Kabupaten Gunung Kidul

Brubug, Menikmati Cahaya Surgawi dari Dasar Gua

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

IMG_9072

Tetiba hawa dingin menyeruak dari dasar gua diiringi oleh gemuruh suara air. “Mas! Tarik, Mas. Tarik. Aku tak mampu naik..!” teriak Dian, teman saya yang menjadi orang terakhir saat hendak naik dari dasar Gua Jomblang. Waktu sudah mendekati pukul enam sore ketika itu dan dasar gua sudah gelap gulita. Dian masih bergelantungan 40 meter. Saya teringat pada sebuah cerita bahwa gua ini konon dijadikan tempat penjagalan para korban G30S dan Petrus. Mengherankan. Yang terjadi selanjutnya adalah, bukannya kapok, saya malah mengulangi mampir ke perut bumi melalui Gua Jomblang. Tidak tanggung-tanggung—3 kali!

Mentari baru saja bangkit dari ufuk timur diiringi oleh sahutan burung-burung perkutut peliharaan Pak Brewok. Untuk masuk ke Gua Jomblang, biasanya para penelusur gua akan bermalam sekaligus meminta izin pada Pak Dukuh yang biasa dipanggil Pak Brewok—yang anehnya tidak punya brewok sama sekali. Semalaman kami menginap di rumahnya yang berbentuk limas. Kami tidur hanya beralaskan tikar, itu pun ada yang mendengkur karena begitu nikmatnya.

Rumah Pak Dukuh dan mulut Gua Jomblang terpaut sekitar 2 km dengan melewati perkebunan penduduk. Tidak banyak yang mengunjungi Gua Jomblang karena merupakan objek wisata minat khusus. Gua Jomblang adalah bagi mereka yang penasaran akan dasar gua, serta mereka yang mengkhususkan diri mati-matian berlatih tali temali dan panjat tebing serta melawan fobia ketinggian.

Tali kernmantle sebanyak tiga gulung masing-masing panjangnya 50 meter sudah saya persiapkan di mulut gua. Beberapa teman lain sibuk merangkai cincin kain mereka dalam seat harnes-nya masing-masing. Kali ini saya akan membawa teman-teman yang nyaris sama sekali belum pernah turun gua. Tetapi saya sudah yakin mereka bisa sebab malam sebelumnya telah saya berikan kursus singkat. Saya tidak menyangsikan kemampuan mereka di alam bebas sebagai seorang pelancong yang menjelajah nusantara. Tetapi untuk urusan keselamatan, kali ini saya tidak mau ambil kompromi dan spekulasi.

Saya dan Dian yang sudah terbiasa merayap di tebing memasang beberapa pengaman. Kali ini kami menjadi orang yang benar-benar tidak percaya dan minim akan keyakinan. Beberapa tempat kami pasang pengaman ganda, padahal satu saja sebenarnya sudah cukup. Pengaman terpasang sempurna walau kadang masih 2-3 kali memeriksa kembali apakah sudah terpasang dengan baik dan benar. Perlahan saya tuntun satu per satu teman untuk turun tebing setinggi 40 meter yang dikenal sebagai jalur VIP.

Wajah-wajah keraguan dan kengerian kadang terlihat dari tangan teman-teman yang mencengkeram peralatan dengan erat dan pergerakan yang kaku. Ketegangan saat tubuh sebentar lagi bergelayutan bebas di atas tebing terlihat dengan mengucurnya keringat dan suara yang kadang terbata-bata. Namun, ketegangan itu berangsur berganti menjadi keceriaan saat kaki perlahan-lahan mulai menyentuh dasar gua.

Braaaak!!!” Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari atas tebing. Saya hanya diam terpaku, bertanya-tanya dalam hati benda apakah yang jatuh. Ternyata suara itu berasal dari sebuah kamera seharga 10 juta yang meluncur bebas dari tas dan bertemu dengan dasar gua. Lensa lepas dari body, baterai sudah tercerai dari tempatnya, memory sudah menonjol keluar, kaca pecah berserakan. Batu cadas yang keras baru saja diadu oleh kamera. Kecerobohan saat hendak mengirimkan kamera menuju dasar gua membuat kamera lepas dari ritsleting penutupnya. Kami hanya bisa berkata dalam hati—“untung.. untung.. untung… ”—sebab di dalam tas masih ada beberapa kamera.

Ketika sudah berada di dasar gua, kami berenam perlahan mulai manyusuri lorong gua untuk melihat—katanya, sih—cahaya surga. Mereka yang baru pertama kali masuk mungkin akan terkagum-kagum, tetapi mereka yang sudah biasa masuk-keluar gua barangkali menganggapnya biasa-biasa saja. Jalan setapak yang sudah ditata dengan beton dan diberi tali pandu menuntun rombongan kami menuju perut bumi untuk menuju mulut Gua Brubug berkedalaman sekitar 90-110 meter. Dari kejauhan terdengar suara deras aliran air, sebab di dasar gua terdapat sungai bawah tanah. Cahaya yang semula remang kini berubah gelap gulita, lalu perlahan remahan-remahan cahaya dari Brubug mulai kelihatan.

Sebuah stalagmit besar seperti punden berundak terlihat dari lorong gelap gulita. Gundukan sedimen yang tercipta dari endapan tetesan air itu begitu cantik saat terpapar sinar matahari yang diselimuti uap air. Sangat indah dan elok—inilah alasan mengapa disebut cahaya surga. Inilah yang dicari oleh orang-orang saat memasuki Gua Jomblang.

Bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki kemampuan panjat tebing dan caving? Tidak perlu kawatir. Di dekat Gua Jomblang ada sebuah resort yang bisa membawa kamu untuk melihat cahaya surga tersebut tanpa harus keluar banyak tenaga dan keringat. Cukup siapkan nyali menghadapi ketinggian dan kegelapan—serta uang.

Acapkali saya miris melihat para penggiat alam bebas yang menyampingkan keselamatan demi memuaskan rasa penasaran dan eksistensi. Cap pemberani dan nekat acapkali menjadi pembenaran akan arti sebuah keselamatan. Kenyataannya, bahkan mereka yang benar-benar sudah menyiapkan perlengkapan dan kemampuan dengan matang bisa saja celaka. Apalagi yang hanya modal nekat dan berani.

Aktivitas menyusuri gua memiliki potensi bahaya yang berlipat-lipat. Bahaya tidak hanya bagi para penelusurnya saja tetapi bagi guanya sendiri. Bisa dibayangkan berapa lama alam ini bisa membuat lorong-lorong bawah tanah yang indah dengan ornamen stalaktit dan stalagmitnya. Bisa ratusan bahkan ribuan tahun. Tindakan ceroboh bisa saja menghancurkan mahakarya alam yang berusia ribuan tahun itu. Berpikirlah ulang sebelum menelusuri gua. Sudahkah kamu melengkapi diri dengan pengaman dan pengetahuan? Jika belum lebih baik urungkan niat demi keselamatan.


Artikel ini ditulis oleh Dhave Dhanang dan sebelumnya dipublikasikan di sini.

SHARE TO:



Comment :