Kota Surakarta

Cerita dari Grebeg Sudiro Solo

Posted in 30 Jan 2017 by Halim San

TLSR-SOLO - Copy

Infografis: telusuRI

Sudah kesekian kalinya Grebeg Sudiro digelar untuk menyambut perayaan Imlek di Kota Solo. Wujud akulturasi budaya ini merupakan perkembangan dari tradisi Tionghoa “Buk Teko” yang semakin meriah. Setiap tahun kirab diramaikan dan didukung oleh lebih banyak peserta, baik dari perwakilan beberapa kelurahan maupun dari luar kota.

Grebeg Sudiro yang selalu meriah dan ramai penonton

Jika di tahun sebelumnya digelar seminggu sebelum Imlek, tahun ini Grebeg Sudiro digelar pada Minggu 15 Februari 2015, empat hari sebelum Imlek. Tapi jalannya kirab masih seperti tahun-tahun sebelumnya, molor dari waktu yang telah ditentukan panitia.

Yuk intip Grebeg Sudiro 2015!

atraksi tahunan yang semakin meriah

padatnya penonton Grebeg Sudiro

Meski jam kirab mundur lebih dari satu jam, penonton masih terlihat setia memenuhi Jalan Urip Sumoharjo menuju Pasar Gede Hardjonagoro. Sebelum acara dimulai, sesekali para peserta kirab juga memamerkan kebolehannya dalam menari, sehingga penonton terhibur. Mereka juga terhibur oleh atraksi yang ditunjukkan oleh para peserta kirab dengan kostum yang beragam warna.

img_8243

Acara sore itu diakhiri dengan berebut gunungan mulai dari bakpao, cakue, buah-buahan, sayur-mayur hingga kue keranjang yang telah dikirab memutari Jend Sudirman, Sudiroprajan, dan Urip Sumoharjo.

Grebeg Sudiro masih menonjolkan Tari Liong dan Barongsai. Beberapa pertunjukan dibawakan dengan apik oleh Akmil TNI-AD yang tergolong masih muda. Bisa dikatakan mereka lebih luwes membawakan tarian dengan modifikasi gerakan Tari Liong dan Barongsai ketimbang anak muda Tionghoa sendiri.

warna warni kostum peserta kirab

pemain tarian Liong di Grebeg Sudiro

cinta tiada akhir, kata Pat Kay

maaf Nik, koko masih ingin sendiri :-P

Memang sudah bukan waktunya lagi membeda-bedakan siapa saya dan siapa kamu, karena kita adalah sama, yaitu makhluk ciptaan Tuhan.

SHARE TO:



Comment :