Kabupaten Kulon Progo

Hening di Sendangsono

Posted in 06 Oct 2016 by Dhave Dhanang

sendang sono

Sendangsono adalah mahakarya arsitek, penulis, dan rohaniwan kondang, yaitu Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau yang lebih dikenal sebagai Romo Mangun.

Mereka rela jauh-jauh datang, lalu sujud berdoa dan tidak lupa mengambil air di bawah pohon sono yang terletak tepat di pinggir sungai. Tempat ini menjadi begitu penuh aura spiritual saat doa dan pujian dilantunkan. Semua bersimpuh dan berserah untuk menaikkan untaian permohonan di depan patung Bunda Maria. Inilah mata air di bawah pohon sono, yang dikenal sebagai Sendangsono.

Gua Maria Sendangsono Terletak di Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, DIY. Sebuah pintu gerbang menyambut dengan tatanan pagar yang menarik. Tata ruang yang bagus untuk tempat peribadatan. Untuk kamu yang belum tahu, Sendangsono adalah mahakarya arsitek, penulis, dan rohaniwan kondang, yaitu Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau yang lebih dikenal sebagai Romo Mangun.

Saya tertarik pada jajaran keran-keran air yang terletak di bawah pohon sono. Inilah yang membuat tempat ini dinamakan Sendangsono. Cikal bakal tempat ziarah ini memiliki cerita yang panjang sebelum bertransformasi menjadi bangunan megah ini, sejarah masa lalu yang menggambarkan betapa sakralnya tempat ini sehingga menjadi tempat yang dianggap memiliki kekuatan spiritual.

sendang sono 3

Dahulu mata air ini menjadi tempat peristirahatan para bikhu yang hendak menuju daerah Boro di selatan Sendangsono.

Dahulu mata air ini menjadi tempat peristirahatan para bikhu yang hendak menuju daerah Boro di selatan Sendangsono. Tanggal 20 Mei 1904 datanglah pastur Van Lith yang kemudian membaptis warga Kalibawang di tempat ini. Tempat ini menjadi tempat pelayanan Barnabas Sarikromo yang diangkat menjadi katekis pertama. Dia adalah sahabat Romo Van Lith yang dulunya, ketika menderita sebuah penyakit, datang pada Romo dari Belanda itu. Keajaiban pun terjadi—penyakitnya sembuh. Ia pun mengabdikan diri sepenuhnya pada pelayanan.

Tidak hanya umat Kristiani saja yang datang ke tempat ini. Mata air Sendangsono menjadi milik siapa saja yang membutuhkan. Banyak yang mengambil airnya untuk dibawa pulang dengan beragam kepentingan. Keran-keran air yang sudah tersedia memudahkan para pengunjung untuk mengambilnya. Lebihi dari itu, rasa hening dan teduh benar-benar terasa di Sendangsono. Mungkin itu alasannya kenapa di setiap sudut kompleks ini ada saja orang yang sedang menempati, barangkali untuk sesaat hening demi menemukan kedamaian hati.

SHARE TO:



Comment :