Kota Jakarta Utara

Berkunjung ke Rumah Si Pitung, Robinhood van Batavia

Posted in 06 Oct 2016 by Dhave Dhanang

sipitung 4

Masa kecil Pitung dihabiskan dengan menggembala kambing milik kakeknya. Saat berumur 14 tahun ia dipercaya kakeknya untuk menjual kambing di Pasar Kebayoran.

Di sudut pagar tembok di bawah kerimbunan kanopi Rhizophora apiculata, saya termenung memandang sebuah rumah panggung berwarna merah. Disapu semilirnya angin dan diterangi hangatnya sang surya yang condong ke barat, saya hanya membayangkan bagaimana konspirasi antara Si Pitung dan Haji Saifudin. Ada yang berpendapat bahwa Si Pitung merampok ala Robinhood, sebaliknya ada pula yang beranggapan bahwa kejadian tersebut adalah kerja sama.

Sore ini saya bersama teman merapat ke Marunda di sisi utara Jakarta. Dari kejauhan matahari bersembunyi di balik awan yang entah uap air atau asap polusi. Kami berkendara menyusuri aspal penuh debu. Sedang ada proyek pengerjaan jalan tol memang. Tujuan kami adalah rumah Si Pitung di Kampung Marunda. Si Pitung, seperti yang kamu tahu, adalah sosok legenda di Batavia.

Sepanjang 300 meter kami harus berjalan dari halaman parkir kendaraan menuju sebuah jembatan yang pada akhirnya akan berujung di muara sungai. Di kanan-kiri rumah-rumah penduduk berbentuk panggung, lengkap dengan tambak di sekitarnya. Aroma laut begitu khas—inilah kampung nelayan Marunda.

Sampai di gerbang kami disambut oleh seorang penjaga. Sebuah buku tamu harus kami isi sebelum masuk ke dalam rumah Si Pitung. Dari pelataran gerbang, saya amati bahwa ada tiga bangunan besar berbentuk panggung. Mulailah saya menapaki rumah pertama yang disebut-sebut sebagai rumah Si Pitung.

sipitung 2

Ketika sakratul maut, konon Si Pitung terus-terusan menyanyikan nina bobo. Ia juga minta dibelikan tuak.

Tahun 1866 Si Pitung lahir di Tangerang dari seorang ayah yang berasal dari Kampung Cikoneng dan ibu dari Rawa Belong. Saat berusia delapan tahun Si Pitung harus menerima kenyataan pahit karena ayahnya menikah lagi, sementara ibu kandungnya tidak mau dimadu. Mereka akhirnya berpisah. Ayahnya tetap tinggal di Tangerang, Si Pitung dan ibunya kembali ke Rawa Belong.

Masa kecil Pitung dihabiskan dengan menggembala kambing milik kakeknya. Saat berumur 14 tahun ia dipercaya kakeknya untuk menjual kambing di Pasar Kebayoran. Nasib sial menghampirinya sebab sepulang dari pasar ia dirampok. Karena ketakutan, ia tak berani pulang ke rumah dan lari mengembara.

Dalam pengembaraannya Si Pitung bertemu dengan Naipin, seorang ahli tarekat yang jago silat. Enam tahun lamanya Si Pitung menuntut ilmu hingga terlibat dalam sebuah pemberontakan melawan Belanda yang pada waktu itu menguasai Batavia.

sipitung 3

Di sudut pagar tembok di bawah kerimbunan kanopi Rhizophora apiculata, saya termenung memandang sebuah rumah panggung berwarna merah.

Si Pitung tampil menjadi jawara silat yang tangguh. Bersama sepupunya yakni Ji’ih, ia merampok saudagar-saudagar kaya. Hasil merampok ia gunakan sebagai biaya perjuangan melawan penjajah. Akhirnya Si Pitung harus rela solo karir karena Ji’ih berhasil ditangkap lalu di penjara—dan akhirnya dihukum mati.

Aksi Si Pitung semakin menjadi-jadi. Ia sangat susah untuk ditangkap. Suatu hari Si Pitung pergi ke Kampung Marunda, tepatnya di lokasi saya berdiri sekarang. Rumah ini milik Haji Saifudin seorang saudagar ikan yang kaya raya. Ada yang mengatakan Si Pitung merampok, ada juga yang mengatakan mereka bekerja sama untuk mendanai perjuangan. Justru konspirasi itulah yang menarik. Kini bangunan itu menjadi saksi bisu si Robinhood dari betawi.

Di akhir riwayatnya, Si Pitung jatuh ke tangan Schout Hijne dan pasukannya. Si Pitung dihadang di Pondok Kopi lalu dihujani peluru. Ketika sakratul maut, konon Si Pitung terus-terusan menyanyikan nina bobo. Ia juga minta dibelikan tuak. Belum habis tuak ditenggak, riwayatnya sudah keburu berakhir. Sambil membayangkan kejadian itu saya menuruni anak tangga menuju pintu keluar.

SHARE TO:



Comment :