Belajar dari Kisah Pulau Paskah

Posted in 22 Apr 2017 by telusuRI

Bagaimana perasaanmu ketika menemukan banyak sampah di Pelawangan Sembalun, tak seberapa jauh dari titik tertinggi Gunung Rinjani yang namanya termasyhur seantero dunia? Atau sampah-sampah yang mengapung di pinggiran Ranu Kumbolo? Kesal pasti. Siapa yang tak akan kesal melihat gunung yang indah dikotori sampah plastik yang bertebaran di mana-mana. Kotoran manusia mungkin sedikit lebih baik—meskipun menjijikkan—sebab ampuh untuk menyuburkan tanah.

Bagi Ibu Bumi sendiri, sampah barangkali bukanlah sebuah masalah. Seketika, ia bisa saja bereaksi untuk mengembalikan keseimbangannya; Bumi punya banyak siklus, dari mulai siklus batuan, angin, sampai daur hidrologi. Yang jadi masalah adalah bagi manusia usaha Bumi untuk mengembalikan keseimbangan itu akan dianggap sebagai sebuah bencana. Dan siapa, sih, yang ingin ditimpa bencana?

Lebih jauh lagi, bencana alam yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan bisa saja memancing runtuhnya sebuah peradaban. Itu yang dipetik oleh Jared Diamond, seorang aktivis lingkungan dari Amerika Serikat yang khawatir akan masa depan peradaban manusia, dari risetnya mengenai peradaban-peradaban purba yang telah runtuh. Catatan-catatan dan renungannya ia rangkum dalam sebuah buku elok berjudul Collapse: Runtuhnya Peradaban-Peradaban Dunia (2014).

Diamond menemukan bahwa ternyata ada lima faktor yang mempengaruhi keberlangsungan sebuah perabadan. Yang pertama—tentu saja—adalah kerusakan yang secara tidak sengaja disebabkan manusia pada lingkungan. Sampah-sampah yang bertebaran di gunung itu cuma contoh kecil dari hal-hal yang berpotensi merusak tatanan ekologi. Belum lagi penebangan hutan untuk dikonversi menjadi lahan perkebunan. Kedua, perubahan iklim, yang menjadi lebih panas atau lebih dingin, lebih basah ataupun lebih kering, atau berbeda-beda dari bulan ke bulan ataupun tahun ke tahun, akibat perubahan-perubahan daya-daya alam yang menggerakkan iklim dan yang tidak ada kaitannya dengan manusia. Faktor ketiga adalah tetangga yang bermusuhan. Keempat, berkurangnya sokongan dari tetangga-tetangga yang bersahabat. Dan faktor terakhir adalah tanggapan masyarakat peradaban itu terhadap masalah-masalahnya, entah masalah lingkungan ataupun bukan.

Tumpukan sampah di salah satu pos Gunung Merbabu/Deta Widyananda

Dalam uraiannya, Diamond berusaha untuk menganalisis keruntuhan peradaban-peradaban, baik peradaban kuno maupun yang kontemporer, menggunakan lima poin di atas.

Dari sekian banyak studi kasus dalam Collapse, ada dua yang paling menarik, yakni keruntuhan peradaban Anasazi di Amerika dan keruntuhan peradaban Pulau Paskah di Polinesia. Dalam keruntuhan dua peradaban ini, faktor kelalaian manusia—tanggapan mereka terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi termasuk kerusakan lingkungan—berperan sangat penting.

Jauh sebelum Columbus tiba, Amerika Utara, tepatnya AS Barat Daya, sudah didiami oleh masyarakat Anasazi, di daerah yang sekarang kering kerontang. Namun di masa lalu wilayah hunian masyarakat Anasazi diperkirakan sebagai sebuah daerah yang subur dan banyak ditumbuhi pohon. Buktinya adalah keberadaan sisa-sisa permukiman Anasazi yang anehnya terbuat dari kayu, yang sekarang bisa dibilang jarang ada di lokasi tersebut.

Para ahli menduga masyarakat Anasazi terlena dengan melimpahnya pohon. Demi keberlangsungan kehidupan, mereka terus-menerus menebang kayu sebab mereka yakin pasti setelah ditebang akan ada lagi pohon-pohon baru yang tumbuh. Namun perkiraan mereka keliru—mereka memang tidak punya data mengenai seberapa lama wilayah yang mereka tinggali mampu mengembalikan keadaan hutan seperti semula. Tidak ada lagi pohon baru yang tumbuh, apalagi hutan, dan lama-lama, seiring berubahnya wilayah tersebut menjadi zona kering kerontang, runtuh pula peradaban Anasazi.

Contoh menarik kedua adalah Pulau Paskah. Dan barangkali ini kisah yang paling menohok. Pulau Paskah di ujung Polinesia semula adalah tempat yang nyaman untuk ditinggali. Seiring berjalannya waktu, muncul pembesar-pembesar lokal yang berlomba-lomba membuat patung batu yang disebut moai, patung perlambang nenek moyang berupa kepala raksasa seperti rumah tokoh Squidward Tentacles dalam kartun Spongebob. Bagi masyarakat Pulau Paskah di masa itu, semakin banyak seorang datu memiliki moai, semakin mulia pula ia. Segala sumber daya alam dikerahkan untuk membuat moai, termasuk pohon yang ditebang untuk membawa moai dari pabriknya di tengah-tengah pulau untuk ditempatkan di perkampungan-perkampungan di pesisir.

Patung-patung moai di Pulau Paskah/pexels.com

Moai pun bertambah banyak. Totalnya, ada sekitar 887 moai yang sudah berdiri (banyak juga yang masih di pabriknya). Dan seiring dengan bertambahnya moai dan semakin serunya persaingan para datu, semakin sedikit pula jumlah hutan dan pohon di Pulau Paskah. Sampai pada akhirnya hanya tersisa satu pohon dan padang rumput yang luas di salah satu pulau terujung di Kepulauan Pasifik itu. Pohon habis, daun habis, maka tak ada lagi makanan buat ternak. Penduduk Pulau Paskah pun mulai pusing untuk mencari sumber makanan. Laut yang menjadi harapan satu-satunya pun tak lagi bersahabat.

Sialnya, jalan terakhir yakni kabur ke pulau lain pun tidak bisa. Nyaman di Pulau Paskah, para penduduk tidak lagi memiliki kapal. Dan ketika akhirnya mereka membutuhkan kapal untuk mencari suaka ke pulau lain, tidak ada lagi kayu yang tersisa sebab semuanya sudah habis ditebang demi menegakkan moai.

Jared Diamond menutup uraiannya tentang keruntuhan Pulau Paskah dengan indah... atau mengerikan: “Pulau Paskah Polinesia sama terisolasinya di Samudra Pasifik dengan Bumi kini di luar angkasa. Ketika penduduk Pulau Paskah menemui kesulitan, mereka tidak bisa kabur ke mana-mana, ataupun meminta tolong dari tempat lain; kita manusia Bumi modern pun tidak bisa melarikan diri ke mana pun bila masalah-masalah kita bertambah gawat. Itulah alasan mengapa banyak orang melihat keruntuhan masyarakat Pulau Paskah sebagai suatu metafora, suatu skenario paling buruk, atas apa yang mungkin menimpa kita di masa depan.”

Maka pada hari ini, 22 April, tak ada salahnya untuk ikut gerakan Earth Hour untuk memberikan Bumi waktu satu jam saja untuk merilekskan diri. Beri juga diri kita masing-masing kesempatan untuk merenungkan posisi kita di Bumi dan semesta, serta bagaimana simbiosis kita dengan alam, hewan, dan tumbuhan. Demi keberlangsungan peradaban kita juga, peradaban manusia. Selamat Hari Bumi 22 April, Sahabat telusuRI!

SHARE TO:



Comment :