Kabupaten Timor Tengah Selatan

Ranjau Tanah Benteng Binaus

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

Langit khas pulau timor, yakni dengan biru pekat dan cerah. Pagi ini menyambut saya sebelum naik turun bukit di TTS (dok.pri).
Bahkan embun pun belum mau beranjak dari singgasananya di dedaunan, begitu pula dengan kicauan burung yang saling bersahutan.

Matahari baru saja menampakkan wajahnya dari balik sela-sela daun gewang (Orypha umbraculifera). Kepulan asap dari rumah bulat masih pekat, pertanda makanan masih belum selesai dimasak. Namun kaki ini sudah gatal untuk segera mencari legenda Desa Binaus, Soe, Nusa Tenggara Timur. Jagung rebus dengan campuran kacang turis menjadi bekal sebelum perjalanan panjang ini dimulai. Desa Binaus berjarak sekitar 10 km dari ibu kota TTS alias Timor Tengah Selatan.
 
Perjalanan saya pagi ini sesungguhnya bermula dari sebaris pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam kepala: "Dari mana asal-usul nama Binaus?" Sesepuh adat kemudian menjawab: "Jika ingin tahu asal-usul Binaus, besok kita pergi ke Benteng Binaus." Ajakan menuju benteng seketika saya sanggupi. Pasti ada yang menarik dari legenda Binaus ini. Saya diantar bapak RT di Dusun Tiga, yakni desa paling pinggir yang berjarak sekitar 12 km dari kelurahan. Bersama dua anak dan seekor anjing kesayangannya kami menyusuri jalan setapak. Suasana pagi masih begitu terasa. Bahkan embun pun belum mau beranjak dari singgasananya di dedaunan, begitu pula dengan kicauan burung yang saling bersahutan.
 

13799037741598180904

Benteng Omata adalah persinggahan pertama sebelum masuk di Benteng Binaus. Didirikan tepat di atas bukit, benteng ini menjadi lokasi yang strategis untuk mengamati gerak-gerik musuh.

Jaga, demikian nama anjing milik Pak RT yang mengikuti langkah kami. Tiba-tiba dia menyalak dan menggonggong. Ternyata di hutan ini merumput segerombolan sapi milik warga dusun sebelah yang digembalakan liar di hutan. Bagi warga lokal, ternak sapi biasa dilepasliarkan dan dibiarkan mencari makanan sendiri di hutan.

Bukit tandus berkapur seperti tak ada habis-habisnya. Beberapa lereng tebing nampak longsor sepertinya baru saja terkena luka. Tanah masih muda dan belum ada tumbuhan perintis. Tiba-tiba Otris, anak tertua Pak RT, berteriak. "Awas ranjau tanah!" Dengan sigap saya berhenti.

13799039811081456473

Ranjau tanah, demikan penduduk sekitar menyebutnya. Struktur tanah yang labil menyebabkan terbentuknya rongga dalam tanah yang bisa runtuh setiap saat.

Tentu saja saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ortis kemudian mengambil tongkat dan menusuk-nusukkannya di permukaan tanah yang tandus. Tiba-tiba tanah amblas meninggalkan lobang menganga. Entah apa yang akan terjadi jika saya terperosok ke dalamnya. Saya jadi teringat adegan dalam film Vertical Limit yang mengisahkan pendakian ke puncak K2 dan pendakinya terjebak dalam jurang es yang dalam.

Struktur tanah di Pulau Timor adalah batuan kapur dengan lapisan tanah yang tipis, yang ternyata tidak stabil dan setiap saat bisa saja terjadi pergerakan. Tidak salah jika sering terjadi longsor. Celah atau lubang tanah yang longsor pelan-pelan akan tertutup dan setiap saat bisa saja memangsa siapa saja yang lewat. Penduduk lokal sudah hafal soal lokasi dan ciri-ciri ranjau tanah ini sehingga bisa mengatisipasinya.

13799041841243370499

Salah satu pemandangan yang eksotis dari seberang benteng. Jauh di depan sana tampak Gunung Molo berdiri.

Enam kilometer sudah kami berjalan dan akhirnya tiba di sebuah bukit. Di atas bukit terpancang sebuah patok yang konon adalah peringatan bahwa di bukit ini dilarang melakukan perburuan dan penebangan hutan. Sebuah kesepakatan yang berpihak pada pelestarian lingkungan dan ditaati oleh semua warga.

Dari bukit tersebut saya harus turun melewati lereng yang longsor. Lalu kembali jalan menanjak curam. Kali ini puncak bukit berupa tatanan batu berpola melingkar. Semula saya mengira inilah benteng yang dimaksud. Tebakan saya salah. Ternyata ini adalah benteng Omata, tempat untuk mengintai musuh dari kejauhan sekaligus garis pertahanan pertama. Dari atas benteng ini pandangan sangat luas ke seluruh penjuru mata angin. Strategis sekali untuk kubu pertahanan.

1379904071798429296

Benteng Binaus menjadi kubu pertahanan terakhir di desa ini pada masa lalu.

Perjalanan dilanjutkan dengan turun mengitari benteng. Setelah berjalan dua kilometer dari benteng tersebut barulah saya tiba di Benteng Binaus. Berada di sebuah bukit kapur dengan lereng yang curam, konon tempat ini dahulu digunakan sebagai tempat pengungsian bagi warga. Kaum perempuan dan anak-anak akan tinggal di sini selama masa perang berlangsung sementara kaum lelaki menjalankan tugas sebagai prajurit di Benteng Omata.

Saya jadi bertanya-tanya. Warga di sini berperang dengan siapa? Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana kisah masa lalu. Namun, menurut seorang penutur, zaman dahulu Pulau Timor terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil. Ada tiga kerajaan atau suku di Pulau Timor yaitu Mollo, Amnuban, dan Amnatu. Ketiga suku ini bertikai untuk memperebutkan kekuasaan dan wilayah. Suku Mollo adalah komunitas yang tinggal di Binaus.

Belum mendapatkan jawaban yang memadai untuk pertanyaan saya itu, kami kembali melanjutkan perjalanan mengitari perbukitan. Tidak mungkin kami balik kanan dan kembali pada jalur semula. Kami jalan menuju arah sungai dan berjalan di tepiannya. Tiba-tiba saya dicolek agar menepi di samping undakan-undakan kecil yang tersusun rapi dari batu kali.

13799041381655022868

Makam raja dan tawanan perang yang ada dalam satu kompleks pemakaman.

Mata saya melihat punden-punden terbuat dari batu dan beberapa nisan. Ini adalah makam para penguasa masa silam. Ada sebuah punden besar—nisan raja. Lantas di sekitar pusara raja berserak nisan-nisan tak jelas dengan bentuk tak beraturan. Dituturkan bahwa nisan yang tak jelas itu adalah makam musuh dari kerajaan. Musuh yang tertangkap akan dipenggal kepalanya dan dipersembahkan kepada raja. Tubuh dari para musuh akan dikuburkan dalam posisi berdiri. Demikian kata penutur yang menemani saya. Saya sedikit merinding ketika pulang. Pohon Ficus yang tumbuh lebat menambah seram suasana.

Sejarah panjang masa lalu sepertinya lebih banyak tersirat daripada tersurat. Pada waktu-waktu tertentu terkadang diadakan pertemuan antar para pemangku adat yangg akan saling bertutur mengenai sejarah. Entah sampai kapan sejarah ini akan tetap tersimpan dalam mulut penutur. Tentu saja tuturan akan ditelan usia jika tidak segera disuratkan. Paling tidak terjawab sudah pertanyaan mengenai asal-usul nama Binaus, walaupun harus ditebus dengan berjalan kaki lebih dari 20 km menuju Benteng Omata dan Binaus.


Artikel ini ditulis oleh Dhave Dhanang, dan sebelumnya dimuat di dhave.net.  

SHARE TO:



Comment :