelabuhan Kartini, Jepara. Karimunjawa memang lumayan dekat dari Jepara. Katanya, kalau udara sedang bagus-bagusnya, dari Puncak Gunung Muria kamu bisa samar-samar melihat Karimunjawa mengapung di atas lautan. Waktu yang paling pas untuk ke Karimunjawa adalah musim kemarau, ketika angin tidak terlalu kencang dan ombak tidak terlalu tinggi.

SHARE TO:



Comment :