Kota Magelang

Elo Progo Art House, Romantisme Pertemuan Dua Sungai

Posted in 05 Oct 2016 by Mauren Fitri

IMG_7902

Galeri ini juga sering digunakan untuk pameran lukisan oleh berbagai komunitas dan instansi.

Hujan semalam menyisakan banyak kubangan lumpur pada jalan setapak yang kami lalui. Tanah becek, rerumputan yang masih basah, gemericik air sungai di samping bangunan, hembusan angin malam—mereka berkolaborasi menjadi sebuah melodi yang indah. Malam itu saya tidak melihat-lihat terlalu banyak. Setelah melepaskan ransel dari punggung yang mulai kesakitan, tidur adalah pilihan yang tepat.

Elo Progo Art House, terletak di Dusun Bejen, Desa Wanurejo, Magelang, sekitar tiga kilometer dari areal Candi Borobudur. Diberi nama Elo Progo karena berada tepat di pinggir pertemuan antara Sungai Elo dan Sungai Progo yang masing-masing mengalir dari Gunung Merbabu dan Gunung Sumbing. Elo Progo Art House adalah galeri kesenian milik Soni Arya Santoso, dibangun di atas tanah seluas dua hektare yang rindang oleh pepohonan dan sejuk oleh nuansa Jawa Kuno.

Jika sedang beruntung, kamu akan diajak sang tuan rumah untuk berkeliling Art House. Selepas subuh, kamu bisa menikmati matahari terbit dari depan musala di bagian depan Art House. Menurut saya di sana adalah lokasi yang paling pas untuk menyaksikan semburat langit berwarna jingga dari balik Gunung Merbabu di seberang sungai.

Di bagian belakang Art House ada sebuah galeri yang besar. Di dalam galeri yang sangat luas ini terdapat berbagai macam lukisan karya Pak Soni yang mempunyai ciri khas berupa relief candi. Galeri ini pula yang menjadi tempat beristirahat para pejalan-ransel jika ingin menginap, yang tidur dengan alas seadanya—beberapa membawa kantung tidur, beberapa beralaskan tikar, dan beberapa tidur di atas kursi-kursi panjang yang membujur di sudut-sudut galeri.

Galeri ini juga sering digunakan untuk pameran lukisan oleh berbagai komunitas dan instansi. Kalau sedang tidak ada acara, tidak dipungut HTM untuk berkunjung. Di bagian belakang terdapat tanah lapang yang cukup luas dan sebuah panggung sederhana yang biasa digunakan sebagai pentas dalam penampilan-penampilan kesenian.

Di salah satu sudutnya terdapat bangku-bangku batu tempat orang-orang biasa duduk untuk menikmati pertemuan dua arus sungai besar di Magelang itu. Sungguh romantis. Rasanya sepi membuat kepingan-kepingan damai tercecer di setiap jengkal tanah di sini. Apalagi yang lebih baik dari udara yang segar, gemericik air sungai, kicauan burung di ujung pepohonan, teman-teman baru yang sangat ramah, ditemani beberapa cangkir teh manis hangat dari tuan rumah? Tak heran kalau banyak yang betah berlama-lama di Elo Progo Art House.

SHARE TO:



Comment :