Kota Yogyakarta

Candi Barong dan Pitarah Pemuja Dewa Wisnu

Posted in 06 Oct 2016 by Dhave Dhanang

IMG_3720

Bagi pencinta fotografi, candi ini adalah favorit.

Sang surya yang semakin condong ke barat membuat bayangan pohon tampak merenggang. Momen seperti inilah yang ditunggu Om Inu, kenalan baru saya. Ia adalah seorang dokter jiwa yang mengabdikan kepakarannya di salah satu rumah sakit di Magelang. Dengan kamera mirrorless, ia memotret bayangan pohon dan mengombinasikannya dengan latar belakang candi. Sore ini, bersama-sama kami mencoba mengulik kemegahan Candi Barong.

“Dia Mas Wien, dokter kandungan di Panti Rapih Yogya,” ujar Om Inu seraya menunjuk temannya yang sudah sedari tadi berada di pelataran candi.

Candi Barong adalah salah satu nama candi yang kurang familiar di telinga para pelancong. Dalam lembaran buku panduan perjalanan nama candi ini nyaris tidak dapat ditemukan, barangkali karena candi ini belum dipandang memiliki nilai ekonomi. Namun dalam lembaran sejarah candi ini masuk dalam cerita. Candi ini adalah bangunan cagar budaya.

Bagi pencinta fotografi seperti Om Inu dan Om Wien, candi ini adalah favorit. Lihat saja, mereka tampak asyik sekali memutar lensa dan menekan tombol rana. Beberapa candi yang tidak terkenal memang menjadi incaran para fotografer. Alasannya, selain tempat yang menarik, candi-candi kurang terkenal biasanya sepi pengunjung—dan masuknya gratis.

14208623671338325126

Peruntukan Candi Barong adalah sebagai tempat pemujaan kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri, sementara kebanyakan candi Hindu umumnya dibangun untuk memuja dewa Syiwa (Siwaisme).

Sejenak saya menikmati keindahan bagian luar candi yang mirip benteng dengan dinding yang condong ke dalam. Dinding batu yang sudah mulai ditumbuhi lumut berdiri kokoh setinggi paha, tak tergetarkan oleh beberapa pesawat terbang yang mengudara rendah hendak mendarat di Bandar Udara Adisutjipto yang berada di sisi barat candi. Rumput nan hijau dan sangat terawat serta beberapa pohon besar nan rindang membuat candi ini tampak begitu menarik. Mata saya beradu dengan tulisan “pengunjung harap lapor.” Untuk masuk, memang hanya buku tamu yang perlu kami isi, kemudian kami bebas berkeliling mengeksplorasi keunikan candi ini.

Pelataran Candi Barong sangat luas, yakni 90 x 63 meter, hampir seluas lapangan sepak bola. Masuk lewat sisi barat, bayangan saya sore itu mendadak menjadi gagah manakala saya mulai menapaki pelataran candi. Angan saya mulai terbang membayangkan masa lalu candi ini. Kemudian saya berjalan pelan melewati tatanan bebatuan yang tersusun rapi dan menaiki anak tangga untuk menuju pelataran kedua yang berukuran 50 x 50 meter dengan interval ketinggian 3-4 meter. Kaki ini tak sabar untuk menuju teras ketiga yang lebih kecil, 25 x 38 meter, melewati sebuah gapura.

14208624302041316288

Pelataran Candi Barong sangat luas, yakni 90 x 63 meter, hampir seluas lapangan sepak bola.

Menjelang senja, cahaya sang surya merona dan memantul samar di batu-batu penyusun candi. Dari titik tertinggi tampak betapa luasnya halaman candi ini. Pelatarannya menghadap ke barat dengan dua teras yang berundak. Sekilas, apa yang saya pandang seperti teater di Cappadocia, Turki. Sejenak saya melamun, membayangkan diri sedang berada di Turki. Saya terkesiap disadarkan oleh sinar mentari yang tiba-tiba sampai di mata saya. Lamunan saya sirna—saya sedang di candi.

Candi Barong adalah candi Hindu, yang terletak di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Nama Barong diambil sebab di relung tubuh candi terdapat hiasan kala (raksasa). Keberadaan candi ini dituliskan dalam Prasasti Ratu Baka dari 856 M. Dalam bahasa sansekerta diceritakan: “...seorang raja bernama Sri Kumbaja atau Sri Kalasodbhava yang membangun tiga ‘lingga,’ yaitu Krttiwasalingga dengan pendamping Dewi Sri, Tyarbakalingga dengan pendamping Dewi Suralaksmi, dan Haralingga dengan pendamping Dewi Mahalaksmi.”

14208626001498939484

Candi-candi kurang terkenal biasanya sepi pengunjung dan masuknya gratis.

Dalam Prasasti Pereng tertanggal 863 M juga diceritakan: “...pada tahun 784 Saka (860 M) Rakai Walaing Pu Kumbhayoni menganugerahkan sawah dua bukit di Tamwahurang untuk keperluan pemeliharaan bangunan suci Syiwa bernama Bhadraloka. Para ahli berpendapat bahwa Sri Kumbaja atau Sri Kalasodbhava adalah Pu Kumbhayoni dan bangunan Syiwa yang dimaksud adalah Candi Barong.”

Candi Barong sedikit berbeda dari beberapa candi yang ada di sekitarnya. Peruntukan candi ini adalah sebagai tempat pemujaan kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri, sementara kebanyakan candi Hindu umumnya dibangun untuk memuja dewa Syiwa (Siwaisme). “Setiap bangunan candi memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri, walaupun memiliki fungsi yang hampir sama,” kata Om Wien yang menceritakan kepada saya tentang kecintaanya terhadap benda-benda cagar budaya terutama candi. Kami menunggu sore di bawah pohon sembari mendengarkan cerita Om Inu dan Om Wien. Kami seperti para cantrik yang berguru pada seorang begawan kandungan dan pandita orang gila.

14208626749320558

Kami menunggu sore di bawah pohon sembari mendengarkan cerita Om Inu dan Om Wien.

 

SHARE TO:



Comment :