Kabupaten Sumbawa Barat

Jejak Mungil Tukik di Pantai Maluk

Posted in 07 Oct 2016 by Dhave Dhanang

Jejak-jejak tukik di pantai Maluk - Sumbawa. Paling cepat dia akan kembali sekitar 10tahunlagi setelah berjulang lolos dari peluang hidup 1:1.000. Minimal dia sudah meninggalkan jejak.

Paling cepat tukik-tukik di Pantai Maluk, Sumbawa, akan kembali sekitar 10 tahun lagi setelah berjuang untuk lolos dari peluang hidup 1:1.000.

Ketika salah seorang teman saya sumringah melihat hasil USG istrinya yang sedang hamil tua—calon jabang bayi, berdasarkan hasil cetak foto scan 3D, ternyata laki-laki—para ilmuwan kelautan di penjuru bumi justru gelisah ketika tahu bahwa calon bayi penyu akan didominasi oleh betina. Penyebabnya apa lagi kalau bukan perubahan suhu dunia akibat pemanasan global. Penyu memang unik sebab jenis kelamin tukik juga ditentukan oleh naik turunnya suhu.

Di Pantai Maluk, Sumbawa, jangankan memikirkan jenis kelamin penyu, angka telur menetas saja sudah menjadi sebuah prestasi. Arifin Rayes, yang bertanggung jawab terhadap penangkaran penyu di Pantai maluk dan bekerja sama dengan PT Newmont Nusa Tenggara, memberikan banyak informasi mengenai keunikan mahluk melata yang hidup di laut ini. Penyu tidak berubah sejak jaman purbakala. Reptil yang dulu hidup berdampingan dengan dinosaurus ini kini menghadapi ancaman, tak hanya alam tetapi juga predator bernama manusia. Hewan yang mampu hidup secara terestrial ataupun akuatik ini bisa hidup selama puluhan tahun, bahkan ratusan tahun. Inilah salah satu kehebatan hewan bercangkang, yakni memiliki rentang umur yang panjang meskipun kemungkinan untuk bertahan hanya 1 dari 1.000.

Siklus hidup penyu.

Siklus hidup penyu: A. Penyu bertelur; B. Induk penyu akan kembali ke lautan; C. Tukik yang menetas akan mengarungi lautan; D. Tukik yang berhasil bertahan hidup akan mengarungi lautan hampir satu dekade menjadi penyu dewasa; E. Penyu yang secara seksual sudah matang akan mencari pasangan; F. Penyu betina akan kawin dengan beberapa pejantan untuk memperbesar peluang pembuahan; G. Penyu jantan akan kembali ke lautan; H. Penyu betina akan homing natal untuk bertelur. Sumber: www.seaturtlestatus.com.

Sebanyak 50-200 telur akan dikeluarkan dalam sekali proses persalinan. Indukan yang siap bertelur akan homing natal, yakni kembali ke lokasi di mana dia dilahirkan. Bagaimana mereka mengetahui tempat asalnya, tak ada yang bisa memastikan secara ilmiah. Hewan secara naluri memiliki kemampuan ekolokasi, yakni mengenali daerahnya untuk navigasi. Ada yang mengatakan kemampuan ini berdasarkan magnet bumi, seperti kompas, ada juga yang mengatkan hewan memiliki daya ingat yang kuat tentang lokasi tertentu agar tidak tersesat. Homing nantal dilakukan pada malam hari untuk menghindari predator diurnal. Sesampai di bibir pantai penyu akan pergi ke kawasan berpasir.

Dengan lengannya dia akan menggali sarang sedalam 0,5-1 meter. Usai itu dia kemudian bertelur. Telur-telur tersebut akan diletakkan pada lubang yang sama dengan kisaran 50-200 butir. Usai bertelur, induk akan menutup lubang dan membuat beberapa sarang sebagai kamuflase. Setelah itu induk akan pergi dan alam akan mengerami telur-telur tersebut selama 40-70 hari. Ada fenomena yang unik manakala telur penyu tidak memiliki kromosom sex seperti hewan reptil lainnya—buaya, ular, biawak—yang telur-telurnya tidak jelas jenis kelaminnya. Suhu pengeraman telur di dalam timbunan pasir berkisar 28-29 derajat celcius. Apa yang terjadi jika suhunya berubah? Yang terjadi adalah pembentukan jenis kelamin. Jika suhu kurang dari suhu kisaran maka akan menetas dengan jenis kelamin jantan, dan jika suhunya lebih akan didominasi oleh betina. Perubahan suhu lingkungan inilah yang dikhawatirkan para ahli lingkungan. Pada saat suhu normal, angka menetas jantan dan betina akan seimbang. Jika suhu berubah, jenis kelamin tetasan akan didominasi oleh salah satu jenis kelamin dan bisa menimbulkan ketimpangan alam.

Waktu penetasan akhirnya tiba. Jabang bayi alias tukik akan berusaha keluar dari cangkang dan timbunan pasir. Kuning telur yang masih menempel di plasenta dan tubuh tukik akan menjadi sumber makanan selama bertahan hidup di darat. Usai keluar dari timbunan pasir adalah langkah awal tukik untuk sebuah perjalanan yang jauh. Mengarungi hamparan pasir bukan perkara yang mudah karena dia harus mencari tepian pantai. Tahap inilah yang membentuk naluri ekolokasi yang akan bermanfaat bagi para betina yang akan melakukan homing natal nantinya

Puembudidaya rumput laut menganggap penyu menjadi hama, karena memakan rumput laut.

Pengrajin rumput laut menganggap penyu sebagai hama karena memakan rumput laut.

Periode awal tahun adalah masa yang berat bagi sang tukik yang harus bertahan hidup di alam liar. Predator alaminya seperti kepiting, ikan, hiu, elang, dan lain sebagainya adalah ancaman sekaligus seleksi alamnya. Saat ukuran cangkangnya selebar piring, barulah penyu muda ini mencapai masa aman dari predator. Penyu adalah hewan omnivora, yakni pemakan segala. Apapun akan dia makan. Ikan-ikan kecil, alga, lamun, karang, krustasea, hingga ubur-ubur bersengat mematikan akan dilahapnya. Sialnya, terkadang penyu keliru membedakan antara ubur-ubur dan plastik transparan, sehingga menemui celaka saat memakan sampah manusia tersebut.

Penyu sebagai salah satu bagian ekosistem alam memiliki peran ekologis yang tak berbeda jauh dari organisme lain. Penyu menjadi penyeimbang saat sebuah ekosistem mengalami ketimpangan. Namun, kadang keberadan penyu menjadi ketimpangan bagi manusia. Para pengrajin rumput laut kadang resah dengan kehadiran penyu, karena rumput laut adalah makanan istimewa bagi reptil bercangkang ini. Hukum rimba berlaku di sini—siapa yang kuat dialah yang akan menindas. Tentu saja penyu yang akan menjadi korbannya. Selama satu dekade penyu akan melakukan perjalanan jauh, ribuan kilometer. Masa-masa inilah yang disebut sebagai tahun yang hilang. Disebut demikian karena dia benar-benar menghilang di lautan lepas dan berkelana menjelajah samudra. Menjelang usia seksual yang matang, sekitar 10 tahun, mereka akan mencari pasangan. Biasanya penyu betina akan kawin dengan beberapa penyu jantan agar sel sperma optimal membuahi sel telurnya. Kemudian pasangan ini akan mendekati pesisir pantai untuk mencari tempat bertelur. Masa homing natal pun dimulai. Siklus ini akan terus berputar sampai generasi-generasi selanjutnya.

Perjalanan panjang tukik untuk mengarungi lautan.

Perjalanan panjang tukik untuk mengarungi lautan.

Hari ini saya melepas seekor tukik di Pantai Maluk, Sumbawa. Seekor tukik akan berjibaku dengan peluang 1:1.000 agar kelak sepuluh tahun lagi bisa mudik untuk bertelur—jika betina. Sebuah peluang yang kemungkinannya kecil. Tetapi alam tetap memberikan peluang dari yang tidak mungkin menjadi mungkin. Itulah sebabnya ada organisme yang regenerasinya sangat banyak jumlahnya—50-200 ekor sekali bertelur, dua kali dalam setahun. Jika dihitung matematis 1:1.000 maka dibutuhkan lima periode bertelur atau sekitar 2,5 tahun untuk menciptakan satu generasi. Bisa dibayangkan betapa ketatnya seleksi alam mereka. Setelah keluar dari lubang jarum peluang untuk bertahan, setelah menempuh ribuan kilometer, sepuluh tahun lagi salah satu dari mereka akan kembali ke tanah kelahiran.


Artikel ini ditulis oleh Dhave Dhanang dan sebelumnya dipublikasikan di blog pribadi Dhave.

SHARE TO:



Comment :