Kabupaten Toraja Utara

Singgah Sebentar di Tana Toraja

Posted in 26 Apr 2017 by Fuji Adriza

Dari sekian banyak bis menuju Toraja, Bintang Timur adalah favorit F, kawan saya yang tinggal di Makassar. Mengantongi dua tiket bis, kami melangkahkan kaki menyusuri lorong-lorong terminal menuju tempat Bintang Timur diparkir.

Lumayan rapi dan bersih terminal ini. Tertib, teratur, dan anehnya tidak riuh. Bis-bis diparkir paralel. Dengan sabar para penumpang menunggu giliran berangkat di kursi-kursi panjang, sebelum satu per satu masuk sesaat sebelum bis mulai bertolak ke tujuan masing-masing. Di beberapa sudut beberapa orang asing duduk menunggu giliran. Tapi mereka tak digubris—diminta berfoto bareng misalnya. Barangkali orang-orang sini sudah terbiasa melihat para pelancong berambut pirang lalu lalang.

Tiba beberapa saat sebelum bis berangkat, kami hanya menunggu sebentar di bangku terminal. Ternyata cerita mengenai kekinclongan bis Toraja yang menyamai bis Medan-Banda Aceh adalah benar adanya. Saat masuk, saya menemukan bahwa bangkunya empuk, lengkap dengan penyangga kaki yang juga tak kalah empuk. Selimut juga ada. Untuk perjalanan durasi semalam naik bis super eksekutif, ongkos 130.000 pantas sekali.

Saya tidur nyenyak sampai AC bis itu tiba-tiba mati di tengah jalan. Pertama-tama saya dan para penumpang lain kegerahan. Tapi lama-kelamaan temperatur dalam bis menyesuaikan diri dengan suhu luar yang semakin dingin seiring dengan bertambahnya ketinggian. Selimut jadi tameng hangat bagi dingin yang terkadang menusuk. Semua bersyukur ketika AC bis itu akhirnya hidup lagi di Makale, ibukota Kabupaten Tana Toraja.

Suasana Kota Rantepao, Kabupaten Toraja Utara/dok. Fuji Adriza

Makale yang pertama kali saya lihat adalah sebuah puncak bukit yang dihiasi oleh rangka besi berbentuk salib. Matahari sudah keluar meskipun sinarnya belum seberapa. Kabut translusen masih melayang-layang syahdu menyelimuti Tana Toraja. Lalu, ketika hampir tiba di Rantepao, F menujuk ke arah kiri, kepada sebuah bangunan gereja bergaya minimalis.

“Kalau tidak salah itu adalah gereja tertua di Toraja,” ujar F. Sebuah monumen yang juga terbuat dari rangka besi berdiri gagah di depan gereja itu. Tulisannya: “Monumen 100 Tahun Injil Masuk Toraja.” Melihat sudah begitu mengakarnya agama Kristen di Toraja, saya tak percaya begitu mengetahui bahwa baru sekitar 100 tahun Injil mulai dihayati di Tana Toraja.

Adalah seorang pendeta bernama Antonie Aris van de Loosdrecht dari Belanda yang menjadi martir bagi berita gembira. Toraja pada awal abad ke-20 masih dikuasai oleh para pemimpin adat. Di masa itulah Aris tiba sebagai zendeling atau tenaga pekabar Injil untuk menyebarkan agama baru kepada masyarakat Toraja.

Singkat cerita, sekelompok orang Toraja yang merasa terusik dan terancam oleh keberadaan Pendeta Aris berkumpul dan memutuskan untuk mengirim sang misionaris ke surga.

Perbukitan yang memagari Tana Toraja/dok. Fuji Adriza

Saat yang dipilih adalah ketika sang pendeta sedang melihat perkembangan pembangunan sebuah sekolah di salah satu kampung bernama Bori’. Ia ditombak sampai meregang nyawa. Jadi martir. Sejak itulah, 1917, Injil dan Kristen semakin merasuk serta menjadi bagian dalam hidup dan kehidupan masyarakat Toraja.

Bintang Timur itu berhenti di depan Pasar Souvenir Rantepao, di simpang empat yang dihiasi sebuah tugu Banua Sura’. Pasar souvenir itu masih mengumpulkan nyawa. Belum banyak toko yang buka. Saya dan F makan pagi di sebuah warung kaki lima. Mie rebus, telur rebus, dan secangkir kopi hitam itu berhasil menghangatkan suasana pagi Toraja yang dingin dan berselimut halimun tipis.

Ketika sedang khidmat mengisi perut, sebuah avanza mengilap berhenti. Dari bangku belakangnya keluar seorang anak perempuan berseragam pramuka. Meloncat keluar mobil, ia berjalan ke arah pintu depan. Alih-alih mencium tangan yang terjulur dari jedela yang setengah terbuka, ia malah memberi duit—biasanya anak-anaklah yang diberi uang jajan, bukan sebaliknya. Saya sempat gegar sebentar. Ternyata setelah saya amati, avanza itu bukan mobil pribadi; platnya kuning.

Kata F, itu angkutan umum. “Untuk menghubungkan antarkota kecamatan,” lanjutnya. Selain angkutan kota yang bentuknya seperti angkutan kota biasa di daerah-daerah lain, Toraja ternyata memiliki moda transportasi lain: otto-otto bagus seperti avanza itu.

Medan Toraja yang ekstrem dan berbukit-bukit lah yang memicu munculnya jenis angkutan ini. Sekilas, saya melihat bahwa suasana Tana Toraja mirip Tarutung di Sumatera Utara, kota dingin yang dikelilingi perbukitan. Tarutung, seperti halnya Toraja, juga ditumbuhi banyak pohon cemara dan punya banyak sekali gereja yang salib-salibnya akan memancarkan lampu warna-warni dan tampak semarak di malam hari.

Kubur batu khas Tana Toraja di Londa/dok. Fuji Adriza

Jika saja saya tak pernah belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri, barangkali perjalanan ke Toraja akan berbeda. Saya tidak akan ke sana bersama F dan tidak akan menginap di rumah A. Mereka adalah teman saya ketika di Pare dulu. F teman satu pondokan, sementara A yang teman nongkrong saya adalah senior F di Unhas. F putra Toraja yang besar di Makassar. A dibesarkan di Toraja.

Rumah A hanya terpaut sekitar satu kilometer dari Monumen Lakipadada—nama seorang pahlawan lokal Toraja—di Rantepao. Rumahnya yang berupa rumah panggung itu terletak di lereng bukit. Bagian bahwahnya sudah ditutup dan dijadikan tempat tinggal.

(Ketika tiba di Toraja saya baru paham bahwa ternyata Tana Toraja terbagi ke dalam dua kabupaten, yakni Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Kabupaten Tana Toraja beribukota di Makale, semetara Kabupaten Toraja Utara berpusat di Rantepao. Makale dan Rantepao hanya terpaut setengah jam perjalanan!)

Tau-tau di tebing kubur batu Londa/dok. Fuji Adriza

Sambil menyeruput secangkir kopi toraja di beranda, saya mengamati lanskap sekitar. Tidak jauh dari rumah itu pohon bambu yang menghijau berjejeran. Lalu di sebelah timur pegunungan yang memanjang di kejauhan melindungi lembah Toraja seperti Tembok Besar memagari dataran Tiongkok.

“Kadang-kadang ada juga yang kemping di situ,” ujar A sambil menikmati kopinya. Ada pula yang melintasi pegunungan batugamping itu dari ujung ke ujung.

Pegunungan karst memang mendominasi Tana Toraja. Ia melintang dari utara ke selatan dengan geomorfologi beragam, dari mulai yang tumpul sampai cadas bergerigi, dari yang rendah sampai tinggi menjulang.

Meskipun bentuknya tidak seragam seperti di Gunung Kidul—sebab selain batugamping formasi batuan di Tana Toraja juga banyak diisi oleh jenis batuan lain—nuansa pegunungan kapurnya tetap saja membuat merinding. Apalagi bagi lulusan geofisika seperti saya yang belajar bahwa batugamping terdeposisi di air laut. Artinya, suatu saat di masa lalu wilayah pegunungan Sulawesi Selatan yang teletak di tengah-tengah pulau ini pernah tergenang air laut, sebelum kemudian entah terangkat oleh gaya tektonik atau justru air lautnya yang menyusut (eustasy). Entahlah. Tapi yang pasti peristiwa geologi yang terjadi di Toraja menciptakan hamparan bentang alam yang demikian indah, yang kemudian menghasilkan sebuah peradaban luhur.

Dan di tebing-tebing batugamping itulah masyarakat Toraja menguburkan pendahulu-pendahulu yang telah meninggal.


Tongkonan-tongkonan yang berjejeran di Kete Kesu/dok. Fuji Adriza

Keesokan harinya kami keliling-keliling Toraja, ke tempat-tempat turistik yang sudah termasyhur sejak dulu. Saat jalan-jalan itulah saya baru sadar bahwa lokasi-lokasi dan atraksi-atraksi favorit para turis di Tana Toraja selalu berkaitan dengan kematian—Kubur Batu di Londa dan Kete Kesu, atau upacara pascakematian Rambu Solo.

Selain untuk nyekar ke makam keluarga di Pariaman, barangkali perjalanan ke Londa kali itu adalah perjalanan saya yang paling pagi menuju sebuah kuburan.

Setelah memarkir mobil, kami bertiga berjalan santai menuju makam tradisional Toraja ini. Londa dipahat di sebuah tebing yang mengelilingi areal persawahan kecil. Ke dalam tebing yang dipahat itulah peti-peti mati dimasukkan. Berjejeran di sebuah rak kayu bersanggakan batu yang dipasang agak tinggi bagian atas tebing adalah tau-tau, patung-patung kayu yang sengaja dibuatkan untuk setiap orang yang meninggal.

Kubur batu Kete Kesu/dok. Fuji Adriza

Suasana Londa yang lumayan sepi pagi itu membuat bulu kuduk saya sedikit merinding. Tapi sebentar kemudian suara hiruk pikuk terdengar dari gerbang Londa ketika puluhan orang datang serempak. Kedatangan mereka kembali membuat bulu roma saya lemas. Mereka-mereka yang baru datang itu berceloteh dan mengeluarkan suara seenak udelnya, seakan-akan tidak sadar kalau mereka sedang mendatangi sebuah makam! Padahal kalau mereka mau memperhatikan sedikit, tengkorak dan tulang bertaburan di sekitar tebing—tak ada yang lebih pas untuk merepresentasikan maut ketimbang dua benda itu.

Dari Londa kami meluncur ke Kete Kesu, di mana rumah tradisional Toraja yakni tongkonan berdiri berhadap-hadapan. Penuh ukiran-ukiran indah, di depan tongkonan-tongkonan itu terdapat sebuah tiang tempat puluhan tanduk tedong alias kerbau disusun vertikal. Sekilas, tongkonan Toraja mirip rumah bolon Batak, seperti kapal yang sedang naik dok yang geladaknya ditutup dengan terpal.

Kete Kesu sudah menjadi kampung wisata sehingga tongkonan-tongkonannya tidak lagi dihuni. Namun tata desa Kete Kesu masih mengikuti geometri desa-desa tradisional Toraja yang asli, lengkap dengan makam di tebing di pinggir desa.

Berbeda dari Londa, untuk ke makam Kete Kesu saya harus mengeluarkan tenaga cukup ekstra karena gua di mana peti-peti mati diletakkan berada di tempat yang lumayan tinggi. Sepanjang tangga, peti-peti tua berisi tulang-tulang manusia diletakkan sekenanya. Beberapa di antaranya bahkan sudah tidak memiliki penutup sama sekali dan menampakkan ratusan tulang-belulang. Namun entah kenapa saya tidak mencium bau-bau tidak sedap baik di Londa tadi maupun di Kete Kesu sekarang. Barangkali karena sebelum dikuburkan, jasad orang-orang Toraja dioleskan semacam ramuan yang akan mengawetkan sekaligus menghilangkan bau-bau tak sedap.

Kopi toraja di Pasar Bolu yang digiling dengan mesin-mesin sederhana/dok. Fuji Adriza

Pun ketika akhirnya saya masuk ke dalam gua yang lebih dipadati oleh peti jenazah, saya tak juga mencium bau busuk.

Dari Kete Kesu, kami ke Pasar Bolu untuk melihat tedong, yang penting artinya bagi kebudayaan Toraja sebab digunakan dalam upacara-upacara adat seperti Rambu Solo. Tedong yang bonga alias belang bisa dihargai sampai miliaran karena kelangkaannya. Selain bonga, ada syarat-syarat lain yang akan meningkatkan gengsi seekor tedong: Saleppo (bermata putih), bertanduk kuning, memiliki sejumlah pusaran rambut, kombinasi hitam dan merah muda yang ideal.

Itulah pertama kalinya saya melihat begitu banyak kerbau berada dalam satu tempat. Di tempat saya lahir dan dibesarkan di Ranah Minang, juga terdapat banyak kerbau. Namun tersebar di sana-sini, entah di sawah atau di jalanan menjadi tenaga penarik pedati, tidak dikumpulkan di satu tempat untuk dijual seperti di Pasar Bolu ini.

Dari sana, kami menyelinap ke dalam Pasar Bolu untuk membeli kopi toraja. Apalah artinya ke Toraja tanpa membeli kopi? Yang membuat saya terheran-heran adalah ternyata budaya ngopi di Toraja sederhana sekali. Warung kopi tidak banyak. Menyeduhnya pun kalau tidak tubruk, ya, paling cuma disaring. Yang punya alat seduh “urban” seperti V60, french press, aeropress, atau vietnam drip paling cuma kafe yang jumlahnya juga tidak banyak di sini. Kopi diminum sebelum berangkat kerja dan ketika pulang. Jika tidak ada kopi, teh pun tidak apa-apa. Masyarakat Toraja bukan penikmati kopi garis keras.

Maka saya tertegun ketika mendapati bahwa para penjual kopi di Pasar Bolu menggiling kopi hanya dengan mesin sederhana, seperti mesin penggiling beras. Dan harganya luar biasa murah. Dengan 10 atau 20 ribu saya membawa pulang satu kantong kresek besar kopi untuk dibawa ke Jawa.

Gereja Bukit Sion, terletak di puncak bukit, dari sana kita bisa memandang Kota Rantepao/dok. Fuji Adriza

SHARE TO:



Comment :