Kabupaten Flores Timur

Hobbit dari Flores

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

IMG_9696

Homo floresiensis, para Hobbit dari Flores, telah mengubah peta sejarah peradaban purba dunia.

Awal dekade ‘90-an, pada hari-hari tertentu di kampung halaman saya ada pertunjukan layar tancap. Tontonan film laga yang dibintangi oleh Barry Prima dan Goerge Rudy atau film komedi ala Warkop DKI disajikan secara gratis. Namun dari kenangan tersebut bukan filmnya yang saya ingat, melainkan tayangan saat jeda antargulungan film. Tayangan tersebut adalah iklan minuman anggur yang baik untuk kesehatan, yang di dalamnya orang-orang kerdil berlari-lari ke sana kemari membawa botol. Lalu bertahun-tahun kemudian film The Hobbit dirilis. Lantas saya bertanya-tanya dalam hati: “Apakah ada manusia seperti itu di dunia nyata? Atau jangan-jangan hanya dalam film belaka.”

1367392593213953454

Di Gua Liang Bua inilah kerangka hobbit dari Flores ditemukan. (dok. Wahyu Saptomo)

Kemudian tahun 2004 dunia digemparkan oleh sebuah publikasi mengenai Manusia Flores. Publikasi yang dilakukan di Australia ini cukup mengguncang dunia paleoantropologi. Manusia Flores atau Homo floresiensis adalah kerangka yang ditemukan di sebuah Gua di Nusa Tenggara Timur.

Kerangka yang diberi label LB1 ini digali di mulut Gua Liang Bua. Gua yang secara harafiah artinya gua yang dingin ini ternyata menyimpan misteri kehidupan manusia masa lalu. Kerangka ini semula dikira primata, sebab tinggi badannya hanya 106 cm dengan volume otak sebesar 380 cc—volume otak simpanse saja mencapai 450 cc. Para ilmuwan menganggap bahwa tidak mungkin itu manusia sebab manusia memiliki volume otak antara 1.000-1.400 cc. Berbagai argumen pun bermunculan. Ada yang mengatakan itu manusia yang mengerdil, ada pula yang mengatakan fenomena tersebut diakibatkan oleh penyakit, namun ada juga yang berpendapat bahwa itu adalah spesies baru.

13673926972070123377

Arkeolog Wahyu Saptomo sedang memberikan penjelasan mengenai Homo floresiensis. (dok.pri)

Pertanyaan saya terjawab ketika pada akhirnya saya bertemu dengan Wahyu Saptomo, arkeolog Pusat Arkeologi Nasional yang juga ilmuwan penemu Homo floresiensis. Selama beberapa tahun mengadakan ekskavasi di Liang Bua, sudah banyak temuan yang didapatkan, seperti tulang tikus raksasa, gajah purba (Stegodon), bangau raksasa, dan beberapa jenis hewan lainnya. Yang paling menarik adalah penemuan Hobbit dari tanah flores. Bersama tim dari Australia, Wahyu Saptomo merupakan salah seorang anggota dari tim yang menemukan Homo floresiensis. Hasil temuannya kemudian dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional, antara lain Nature Vol. 431, 28 Oktober 2004 (A new small-bodied hominin from the Late Pleistocene of Flores, Indonesia), majalah Science 317 (2007) (The Primitive Wrist of Homo floresiensis and Its Implications for Hominin Evolution), serta di PNAS.

136739281559387688

Ukuran tengkorak H. floresiensis dibandingkan dengan telapak tangan orang dewasa. (dok. Wahyu Saptomo)

Gambar kepala Homo floresiensis seukuran telapak tangan orang dewasa sempat diperlihatkan pada saya. Meskipun secara morfologi mirip tengkorak manusia, saya tak mampu membayangkan ukuran sebenarnya seperti apa. Akhirnya pertanyaan tersebut terjawab saat saya berkunjung ke Museum Purbakala Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Di sana ada rekonstruksi Homo Floresiensis dari silikon yang dipesan langsung dari Perancis. Rerata tinggi Manusia Flores ternyata hanya sekitar satu meter.

Coba bayangkan adegan ini. Di Flores masa silam, 18.000-30.000 tahun, para Hobbit berkeliaran ke sana kemari untuk mencari makan. Di Liang Bua juga terdapat rangka-rangka hewan purba yang diperkirakan menjadi buruan Homo floresiensis. Barangkali dahulu mereka memang sudah tinggal menetap dan mencari makan dengan cara berburu dan meramu. Letak geografis Liang Bua yang dekat dengan sungai dan lahannya yang subur menjadikan gua ini sebagai lokasi hunian yang cocok bagi mereka.

1367392930860706645

Replika Homo floresiensis (depan) dan Sangiran 17 (belakang) yang dipamerkan di Museum Purbakala Sangiran. (dok.pri)

Homo floresiensis, para Hobbit dari Flores, telah mengubah peta sejarah peradaban purba dunia. Untuk mengurai misterinya, hingga kini kerangka purba Liang Bua itu masih terus dikaji dan diteliti—yang sebelumnya sudah diawali oleh seorang pastur. Barangkali kita boleh berbangga bahwa sejak zaman purba sudah ada sekelompok manusia yang mendiami tanah air kita tercinta ini.

SHARE TO:



Comment :