Loading Posts...

Sebagaimana namanya, Malang dikelilingi barisan gunung yang berjejeran membentuk benteng pertahanan. Hutan berhamburan dan sungai membentang membelah kota. Tak heran penyelenggara memilih salah satu bumi perkemahan di Kabupaten Malang, Buper Bendosari, sebagai tempat berkumpulnya para petualang dalam acara bertajuk Temu Pejalan Malang #5 pada 15-16 April 2017 kemarin.

Pukul 7 malam saya dan Janatan Ginting yang kali ini akan jadi pembicara tiba di lokasi acara. Belum tampak para peserta yang berniat hadir untuk mendengarkan ceramah Janatan tentang pendakian tujuh puncak tertinggi di dunia, atau biasa orang sebut Seven Summits.

Beberapa tenda telah berdiri, tapi hanya diisi segelintir orang. Panitia tampak sibuk memasang banner di antara pohon cemara yang tinggi menjulang. Sisanya tengah asyik memasak air untuk menghangatkan badan.

“Sebenernya belum banyak yang tahu tempat ini, soalnya emang baru dibuka dan dikelola sama warga.” Rizki mencoba menenangkan kami yang sudah tak sabar menunggu kedatangan peserta yang lain. Tapi, sebagai tempat yang baru dikelola, bumi perkemahan ini cukup lengkap. Kamar mandi dan lampu penerangan sudah tersedia di sini.

Suasana bincang-bincang di Temu Pejalan Malang via BPI Malang

Jelang tengah malam belasan motor datang menembus dinginnya pegunungan. Panitia kembali menggelar matras dan mengecek pengeras suara.

Jam 10 malam Temu Pejalan Malang #5 dimulai. Saya membuka acara dengan memberikan gambaran umum soal TelusuRI, kemudian disusul Ayos sebagai moderator dan Janatan sebagai pembicara utama. Sebuah video singkat tentang pendakian 7 puncak dunia menyingkap betapa beratnya persiapan hingga pendakian gunung-gunung bersalju di dunia.

Dari ketujuh gunung itu, Aconcagua meninggalkan kesan tersendiri pada Janatan. “Jadi ada kesan yang berbeda kalau naik Aconcagua … kita udah di-judge sejak awal pendakian. Misal kita berempat, nih. Yang paling kuat ‘kan Broery [Broery Sihombing]. Yah, Broery kamu bisa sampai puncak. Sofyan [Sofyan Fesa] kamu bisa sampai Camp 3. Frans [Xaverius Frans] sampai Camp 2. Janatan kamu gak bisa. Jadi saya diperiksa. Di paru-paru ada suara krok-krok gitu kalo bernapas. Nah, itu katanya gejala AMS (Acute Mountain Sickness), gak boleh naik, kalo naik berbahaya. Frans keesokannya diperiksa boleh naik, saya tetap gak boleh.

BACA JUGA  5 Acara Asyik di Bulan Juli

“Jadi mesti [kondisi psikis saya] nge-drop ya, Mas. Gunung-gunung berikutnya pasti gak lanjut lagi, ‘kan. Akhirnya saya tetep di basecamp. Setelah temen-temen turun dari puncak, ada kabar dari Bandung. ‘Kamu masih pengen naik, gak? Kondisinya sebenernya gimana, sih?’ [Saya jawab] Kalo dokter gak boleh. Saya bilang kondisi fisik sama sekali gak ada masalah. ‘Kalau gitu kita planing lagi. Kita turun ke kota. Ganti provider agen pendakian.’ Saya naik lagi tapi open trip sama temen-temen yang lain. Akhirnya bisa,” ujar anggota Mahitala Universitas Katolik Parahyangan ini panjang lebar.

Jika mendaki gunung-gunung strato di Indonesia saja yang tidak terlalu tinggi terkadang susah, saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya mendaki gunung es. Jalur ekstremnya tentu hanya bisa dilalui oleh orang-orang bermental kuat.

Janatan Ginting sedang menceritakan petualangan-petualangannya via BPI Malang

Lalu Janatan bercerita tentang pendakiannya ke Gunung Elbrus di Rusia. Selain rintangan medan, kendala perbedaan budaya—terutama bahasa—ketika mendaki puncak tertinggi di bekas Uni Soviet itu juga mempengaruhi jalannya pendakian. Namun, lucunya, justru kendala bahasa inilah yang membuat tim Indonesia ‘keliru’ memilih jalur baru yang kemudian dinamakan sebagai Indonesian Route oleh para rescuer Elbrus.

Beberapa pertanyaan juga dilemparkan kepada para peserta, termasuk Sungex, salah satu anggota Komunitas Backpacker Malang Raya, “Biasanya yang terakhir itu yang paling berkesan, kenapa mendaki Everest dulu baru Denali?”

Seraya mengingat pendakian enam tahun silam, Janatan kemudian menjawab, “Jadi itu salah satu strategi yang kita bikin. Kalau misal kita naik Denali dulu baru Everest, itu beresnya tahun berikutnya, bulan Mei 2012. Sedangkan kalau mau cepet, kita bereskan Everest dulu baru Denali. Kalau naik gunung beda-beda musimnya. Everest pertengahan tahun, Denali juga tengah tahun tapi bulan Juni – Agustus. Everest itu Maret – Mei. Kalau kita naik Denali dulu bulan Juli, berarti Everestnya tahun depan. Di sini kita konsultasi dengan Hiro [konsultan pendakian—peny.], itu sangat bermanfaat. Pas kita baru turun dari Everest, kita pengen istirahat, Hiro bilang: udah naik aja Denali langsung. Soalnya masih fit, kondisi fisiknya masih oke. Jadi gak perlu aklimatisasi lagi. Jadi emang masalah musim, sih, Mas. Untuk menghemat waktu dan biaya.”

BACA JUGA  Sekolah TelusuRI Jogja

Hari telah berganti, baru kali ini saya terlena oleh waktu karena mendengar kisah yang langka dan menarik ini. Saya mengamati ekspresi penasaran dari raut muka para peserta Temu Pejalan, atau gelisah menunggu panitia menyudahi acara. Mungkin mereka menyumpahi agar moderator beku kedinginan, lalu selesai. Tak lama, Ayos menutup acara malam itu. Para murid terlihat kecewa. Rupanya mereka merasakan pula apa yang saya rasakan. Kisah pendakian ke gunung-gunung es ini sangat menarik.

Foto bersama di akhir acara via BPI Malang

Bagi saya, pendakian puncak-puncak tertinggi di dunia oleh Janatan Ginting telah menjadi cambuk bagi petualang-petualang di Indonesia. Bahwa dalam meraih puncak tertinggi dibutuhkan kemampuan terbaik. Namun masih banyak “puncak” di sekitar kita yang harus didaki—melestarikan lingkungan, menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat, dan menyejahterakan seluruh umat manusia.

Sudah pasti akan ada banyak badai dalam pendakian, juga longsoran salju dan lereng yang terjal. Di Indonesia, perlahan-lahan tapi mantap, selangkah demi selangkah, semua dari kita mesti mengatasi masalah tersebut dan menggapai puncak. Jadi, ayo telusuri Indonesia!

Ingin KesanaIngin Kesana
Sudah Kesana!Sudah Kesana!
Belum KesanaBelum Kesana
Voted Thanks!

Related Post

Ridho Mukti

Ridho Mukti

ridhomukti.com

Leave a Comment

Loading Posts...